Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kelas berakhir cepat, tepat seperti perkiraan. Bergegas kuarahkan mobilku menuju ke tempat yang belum tentu kutahu di mana. Yang kutahu, kau di sana.

Bekalku hanya ingin, dibantu kila arah yang kukenali.

Detak jantung berdetak kencang tak karuan, tahu aku tak miliki haluan. Entahlah, mungkin karena langkah berseru-seruan, mencari tempat tujuan.  Sesampainya, gerbang berwarna hijau kebiruan itu tampak sedikit terbuka, lega hati tak terkunci. Sayang, aku datang, ucapku dalam hati. Langkahku melambat, ada pendapat terjebak singkat.

Gesekan sapu ijuk dengan dahan kering meretas hening, sore itu.

Seorang pria tua, dengan sapu di tangan. Keringat bercecer di antar keriput mengaliri mengikuti kedua matanya. Menyapu sebagian halaman, tanpa keluh akan derita nyata.

Ragu, namun tetap kupaksakan bertanya tuk sekedar mengetahui keberadaanmu kini. Telunjuknya menunjuk 20 meter ke arah barat, di mana singgasana terakhir yang kau diami. Jantungku berdetak, semakin kencang, tak karuan, tak berirama. Hanya peluh nafas semakin keras kudengar. Mataku semakin liar mencari.

Langkahku terhenti, saat namamu kudapati.

Bibirku ulaskan senyum kebahagiaan menemukanmu di sini, namun nanar mataku tak membenarkan. Nisan kayu hanya sekedar tuk tuliskan nama, nyatanya mampu mematahkan sangkar rusuk beserta isinya yang menjadi pusat gravitasi tuk nalar dan naluriku. Seketika, jantung berhenti berdetak pun nafas semakin sesak. Egoku terlalu lemah tuk menahan air mata kesedihan tuk sebuah kehilangan. Menangisi hati yang tak lagi berdetak, bibir yang tak lagi berucap pun pelukan yang (pernah) menghangatkan amarah, aku tahu itu hanyalah sia-sia. Tak mengapa, selama kau ada tuk sekedar mendengar. Ada hati yang ingin kubicarakan.

“Sayang, aku datang.”

Image

Seperti yang kujanjikan terdahulu

Saat bumi bersinarkan cahaya terang, dengan bunga di sekitaran

Aku akan datang