Tags

Sayang,

Belum jua genap bulan bersatu dengan langit-langit kita. Ada banyak malam yang terlewati tanpa bintang. Sesekali mendung dan hujan pun membasahi pipi-pipi langit yang temaram. Bahkan sorepun terasa sendu tak kala abu-abu hanya menjadi warna satu-satunya untuk senja. Namun saat sore berganti malam hingga tinggal sedetik sebuah suram dan meski hanya sendu di langit muram, tersenyumlah sayang. Setidaknya pagi memberi harapan akan hari esok yang cerah.

Langitku sering kali menangis, sesekali memberikan garis kilat putih membelah dengan gemuruh yang menambah sendu sang langit. Tanahku kian basah hingga sulit terkadang kaki tuk berpijak meski hanya sejengkal dua jengkal. Aku kian terjebak di gubuk kecil di lini masa; dengan suara bising di kepala; dengan sepi di kelopak mata; dengan peristiwa lalu di balik bilik sang rinai yang entah.

Aku masih menunggu di beranda, takut lewatkan sang surya tiba atau pelangi yang bermain di awan barang sedetik dua detik. Aku menunggu hingga hujan reda, meski langit tak jua beda.

Penat!

Tanahku masih basah, langit pun masih menangisi bumi. Aku ingin berlari dan nikmati hujan. Merasakan getir dari air-air langit yang satir. Membiarkan diri terjamah bagian per bagian dengan deras, menari di tengah-tengah dengan musik sang petir. Aku ingin menjadi musafir yang pergi dari hilir.

Mungkin ada kau, di perbatas langitku yang abu-abu, sebuah biru yang teduh. Aku ingin disana, meski langitku berseru haru. Aku ingin kau yang teduh.

Maafkan tuk langitku yang selalu berseru; tuk sendu yang tak tahu malu; tuk cemburu yang memburu; tuk seorang aku yang mendambakan langitmu yang teduh; tuk kamu yang aku mau.

Bagaimana langitmu disana sayang? Masihkah biru seperti dulu?

Sanggupkah kita satukan langit di perbatasan semesta sebuah kita?

Tertanda,

Wanita Sore.