Memanggilmu Seorang Sahabat

: Rayza Ruben

Tiga belas tahun atau jutaan tahun, dan kita tak begitu fasih menghitung; perihal berapa banyak air mata yang menjadi senyuman, atau berapa banyak kehidupan yang berhasil kita takhlukan dalam pelukan. Barangkali, tiga belas tahun yang lalupun bukan kali pertama pertemuan, sebab kita telah berulang kali menenun langit untuk kembali pulang.

Katakan pada semesta,

Kita ialah sebab airmata jatuh dalam keindahan, dan tak ada keinginan yang mati terpenggal hanya karena samudra tak lagi berwarna jingga. Kita ialah legenda yang tak lagi diceritakan para orangtua kepada anak mereka, sebab kita berhasil berpijak pada jiwa yang sama; kau dan aku, masih saling mengenal meski dengan raga yang berbeda.

Tak ada hutan yang menyesatkan, sayang.

Terkadang, tempat yang paling menakutkan ialah kepala kita. Di mana pertanyaan menyisir deru ombak-ombak, yang membuat kepalan tak lagi menggenggam. Di mana hantu-hantu tak lagi bernama, sebab kau mencari bayang-bayang dengan gelisah di dada.

Aku pernah melihatmu menggigil ketakutan, meneriakkan luka pada dialog-dialog paling malam. Bagiku, sayatan terdalam ialah melihat airmatamu tumpah di teras keterasingan. Kau tahu aku selalu ada, meski hanya doa yang menjadi pelukan. Dan kita tak perlu saling menjual kesedihan, untuk membuat masing-masing kita tinggal lebih lama.

Kau yang paling memahami gulita di bisingnya tawaku, di antara tahun-tahun lelah yang berkepanjangan. Kau adalah kepala yang kulupakan, saat hatiku lebih bertahta pada keputusasaan. Terima kasih untuk percaya yang tak pernah kupinta, terima kasih untuk selalu mengupayakan dirimu bahagia. Tuhan tahu, aku meminta agar kau selalu dalam dekapan semesta. Tuhan tahu, bahagiamu ialah segala yang kupinta. Tuhan tahu, aku menyayangimu sepanjang usia jiwa kita. Dan Tuhan tahu, aku akan selalu bangga memanggilmu seorang sahabat.

 

Selamat bertambah usia, Sasha sayang.