Alkisah seorang gadis kecil yang pernah mencintai sepenuh hati namun terkhianati dan ditinggal pergi. Yang kemudian perlahan mati karena dirinya sendiri.

Ia hanyalah gadis bodoh yang hidup dalam dimensi kisah dongengnya. Yang terjebak dalam dunia naga yang kemudian jatuh hati pada pangeran tampan dengan kuda putihnya yang menyelamatkannya dari kutukan sang penyihir jahat. Cintanya teramat, pada sosok pangeran tampan. Ia tahu kisah kan berakhir bahagia seperti kisah-kisah dongeng lainnya. Jatuh cinta – bahagia – menikah – selesai.

Namun ia lupa, ia hidup di dunia nyata yang kejam dan jauh dari akhir bahagia. Nyatanya cintanya terkhianati oleh sesorang yang ia anggap segalanya. Seseorang yang begitu hebat dimatanya. Seseorang yang tidak pernah mencintai, seperti ia mencintai. Seseorang yang pernah datang, kemudian pergi. Lalu kembali pada detik ia hampir pulih, namun cintanya tak pernah berpaling. Ia masih mencintai, persis seperti pertama kali. Ia lemah pada hati yang memang telah terlahir untuk satu nama yang ia sebut sebagai cinta pertama.

Cinta pertama yang selalu mudah untuk datang dan pergi sesuka hati, karena kapanpun cinta pertama kan kembali, ia selalu siap memberi lagi satu hati yang tak pernah mati. Sampai akhirnya hatinya benar-benar mati meski cinta pertama tak lagi pergi.

Entahlah, mungkin hatinya hanya mati suri. Nyatanya sang gadis kecil masih percaya dengan keajaiban yang ia sebut, “cinta”. Ia percaya, akan ada hati yang mencintai setulus ia mencintai. Tanpa pernah terbagi pun terkhianati.

Waktu terus berjalan, sang gadis kecil masih terus mencari. Satu hati yang selalu ia dambakan, satu hati yang pasti. Cintapun berkali-kali menghampiri, tawarkan rasa yang ia anggap pernah mati. Namun, setiap kali cinta datang menghampiri, ia malah berhenti. Di satu titik yang ia tak ingin ulangi. Iya, jatuh cinta dan kemudian mati.

Ia terlalu takut tuk mengucap cinta pada yang tak semestinya. Bukan, bukan takut disakiti lagi. Ia lebih takut pada dirinya sendiri. Satu sisi yang mungkin paling liar ia miliki, mencintai.

Lalu untuk apa selama ini ia mencari bukti? Bukti bahwa cinta itu benar-benar suci. Apalagi yang ia cari?

Musuhnya kini bukanlah sakit hati, namun dirinya sendiri. Naluri dan nalar nampaknya tak pernah berdamai tuk memberi jawaban pasti. Mereka selalu bertengkar dalam diri sang gadis kecil.

“Berisik!!” Kata sang gadis kecil kepada sang naluri dan nalar yang berkecamuk dalam diri. “Tinggalkan aku sendiri!!”, katanya lagi.

Kemudian ia pergi dan meninggalkan cinta tanpa arti. Seperti itu, dan terus terjadi. Ia tahu, jika seperti ini terus, ia tak kan bertemu dengan cinta seperti yang ia ingini. Namun, buntu selalu menghampiri tiap tanya pada rasa yang tak ia mengerti.

Ia tahu, ego telah membawanya jauh dari garis kebahagiaan yang selalu siap didepan mata. Ia pun tahu, musuh tebesarnya kini adalah dirinya sendiri.

Ia ingini cinta sebesar rasa takutnya pada dirinya sendiri. Ia tak ingini cinta pergi, namun ia yang selalu ingin pergi.

“Cinta jangan pergi…” Ia memohon.
“Atau aku yang harus pergi? Agar cinta tak perlu tersakiti?” ucapnya lagi.

Bibirnya kelu pada hati yang tak pernah ia mengerti atau logika yang selalu menyuruhnya pergi. Gadis kecil terlalu antipati pada hati yang ia anggap suci.

Jika masih seperti ini, bisa kupastikan sang gadis kecil hanya berakhir sendiri, tanpa hati dan kemudian mati tanpa arti.