Tags

Teruntuk Kekasih yang Bukan Kekasihku,

Bagaimana kabar ibukota? Bagaimana kabar Ayah dan Ibu? Bagaimana kabarmu, wahai belahan jiwaku? Katakanlah, baik-baik saja. Agar aku di sini merasa tenang meninggalkan keluarga untuk sementara waktu dan mengejar mimpi-mimpi di pulau dewata ini.

Evans Suryani, seorang dokter muda yang cantik. Begitulah aku biasa menyebut namamu; dengan bangga, ketika orang-orang bertanya siapa kakakku. Wanita muda yang pintar, cantik, dan memiliki hati luar biasa. Seorang kakak yang sangat menyayangi dengan kesabaran dan perhatian yang istimewa untuk seorang adik yang bandel dan susah diatur, sepertiku. Seorang kakak yang menjadi panutan dengan pembuktian tanpa paksaan. Kau membuktikan, bahwa kesabaran yang melulu meluluhkan egoku.

Mereka bilang kita anak kembar, ingatkah kau? Aku rasa mereka salah. Aku hitam, kau putih. Seperti itu pula kulit kita, kepribadian dan kehidupan kita yang sebenarnya. Kau adalah malaikat tanpa cacat yang menjelma menjadi kakakku di dunia, dengan sayap-sayap putih melebihi entitas cahaya itu sendiri. Sedang aku? Ah, kau tahulah seberapa suram hidupku. Beruntungku adalah memilikimu. Kau adalah sang pagi yang cerah dan menghangatkan, sedang aku adalah sang malam yang temaram dan dingin.

Pernahkah kukatakan aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, wahai kekasih yang bukan kekasihku?

Ingatkah kau saat kita kecil, ketika orang-orang mengatakan bahwa akulah kakakmu yang terlahir terlambat? Saat kau diledek, aku yang membelamu. Saat kau takut bertemu wali kelasmu, aku yang menghadapinya. Bahkan saat menyebrang pun, akulah yang menggenggam erat tangan dan membelah jalan untuk mempersilahkanmu lewat. Aku menyayangimu, berlebih. Kaulah yang utama, bagiku.

Seperti itu dari dulu, hingga detik ini.

Kau tahu aku sangat mencintaimu, bukan? Melihatmu tersenyum dan bahagia adalah inginku. Ingat kah kau, bagaimana geramnya aku saat mendengarmu menangis melalui telepon bahwa beberapa orang di kantor baru, mencibir dan mencercamu? Aku geram kepada mereka! Aku geram mendengarmu menangis! Aku geram kepada diriku sendiri! Aku merasa gagal melindungimu. Lumpuh langkah. Menyalahkan keadaan, menyerah pada ketiadaan. Aku geram! Hati berserakan di antara puing-puing kekecewaanku sendiri.

Maafkanku, jika terselip rona-rona sendu di hidupmu. Tahukah kau, akulah yang paling tersakiti saat air mata pecah dari mata sang induk bahagiaku; kau.

Aku mencintaimu, kau tahu bukan? Iya, aku tak akan lelah mengucapkannya. Melalui surat ini, aku ingin kau berbahagia dengan pilihanmu sendiri di luar sana. Korbankan bahagiaku, takkan mengapa jika itu mampu mengapus sendu tuk menjadi tawa bahagiamu. Mengetahui kau menyayangi orang yang pernah kusayangi, adalah berat yang teramat menyelimuti. Tanya kian hebat menyayat tiap ingatan di antara labirin-labirin kenangan. Kenapa harus kau? Kenapa harus dia? Aku lelah bertanya dan memilih diam. Ah sudahlah, jika itu yang bisa membuatmu tersenyum, tertawa dan bahagia lagi, kenapa  tidak? Kau tahu aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, bukan? Ya, aku sangat mencintaimu.

Berbahagialah kau disana, wahai belahan jiwaku.

Tetaplah menjadi seorang kakak yang menjadi panutan, seorang kakak yang selalu mengajarkanku arti kesabaran dan kasih sayang. Tetaplah menjadi pagi untuk malamku. Tetaplah menjadi cahaya untuk gelapku. Tetaplah menjadi kehangatan untuk dinginnya duniaku. Jangan pernah bersedih lagi yah? Airmatamu adalah air terjun yang mematikan untukku. Tawa dan senyummu adalah angin penyejuk  surgawi. Tetaplah menjadi yang terhebat, untukku.

Kau tahu aku mencintaimu, bukan?

Tertanda,

Belahan Jiwa yang Mencintaimu.

IMG_5254[1]

Bersinarlah, wahai bahagiaku

Tersenyumlah dan ucapkan selamat tinggal pada sendu

Ketika dunia terasa semu

Kau tahu bukan, aku mencintaimu?