Tags

Selamat sore sayang,

Bagaimana kabarmu? Sungguh lucu ya, jika aku menanyai kabarmu padahal setiap waktu kita selalu berkabar melalui pesan singkat. Entahlah, aku hanya ingin mengulang rasanya menulis surat cinta seperti yang dilakukan oleh kedua orang tuaku. Saat mereka terpisah jarak, mereka menuliskan rindu pada lembaran-lembaran harap bertintakan cinta. Seperti yang kulakukan, sekarang.

Ada yang berbeda hari ini. Sejak ku membuka mata, aneh rasanya aku mencari handphone tuk mencari kabar. Iya, darimu. Meski dengan setengah sadar, aku membaca kembali pembicaraan kita tadi malam. Kau menertawaiku karena aku hilang tanpa mengucapkan selamat malam untukmu. Seperti biasa, aku selalu tertidur.
Kau meninggalkan puisi penghantar mimpi, yang tak sempat kubaca sebelum memejamkan mata.

“Ada rasa yang kutitipkan di langitmu.

Ada rasa yang kupajang di tiap jejakku.

Sederhana; Seperti sebuah keadaan, sebelum dan sesudah ketiadaan.”

Aku tersenyum pagi ini, membaca pesan singkat darimu. Iya, sekarang aku tak lagi sendiri. Aku memiliki lebih dari seorang kamu, aku memiliki; Kita.

Saat aku menulis surat ini, adalah sore pertamaku sejak meninggalkan ibukota. Sore adalah saat yang magis menurutku, karena selalu mengingatkanku akan sore kemarin; sore terakhirku, bersamamu.

Aku ingat saat kau mengirimkan pesan singkat, bahwa kau telah berada di depan rumahku. Aku ingat, semalam sebelumnya, kau katakan ada yang ingin kau sampaikan. Tahukah kau, seperti apa aku saat itu? Lucu rasanya. Aku tahu kau akan datang dan memikirkan sebelumnya bahwa aku akan berdandan cantik untuk menemuimu di beranda rumahku. Iya, karena sore itu mungkin akan jadi sore terakhirku melihatmu. Namun, sampai kau mengirimkan pesan singkat itu, aku bahkan belum mandi dan berdandan. Baiklah, aku akan tampil apa adanya sekarang. Pikirku saat itu. Aku tahu aku tanpa persiapan, dan aku siap menemuimu dengan keadaan yang sangat memalukan. Pakaian tidurku dan tanpa makeup.

Aku ingat rasanya bagaimana jantungku berdetak tak karuan saat aku mulai keluar kamar, menuruni anak tangga, dan melihatmu duduk di beranda rumahku, sore itu. Aku ingat senyum yang terlontar dari raut wajah itu, sesaat ku menyapamu, senyum yang membuat jantungku berdetak lebih kencang, tak karuan pun berirama. Aku ingat, saat kau lontarkan candaan yang membuatku lebih nyaman untuk duduk disampingmu dan menikmati sore itu.

Sore itu, semesta tak bersahabat. Langit meneteskan air kehidupan bersamaan amarahnya. Entahlah, meski sore tak terlihat indah, namun terasa manis bagiku. Sore di mana kau memintaku untuk menjadi bagian dari hidupmu, sore di mana hati kita terpaut, sore di mana kita menaruh semua harapan masa depan, sore itu bernama; Kita.

Kita yang terlahir sore itu. Kita yang akan berjuang bersama meretas jarak yang ada di depan mata. Kita yang memiliki rasa yang tak mengenal ruang dan waktu. Kita yang memiliki saat terindah, di setiap sore sebelum senja.

Jaga dirimu disana, sayang. Meski kita terpisah jarak, kau tahu aku selalu ada disana; di hatimu. Nikmatilah sore saat kau merindukan, kita. Nyanyikan kerinduan bersama burung gereja yang merajai sore sesaat sebelum senja hilang dan dikuasai oleh malam.

Tertanda,
Wanita Sore

Sore itu bernama, Kita
Jika sore adalah ibunda yang melahirkan senja
Maka biarkan aku berbahagia merayakan Kita di setiap sore
Sebelum kegelapan itu datang.
Ibunda yang akan selalu mengingatkanku bahwa mentari tak kan selalu bersinar dan selalu tergantikan oleh gelapnya malam, setiap hari.
Seperti kita.