Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Peluhnya lelah, kaki pun mulai melemah. Kembali ia pun berserah. Mungkin baiknya kita berhenti dulu sejenak. Lepaskan penat yang menggoda seluruh pendapat. Kemudian beranjak kemana seharusnya berpijak.

Angin menghampirinya, tawarkan kesejukan sementara. Lalu ia memandang kembali harapan belantara. Begitu liar, semua yang terhampar. Ia tertegun saat menemukan sang waktu di hadapannya.

Semakin melayang seiring jalan.

“Aku lelah, bolehkan aku berhenti sebentar dan nikmati angin yang menggodaku ini?” keluhnya seraya meminta kepada sang waktu.

“Aku akan terus bersamamu. Tapi maaf, aku tidak bisa menunggumu. Ketika aku telah pergi, kau tidak akan dapat memintaku kembali” jawab sang waktu.

Ia tersadar, apa yang dikatakan oleh sang waktu benar. Meskipun ia coba tuk menghindar, waktu kan terus memudar.

“Tapi bagaimana aku bisa terus berjalan, jika kakiku mulai melemah?” tanyanya lagi.

“Jika kakimu mulai melemah, setidaknya kuatkanlah hatimu. Ia akan membantumu. Percayalah.” sang waktu tersenyum dan terhempas bersama angin.

Seketika, apa yang baru saja sang waktu katakan tentang waktu benar adanya. Sang waktu seketika pergi, ia berusaha mencari dan tak ada lagi.

Bergegas ia kuatkan hati seraya berdoa.
Memperkosa stigma kelemahan dengan tujuan yang merambat ke hati, memperkuat dengan cepat. Sekali lagi ia lihat harapan belantara dihadapannya. Hatinya telah kuat, meskipun dengan kaki yang melemah. Ia tak perduli lagi. Beranjak dari keterpurukan dengan kelemahan, meskipun berat ia tetap mencoba.

Kaki yang melemahpun tak jadi masalah, karena ia percaya.

Ia punya tujuan akan pengharapan.