Tags

Secarik harap di tiap sore sebelum senja. Di ganjil hari kau dapatkan di kotak surat depan rumah. Berisikan aksara-aksara kerinduan kurangkai indah tentang harapan. Senyum pun kerut di alis tak kan mengapa, sebagian tak harus kau mengerti, sayang.

Lihatlah sayang, aku melukiskan kerinduan-kerinduan di semburat langit senja. Abstraksi warna langit terlukis kan berbeda di tiap waktunya, tergantung bagaimana kau menikmatinya.

Kuberi jeda di tiap masa surat, agar kepala tak sembunyikan penat. Aku mencintai jeda seperti kumencintai senja. Jeda kiranya kan menghirup dalam-dalam kerinduan di antaranya, kelak bisa kau hembuskan bersamaan harapan-harapan cinta kita. Jeda kan singgah sesekali lamun kan datang pada waktunya. Seperti senja menjadi jeda antara siang dan malam. Senja membuat dinginnya malam merindukan hangatnya siang. Seperti kumencintai senja, aku mencintai kita dalam jeda.

Cinta seperti satu hari yang kau miliki. Pelukan kasih sayang seperti hangatnya pagi tak mungkin terlewatkan. Cemburu memburu haru seperti pengap siang terendap dalam pori-pori rindu. Atau bisu dari masing-masing bibir seperti malam di musim dingin terusir.

Sudahlah sayang, kita tidak perlu selalu menjadi matahari bagi semesta kita sendiri. Biarkan malam memiliki andil dari cerita kita dalam satu hari. Dan biarkan senja diantaranya menjadi jeda bagi keraguan masing-masing diri.

Aku mencintai jeda, seperti kumencintai kita.
Di antara genap sebelum ganjil; di antara siang dan malam; di antara cinta dan luka. Jeda kan terlahir sebagai kerinduan-kerinduan cinta yang berbeda namun tetap inginkan ada.

Sayang, bisakah kau kan tetap mencintai keduanya dalam setiap jeda?

Tertanda,
Wanita Sore