Tags

Selamat sore sayang,

 

Hari kedua puluh delapan di bulan satu, surat ke delapan yang kutunjukkan untuk pemilik hatiku yang utuh. Bagaimana kabarmu, wahai pria yang selalu saja kusebut abu-abu? Jangan lagi sakit ya, aku khawatir. Kuasaku ditelan jarak untuk menjagamu dengan sebuah hadir.

Seribu seratus tujuh puluh delapan kilometer jarak yang memisahkan kita. But hey, it just a damn number, right? Aku tidak perduli. Berbicara denganmu meski lewat sambungan gsm, aku rasa lebih dari cukup menghadirkanmu di keseharianku. Meski rindu nampaknya selalu mencumbu diantaranya.

Kau ingat bukan, aku adalah pelupa yang hebat? Aku mohon kau tak kan marah, jika wajahmu mulai memudar dalam ingatan. Hanya nampak bayang-bayang pucat, seolah kau hanya sebuah penampakan. Ya, jika bukan karena foto-foto yang kumiliki, aku rasa ingatan lumpuh dalam diri. Ah, aku tidak perduli. Bukan wajah yang rupawan yang menjadi penilai untuk hati, tapi rasa yang kau beri. Yang aku tahu, aku menyayangimu dan itu cukup bagiku untuk menjadikanmu pria satu-satunya dalam hati.

Setidaknya disini hati berani untuk jujur pada diri. Bahwa rasa sayang menjadi mahkota bukan berdasarkan fisik. Jika jarak membuat mata kita buta tentang sosok yang merajai pikiran, tapi jarak pula yang membuat kita menjadi penguasa pada masing-masing hati. Jarak pula yang menjadi pengendali rindu yang selalu tumbuh detik demi detik. Persetan dengan jarak! Jarak tidak akan pernah menjauhkanmu dariku. Pikiran dan hati tempat kau bersemayam, tak kan mudah memudarkan perasaan meski jarak membentang jauh.

Yang aku benci pada jarak adalah saat hadir begitu penting di saat-saat yang sinting. Meski sebuah kita menjadi penenang dalam hidupmu yang semakin miring, bukan berarti tidak terselip duka yang tak lagi hening. Aku ingin berada disamping meski kau coba tuk berpaling, tapi jarak menjadi nyata di saat-saat genting. Aku benci. Tapi percayalah sayang, meski raga tak hadir, doa-doaku terlafalkan untuk memelukmu dari belakang. Hanya doa yang ku percaya memelukmu tanpa sebuah hadir untuk hatimu yang getir.

Aku tidak percaya bahwa jaraklah yang menguatkan masing-masing hati. Seperti obat kuat yang menguatkan seksualitas seorang laki-laki lebih tinggi, jarak menjadi obat bagi kita untuk menguatkan diri bertahan dengan rindu-rindu yang semakin liar. Menjalar di tiap detik, membuatkan tinggi hasrat cinta hingga pertemuan kan terlahir.

Mari bersama-sama bersabar sayang. Aku percaya Tuhan memiliki rencananya sendiri untuk menyatukan cinta kita dalam sebuah kehadiran, seperti pertemuan pertama kita yang tidak direncanakan. Aku menyukai hal-hal ganjil yang mengejutkan. Seperti rasa yang tiba-tiba mengulum hati meski kita tak mengerti bagaimana cara berbagi, seperti rindu yang terkadang memuncak dan tak tahu diri, seperti jarak yang acap kali membuat muak pun ternyata menjadi penggenap untuk masing-masing hati. Menyenangkan bukan? bagaimana sebuah ganjil ternyata malah memberi kebahagiaan yang berlebih-lebih bak nyanyian kegembiraan dalam sebuah injil.

Sayang, aku yakin jarak tak kan menyulitkan jika hati yang ingin kita tautkan. Percayalah sayang, semua akan terjadi pada saat yang sangat tepat. Meski kita seringnya berbeda pendapat, tapi itulah yang membuat hati lebih hebat.

Jaga dirimu baik-baik sayang. Aku tak kan memintamu untuk mengingatku, cukup maknai kita dalam-dalam hatimu yang terdalam. Aku percaya, tidak akan ada yang sia-sia; selama ketulusanlah yang utama. Ikhlaskan untuk apa yang tak dapat terjadi sekarang, aku lebih senang jika mengalah untuk sebuah menang. Kemenangan untuk sebuah kita.

 

Tertanda,

Wanita Sore (yang selalu mengutuk dan bersyukur terlahirnya sebuah jarak).