Tags

Teruntuk;

Wanita Di Balik Selimut Orang Lain,

Surat ini kutunjukkan kepada wanita-wanita di luar sana yang berada di selimut orang lain. Yang mengagung-agungkan cinta tanpa memikirkan kebahagiaan orang lain yang telah lama memilikinya. Bagaimana kabarmu? Masihkah bersembunyi menutup rapat rahasia nistamu di balik senyuman yang kau tebarkan?

Masihkah bahagia saat wanita lain di luar sana menangis saat kekasihnya tak lagi mencintainya seperti dulu? Sudah puaskah dengan permainan kelamin yang kau rekam dalam ingatan-ingatan tembok yang menjadi singasana kebahagiaan orang lain? Bahagiakah kau ketika seseorang yang kau cintai teramat tak mengakuimu karena tidak ingin hubungan terdahulunya kandas?

Entahlah apa yang merasukimu. Pembenaran atas apapun yang kau lakukan nampaknya menjadi kitab suci perjalanan cintamu. Kau selalu menganggap, bahwa cinta tidak pernah salah. Kaupun menganggap kau bukanlah satu-satunya pendosa dalam kisah ini. Ya, kau mungkin benar. Ada lelaki di sana. Lelaki yang membuatmu hilang akal, membuatmu buta hingga tak lagi mengenali mana hitam mana putih. Kau dan lelaki itu, memiliki kesempatan untuk memilih. Apakah ini yang menjadi pilihanmu? Jika kau bisa putar-balikan waktu untuk memilih tidak, memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaanmu sendiri, bukankah lelaki itu pun tak kan sanggup memaksamu untuk menjalani semua ini?

Mencintai seseorang tidak akan pernah salah, itu hakmu. Tapi untuk memiliki seutuhnya padahal kau tahu kenyataannya ada wanita lain di luar sana yang melingkarkan cincin masa depan dengan lelaki yang kau cintai itu, apakah bisa dibenarkan?

Harga diri nampaknya sudah kau jual murah atas nama cinta. Etika tak ayal seperti dongeng orang tua yang tak lagi kau percaya. Ego nampaknya menjadi pondasimu tuk berjalan. Dosa pun nampaknya hanya sekedar prasasti atas gudang-gudang tua di pelosok desa. Keserakahan adalah sarapan yang harus kau habiskan untuk memulai pagi tiap harinya.

Sudakah puas kau wahai wanita pemilik mahkota kejayaan?

Ketika kau tidak hanya mendapatkan permainan-permainan kelamin dari orang yang kau cintai, tapi juga keseluruhan hati dan hartanya. Puaskah kau ketika ia lebih memilihmu daripada cintanya yang telah usang dengan cintanya yang pertama? Puaskah kau ketika wanita lain menangis dan tersiksa hebat ketika cintanya telah kandas oleh permainanmu yang mungkin tidak diketahuinya?

Sadarkah, kau telah menyakiti sesama wanita?

Wanita, iya wanita. Seperti kau. Sadarkah, kau menyakiti sesamamu? Sadarkah, kau menyakiti hati yang tidak pernah bersalah terhadapmu? Sadarkah, kau telah menghancurkan mimpi-mimpi wanita lain yang ia rangkai satu persatu tiap detiknya dan dalam sedetik pula kau hancurkan itu semua? Detik awal saat kau iya­-kan untuk memulai ini semua.

Hargailah dirimu sendiri, wahai wanita. Merusak kebahagiaan orang lain tidak akan membawamu dalam berkahNya. Kau memiliki hak untuk dicintai sepenuhnya, menjadi satu-satunya, diakui, dan dijadikan cinta terakhir. Kau berhak bahagia, ya seperti wanita itu. Ia pun berhak bahagia tanpa terkhianati oleh kejamnya permainan nista dalam selimutnya sendiri.

Pernahkah terpikirkan olehmu, bahwa apa yang terjadi di wanita itu bisa saja terjadi padamu jua?

Tertanda,

Seorang Wanita.