Tags

Teruntuk,

Wanita Pelupa.

Tahun ke tahun. Bulan ke bulan. Minggu ke minggu. Hari ke hari. Jam ke jam. Menit ke menit. Detik ke detik. Apa kau pikir waktu berjalan dengan cepat? Kau salah! Waktu tak akan pernah berjalan terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Bumi akan tetap berputar pada porosnya, meski mentari bisa saja terlambat datang. Namun waktu kan tetap sama, berjalan kedepan tanpa kuasa mengambilnya dibelakang.

Lihatlah dirimu sekarang! Bertambah lagi umurmu, bertambah lagi kerut-kerut di wajahmu. Kau semakin tua. Yang menyedihkan adalah, kau lumpuh daya untuk sebuah keinginan. Meninggalkan dan membiarkan mati harapan-harapan dibelakang, tanpa niat tuk menghidupkannya kembali. Hari kau gunakan untuk kepentingan dirimu sendiri dan mengabaikan janji sebuah harapan untuk kedua orang tuamu. Dimana kau yang dulu?

Kau memilih menutup buku dan mencoba menari di pesisir biru dengan harapan-harapan baru. Ratusan ribu aksara kau susun cantik menjadi puisi-puisi kelabu di langitmu yang abu-abu. Tak kah lelah kau mengadu?

Ratusan putung tembakau kau musnahkan menjadi kepulan-kepulan asap malammu. Seperti harapan yang kau hirup dalam-dalam, namun dengan mudah kau hembuskan hingga mati di pemakaman asbak gelasmu. Terkadang kau menghirupnya terlalu dalam, hingga harapan mengepung di rongga dada dan hanya sesak yang terjebak.

Begitupun kafein yang seringnya membunuh pagi. Seperti cinta yang kau siapkan pagi-pagi sebelum embun beranjak pergi. Kemudian dengan pikiran-pikiran liar yang bermain diatas gelas, kau coba hirup dalam-dalam memaksakan otak tuk sekedar mengingat bahwa ada nyata yang meminta sadar sebelum akhirnya hanya dingin yang tinggal. Kau memgendapkan cinta di dasar gelas. Menikmati manis di permukaan hingga ampas yang kau gigit kecil-kecil dan meninggalkan pahit di dasar-dasar lidahmu yang getir. Kau bilang, “Esensi sebuah kopi terdapat pada ampasnya, bukan hanya manisnya kopi itu sendiri. Seperti cinta.” Iya, mungkin kau benar. Kau acapkali tak perdulikan hangat-dinginnya ataupun manis-pahitnya sebah kopi. Apa yang kau ciptakan akan kau habiskan hingga akhir cerita. Seperti kau menikmati cinta. Meski hanya luka yang kan tertinggal nanti, kau tak perduli. Disanalah kau menikmati hati.

Kami tak mengerti dengan kebutuhanmu. Kami hanyalah sebuah ingin yang seringnya kau bunuh atau kau hidupkan sesuka hati untuk memenuhi kebutuhanmu. Kembali hidup atau kembali mati adalah takdir kami. Menerima dan berjuang baik-baik adalah tugas kami. Kami tahu kami bukan apa-apa. Hanya sebuah apa yang menjadikanmu seorang siapa. Tapi bisakah kau menghargai kami meski sekedar? Kami hanya ingin kau bahagia. Tapi luka selalu mengambil andil besar bukan? Kau adalah wanita pecinta luka yang terkadang lupa bahwa kau berhak bahagia. Adakah begitu susah?

Ah, sudahlah! Lupakan! Kaulah sang penjajah yang kami cinta. Selamat datang kerutan-kerutan di wajah. Selamat datang umur yang semakin tua. Pesan kami, perjuangkan apa yang pantas ada dan jangan lupa tuk berbahagia.

Ingatlah,

It’s not about number or getting older,

It’s all about how to grow and being better.

Selamat bertambah umur.

Kami mencintaimu,

-EGO-