Kegagalan Itu Bernama

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan; entah gagal dalam pendidikannya, kariernya, keluarganya, percintaan bahkan mungkin gagal dalam menerima dirinya sendiri. Seiring bertambahnya usia, bertambah pula kegagalan; tanpa disadari, kegagalan membuat seseorang menjadi berubah –entah menjadi lebih baik, atau sebaliknya–. Kepercayaan diri akan mulai mengikis tak hanya pada kepercayaan dirinya, tapi juga jiwanya. Beberapa di antaranya, kegagalan akan menghancurkan diri mereka secara perlahan. Bagi yang tak kuat, beberapa akan memilih untuk menjerat leher mereka untuk berhenti saja bernapas. Tapi apakah kematian akan menyelesaikan masalah? Akankah kematian membuat kegagalan mengubah nama?

Kita mungkin saja bisa kehilangan kepercayaan diri, tapi setidaknya kita tak bisa kehilangan kepercayaan akan Tuhan. Dengan mempercayai keberadaan Tuhan, bagi saya, merupakan kepercayaan bahwa kegagalan hanya sebuah jalan yang harus saya tempuh, agar bisa diarahkan olehNya ke tujuan yang lebih baik.

Mungkin di antara kita akan merasa tidak cantik atau tampan, tidak berpendidikan dengan baik, tidak memiliki kekayaan, tidak punya pekerjaan -yang layak atau tak ada sama sekali-, atau bahkan tidak memiliki keluarga yang bahagia seperti keluarga lainnya; ialah hanya beberapa faktor sebuah kegagalan tercipta. Jika sesuatu tak mampu kita ubah, bukankah lebih bijaksana untuk kita mengubah pola pikir yang ada?

Saya selalu mengatakan ratusan kali perihal perbaikan diri di twitter, dan mungkin, kalian sudah sangat bosan membacanya. Tapi bukankah itu yaang terbaik yang bisa kita lakukan? Kita tak perlu memperbaiki dunia, kita hanya perlu memperbaiki diri kita dan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Sebuah kegagalan tak selalu berarti kegagalan.

Newton pernah mengatakan dalam hukumnya yang pertama, “Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et fieri secundum lineam rectam qua vis illa imprimitur.
(Percepatan sebuah benda berbanding terbalik dengan massanya dan sebanding dengan resultan gaya (gaya eksternal neto) yang bekerja padanya)
”. Untuk bisa melompat lebih tinggi, barangkali kita memang sudah seharusnya untuk turun ke titik terbawah. Kegagalan tak ubahnya sebuah gaya yang akan menjadi pegas di kehidupan kita. Lalu jika kita melompat lebih tinggi, bukankah akan terjatuh juga kemudian? Tentu saja. Tapi bukankan kita pernah terjatuh sebelumnya? Akankah kita terjatuh pada rasa sakit yang sama? Tidakkan kita belajar dari kejatuhan sebelumnya?

Dan apa yang akan membuat kegagalan berbeda pada masing-masing orang? Ialah cara bagaimana kita menghadapi kegagalan itu sendiri. Bagi saya, menggambar adalah salah satu upaya membuat saya merasa lebih baik terhadap diri saya sendiri, dan kegagalan hanyalah sebuah pegas kehidupan. Saya menyukai pekerjaan ini bukan hanya karena mampu menghidupi diri saya sendiri, tapi lebih dari itu, menggambar mampu membuat saya merasa saya berarti bagi hidup ini. Membahagiakan seseorang melalui sebuah gambar, vice versa. Dan saya rasa, apa yang saya cintai, mampu membuat saya merasa dicintai; sesederhana apapun itu, berdampak besar bagi siapapun yang melihatnya dengan isi kepala dan hati yang ikhlas menerima.

Saya harap, kita ialah sebagian orang yang mampu mengatasi kegagalan dengan cara terbaik yang mampu kita lakukan. Mungkin bisa dimulai, dengan melakukan apa yang kita cintai dan mendedikasikan diri terhadap hal itu tak hanya untuk menjadi lebih baik, tapi untuk merasa diri lebih berarti.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 24,754 other followers