Tags

Selamat sore sayang,

Hujan disini tak lagi ramah tuk menjamah. Ia selalu membentak bumi dengan gemuruhnya. Sejenak aku diam sekedar meresapi. Berharap hujan kan sampai ke kotamu dalam waktu dekat, meski malam semakin pekat. Aku berusaha membujuk hujan agar ia mau menitipkan rindu di sela-sela rinai, hingga hujan kan memelukmu lekat-lekat. Namun entahlah. Hanya dingin dan asap yang berjejal masuk ke dalam rongga-rongga, terkadang membuatku sesak tak karuan. Mungkinkah ini pertanda bagi semesta tuk tempikan, bahwa rindu tak kan ia sampaikan? Sungguh sial, lalu untuk apa aku di luar semalaman? Jika rindu hanya bermain di perkarangan.

Di tiap-tiap malam, kaki bersimpuh dengan tangan di muka. Sedikit bisikan doa untuk Ia sang Penguasa. Berharap kan mempertemukan kita pada sudut masa. Mungkin menikmati sore di atas gedung dengan ramai-ramai kota, hingga malam hanya memberikan lampu-lampu jalan sebagai mahkota. Atau mungkin sekedar menikmati bulir-bulir bir di tangan masing-masing, dengan senja sebagai altar semesta. Entahlah, aku tidak begitu perduli bagaimana suasana menciptakan kita. Bagiku, kitalah sang pencipta suasana. Kitalah yang memaknai makna.

Aku memaknaimu lebih dari angan yang berada di langit-langit kamar. Begitu sesak kamar ini di tiap-tiap harinya. Hanya ada angan yang berbatas wacana. Terkadang harus ku buka pintu lebar-lebar, membiarkan angin membawa serta ke langit tak terbatas untuk ia sampaikan padaNya. Mungkin Tuhan berbaik hati tuk sempurnakan angan menjadi sebuah nyata, mungkin. Aku melepaskan angan,tapi tidak dengan harapan. Harapan masih ku genggam erat-erat, menunggu uluran tangan untuk kau bekap.

Tentang rindu yang semakin pekat, tentang berita semu di linimasa, tentang kekasih yang tak jua pulang. Aku jengah. Benar-benar jengah. Jengah menjadi penguasa untuk jiwa yang tak kuasa. Mencari-cari kesibukan yang kusuka untuk menunggumu pulang; ataukah aku yang seharusnya pulang? Entahlah. Aku tak perduli jika kau atau aku yang seharusnya kembali pulang, setia kan tetap menjadi gaun terindah di sela-sela kerinduan.

Aku merindukanmu.

Hanya itu yang aku tahu.

Seperti katamu, “Perjuangkan apa yang pantas untuk kau perjuangkan”. Well, hey. Here i am. Aku sedang berjuang disini. Bukan untukmu, kau tentu tahu bukan? Surat-surat yang kukirimkan hanya memiliki satu tema, “Sebuah Kita”. Ya sebuah kita-lah yang aku perjuangkan tanpa mengenal lelah. Aku hanya jengah, bukan lelah. Untuk jengah yang tumpah ruah ditiap-tiap sekat pikiran, untuk jengah yang menjadi penjajah di tiap-tiap masalah, untuk jengah yang semakin jengah untuk sekedar jengah. Sungguh jengah. Mungkin lebih tepatnya aku hanya lelah untuk jengah. Bukan lelah untuk kita.

Jika jengah akhirnya singgah , sudahkah kubilang sayang, sebab itulah jeda tercipta. Ingatkah kau, bahwa aku mencintai kita dalam jeda? Baiklah, mungkin itu jua yang harus kutanam dalam-dalam, agar rindu tak selalu mencekikku malam-malam.

Sayang, katakan pada poros bumi, agar Ia sudi mempercepat lajunya. Hingga perjuangan kita bertemu semakin cepat pada masanya. Aku rindu kau. Berjuanglah sayang. Jaga hati yang kutitipkan baik-baik. Untuk jengah yang singgah, ia hanya membutuhkan sebuah rumah tuk pulang. Sebuah rumah yang masih kita perjuangkan sekedar tuk membangun pondasi. Sebuah rumah, sebuah kita.

Tertanda,

Wanita Sore.