Tags

Selamat sore sayang,

Bagaimana kabarmu, bahagiakah? Bagaimana tesismu, telah selesaikah? Bagaimana lingkunganmu, masih banjirkah? Bagaimana harimu, berwarna-warnikah? Bagaimana hatimu, masih merindukah?

Ah, aku terlalu banyak bertanya ya? Iya. Sore ini, hari sabtu menjelang senja selalu saja berhasil membuatku teringat sore itu. 7 hari sudah, aku tidak melihat senyuman itu, melihat muka-muka anehmu, melihat mata yang sayup-sayup yang terkadang membuatku bertanya, siapa kau sebenarnya. Masih saja bertanya, meski jelas-jelas kau adalah milikku sekarang. Hubungan kita masih seumur jagung, tapi banyak sekali sisi-sisi yang kudapati di tiap harinya. Sisi-sisi yang selalu membuat kuragu pun yakin secara bersamaan.

Aku selalu menyukai pembicaraan-pembicaraan kita di setiap perempat malam. Dimana kita berada di sudut ruang masing-masing kamar, membicarakan tentang yang terjadi kemarin, hari ini ataupun tentang kita di masa depan.

Sayang, aku tahu. Kita adalah dua anak manusia dengan tema yang sama namun memiliki cerita yang berbeda. Kita telah melakoni berbagai peran pada panggung masing-masing, dengan Tuhan sebagai sutradaranya. Protagonis, tritagonis, antagonis, figuran bahkan menjadi seorang penonton sekalipun. Memainkan peran masing-masing dalam drama tragedi, komedi, melodrama ataupun dagelan sekalipun. Hidup layaknya sebuah panggung sandiwara, bagiku. Sebuah panggung yang jauh dari akhir sebuah dongeng; kebahagiaan. Sebuah panggung yang selalu membuatku bertanya, apa yang nyata sebenarnya?

Apakah benar kebahagiaan selalu hadir terakhir bagi siapapun yang memerankan protagonis? Benarkah keburukan kan terjadi pada akhir peran antagonis? Ataukah kita hanya jadi figuran bagi panggung orang lain? Atau mungkin, kita hanyalah seorang penonton yang duduk ditengah-tengah keterasingan?

Tentang lakon yang bermain dari panggung ke panggung lainnya, setiap musim berganti, saat itu pula panggung dan lakon kita ganti. Tentang drama yang terjadi di tiap panggungnya. Tentang akhir sebuah drama yang tak usai. Tidakkah kau lelah, sayang?

Bisakah panggung ini usai menjadi sebuah drama kehidupan? Bisakah drama ini berubah menjadi sebuah dongeng manis penghantar tidur malaikat-malaikat kecil yang bersemayam dalam tumpukan bantal surgawi? Bisakah kita berhenti menjadi aktor dan aktris yang hebat yang hanya memerankan peran mereka dan melupakan apa yang nyata; kehidupan itu sendiri, di luar panggung ini.

Sayang, aku lelah dengan apa yang tak nyata. Kembali berperan pada panggung yang tak usai, terlebih semua ini hanyalah fatamorgana kebahagiaan. Mereka sebut cerita cinta adalah melodrama, tapi bagiku cerita cinta hanyalah dagelan tragedi. Sebuah komedi picisan yang berakhir tragis dengan properti cinta pada masing-masing cerita.

Sayang, bisakah kita tinggalkan lakon dan menjauh dari panggung drama? Kembali pada hidup yang ada, menjadi diri kita sendiri tanpa perlu berperan apa-apa dengan perasaan yang nyata? Aku tak ingini kita hanya sekedar berperan menjadi sepasang pecinta tanpa memiliki perasan yang sesungguhnya. Aku ingini kita nyata.

Jadilah dirimu sendiri sayang, tanpa harus menjadi dia, kami, ataupun mereka. Biarkan drama tetap bermain pada panggung masing-masing, tapi ingatlah sebuah nyata; sebuah kita. Aku tak ingini ini hanya fatamorgana kebahagiaan yang tak ada. Berjuanglah kau di sana, menemukan dirimu sendiri. Aku di sini pun takkan berhenti mencari. Jika Tuhan memberi sabda terhadap waktu, temui aku di linimasa kehidupan yang nyata, sebuah kita.

Tertanda,

Wanita Sore.

Aku tak ingini kita hanya sebuah kata
Pun sekedar kata dalam cerita
Aku ingini kita kan menjadi nyata
Senyata semesta, seindah cinta.