I.

Air tak selalu jernih,

begitu juga ucapanku

Kapas tak selalu putih,

begitu juga hatiku

Langit tak selalu biru,

begitu juga hidupku

II.

Jalan tak selalu lurus,

begitu juga langkahku.

Jika keikhlasan itu bisa terucap hari ini, untuk apa menunggu?

Sedangkan hembusan nafas kita tak pernah tahu kapan akan terhenti.

III.

Tahun 2013…

Tahun yang penuh dengan pengharapan baru.

Hug and Kisses.

Begitulah 3 pesan singkat yang dikirim oleh Bulek Iin. Pesan singkat berisikan doa yang selalu ia bisikan dalam setiap kasih sayangnya. Bulek yang sebenarnya adalah sahabat terbaik bagi ibuku. Kami memang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, beliau hanyalah orang lain yang kemudian dianggap melebihi garis darah bagi keluargaku.

Anganku melayang, saat aku masih kecil. Aku dan kedua kakakku selalu menghabiskan liburan sekolah kami di rumah susun yang ia miliki. Ia tak memiliki ruang yang luas untuk disebut sebagai rumah, namun bagi kami, pelukannya adalah rumah kedua yang kami miliki. Kasihnya melebihi kasih sayang seorang saudara yang (mereka bilang) memiliki hubungan darah sekalipun.

Insting-nya adalah yang terbaik. Aku adalah pengembara dunia yang mencoba mencari arti diriku sendiri. Jatuh dan terluka adalah sahabat baikku. Mereka yang selalu menemani tak kala saat kumencari arti bahagia. Beliau mengerti arti sedih di dalam tawaku, mengerti arti rindu di dalam senyumanku, mengerti arti peluh dalam diamku melalui kedua bola mataku. Sinar mata yang tak kala meredup karena luka pun bersinar karena bahagia.

Beliau adalah sahabat terbaik bagi ibuku pun aku.

Dia adalah ibu, bagiku.