Tags

Teruntukmu,

Gemintang dalam Cakrawala Maya.

Siapa kamu sebenarnya?

Pertanyaan itu selalu muncul sesaat kuhabiskan waktu di kala malam, sekedar membaca buah pemikiran manusia-manusia maya yang bahkan tidak semua kukenal. Termasuk kamu. Kamu yang beberapa waktu lalu mencuri perhatianku dengan semua kekonyolan yang absurd; yang aku suka tentunya. Tidak seperti orang-orang yang aku follow lainnya, menjejerkan sajak-sajak indah 140 karakter berisikan nyanyian kerinduan, perihnya kehidupan, senja yang indah, atau rinai hujan di padamnya malam.

Setiap malam hingga pagi menyapa, aku tahu kau ada disana. Bercerita tentang dunia yang tak masuk akal. Aku adalah penikmat aksaramu, penikmat pikiran-pikiranmu, penikmat gurauan cerdasmu, yang mencibir dan menertawai dunia lewat kacamatamu. Melihat dunia dari sisi yang berbeda, dengan semua canda yang tertuang dalam setiap kalimat yang kau tuliskan.

Namun, siapa kau sebenarnya?

Kesempatan bertemu denganmu adalah inginku. Menertawai dunia dengan semua kekonyolan yang mereka anggap nyata. Melukiskan cerita masing-masing pada semburat jingga sore dengan bir di tangan. Membiarkan diri terhanyut dalam bulir-bulir ombak yang menggulir di pesisir masing-masing. Pernahkah kau dengar, bahwa kejujuran ada di buih bir yang kau minum? Aku ingini itu. Aku ingin buih-buih bir itu menjalar ke setiap nadi, membiarkan kejujuran berbicara dari hati; yang selalu ku kunci rapat-rapat dan seakan kubunuh perlahan hingga mati suri.

Aku mencintai melalui aksaramu.

Aku tahu aku bukanlah siapa-siapa. Mencintai seseorang yang memiliki banyak penggemar, hanya kan membuat hatiku kian memar untuk kamu yang samar-samar. Aku hanyalah salah seorang penggemar dan kau adalah bintang yang bersinar. Iya, meski hanya dalam dunia maya. Aku yang tak terlihat, memperhatikanmu dalam diam. Enggan kumenyapa. Egoku sebagai perempuan terlalu besar karena aku pun sadar. Inginku hanya kan membuatmu menghindar.

Aku mencintaimu dengan ikhlas tanpa alasan, tanpa perlu kau balas beralas kasihan.

Namun aku pun menginginkanmu lebih dari apa yang maya. Aku menginginkanmu dalam nyata. Bukan hanya dalam cakrawala maya, yang bersinar terang bak gemintang di malam gurun pasir yang gersang. Persilahkan waktu menggenggam erat jemari pada apa yang mungkin hilang, menatap pekat-pekat pada masing-masing mata hingga pagi datang.

Jika surat ini sampai di tanganmu, itu artinya aku telah membunuh ego untuk menyapamu. Ya, telah aku lakukan kini. Aku mengingini kau mengenalku lebih, memperhatikan apa yang tak sempat kau perhatikan sebelumnya, melihat aku seperti aku melihatmu selama ini; bukan hanya salah satu dari ribuan follower yang lengkap dengan panggung dan lakon yang mereka mainkan tiap harinya.

Temuilah aku di pantai tanpa nama, pantai yang sama saat kau menertawakan mereka yang memuja senja.  Kau tahu aku dimana, karenamu aku selalu menantikan setiap senja  berharap kau kan datang sekedar menghampiri, merasakan apa yang nyata dan mengerti bahwa dunia tak sebatas apa yang maya; masih di pantai tanpa nama yang kau sebutkan.

Tertanda,

Sang Pecinta Aksara(mu).

Cakrawala Maya - iitsibarani_wordpress_com

Untuk apa yang tak pernah padam

Bersinarlah meski senja memaksa tuk berkilah

Dalam cakrawala maya yang temaram

Tersenyumlah, hapus segala gundah dalam tiap-tiap aksara