Tags

Teruntuk,

Kau yang selalu kudustakan.

Akulah sang pengecut. Yang lari bak maling membawa serta merta ketakutan sebagai tombak tuk berpaling. Mengais-ngais harapan di kota orang. Akulah sang pengecut, yang mengindari tempat ku pulang menaruh beban. Bagaimana aku bisa menaruh beban di bahumu, jika bebanlah yang kau berikan selalu? Akulah sang pengecut yang tak tahu malu, yang selalu kembali untuk bertemu kelurga dan kekasihku di tempatmu. Sekali dua kali dalam setahun, rindu menusukku dalam-dalam untuk sebuah pelukan orang-orang yang kucinta. Tak membawa hasil hanya beban dari kota orang. Tiada pula piala pun penghargaan yang sanggup ku lulurkan untuk kaki-kaki orang tuaku, ditempatmu.

Aku malu. Tahukah kau? Bukan karpet merah ataupun bunga-bunga indah yang sanggup kau berikan bagi tamu-tamu negara di jalan. Hanya banjir dan tumpukkan sampah yang selalu menjadi bagian kota yang tak lagi kau hiraukan. Kota tempat para wakil rakyat serakah yang membuncitkan masing-masing perut. Kota tempat bangunan-bangunan pencakar langit menjulang tinggi dan melupakan taman-taman kota sebagai paru-parumu tuk bernafas. Kota tempat manusia menyebut mobil sebagai rumah mereka. Kota yang apatis untuk kepentingan bersama dan memilih harga diri dan kepenting sendiri sebagai tahta untuk bertindak mandiri. Pembangunan tanpa kendali di wilayah hilir, penyimpangan peruntukan lahan kota, dan penurunan tanah akibat eksploitasi air oleh industri. Akh, aku muak! Lihatlah dirimu sekarang?

Sanggupkah kau bangga, meski banjir terus menerus jadi bagian tahunmu? Sanggupkah kau bangga, jika pengendalian produksi transportasi orang-orang kaya terus memenuhi ruas-ruas jalan hingga sesak tuk sekedar berjalan? Sanggupkah kau bangga, jika hanya polusi dan polusi yang selalu saja menjadi udara tuk kau bernafas? Sanggupkah kau bangga, saat anak-anak tanpa pakaian dan orang tua harus mengais seratus dua ratus untuk perut mereka yang tak terisi entah sejak kapan? Sanggupkah kau bangga, saat kebengisan manusia menjadi teater di sudut-sudut gang kota? Sanggupkah kau bangga, saat wanita-wanita tanpa busana menjadi penikmat nafsu untuk mereka wakil rakyat? Sanggupkah kau bangga?

Kemana harga dirimu? Masihkah bangga, kau sebut dirimu kota metropolitan? Masihkah bangga, kau sebut pusat pemerintahan? Masihkah bangga, kau sebut pusat kota segala kota Indonesia? Masihkah kau bangga, sebut dirimu ibu kota negara?

Iya. Aku tahu aku adalah bagian yang bertanggung jawab untuk memperbaikimu. Bukan hanya mencaci buta atas keserakahan manusia di ruang gelap pemerintahan. Akulah sang pengecut yang tak sanggup membanggakanmu sebagai kotaku. Sang pengecut yang lebih membanggakan kota orang sebagai tempatku pulang. Dimana ada kedamaian, dimana keindahan dan kenyamanan menjadi pakaian-pakaian kota, dimana kebebasan tempat ku melarikan diri seaman-amannya. Kota di sebuah pulau. Pulau tempat seribu pura berada, tempatnya para dewa-dewa bersemayam. Disinilah aku menemukan kota yang kuinginkan yang sejatinya inginnya ada di dirimu, sejak dahulu. Bisakah kau seperti kota ini?

Entahlah apa yang membuatku gelap mata, hingga aku lebih membanggakan kota ini daripada kau. Aku merindukanmu, tahukah kau? Merindukan bagaimana sebuah kota bisa kubanggakan untuk kuteriakan kepada seluruh dunia.

Aku akan pulang, kepadamu lagi. Takkan lagi aku menjadi seorang pengecut yang mendustakanmu atas kecintaanku. Bagaimanapun, kau adalah tempat keluarga dan kekasihku berada. Sebuah tempat yang kusebut rumah, tempat ku memulangkan diri ke dalam pangkuan cinta. Tunggulah aku disana. Biarkan aku egois untuk mencari berkat disini. Aku akan mencuri banyak ilmu yang bisa aku aplikasikan untuk masa depanmu, nanti. Sekembalinya aku nanti, aku akan memperbaikimu dengan segenap ilmu, kekuatan dan prestasi. Jangan khawatir, aku mencintaimu lebih dari apapun. Maafkan aku. Kebencian terhadapmu merupakan abstraksi cinta yang menjadi pemicu peluru untuk ku tembakkan. Aku akan membunuh tanpa ampun semua penyebab lumpuhnya kau sebagai kota yang akan ku banggakan, kelak. Bersabarlah.

Tertanda,

Wanita (yang masih menjadi) Pengecut yang mencintai dengan kebencian.

Jakartaku sayang jakartaku malang

Jakartaku sayang, Jakartaku malang

entah kapan ku kan datang

bersabarlah sayang

waktu kan menuntunku pulang