Tags

Sayang,

Dimana kau sayang? Tak kulihat kau di antara lorong-lorong keramaian hujan. Hanya suara-suara saja yang lalu-lalang di kepala. Embun pagi sudah kutanyakan, mereka diam. Begitupun sang surya yang meremas-remas siang, mereka bungkam. Pagi pun siang hanya baju kembar tanpa pakaian, suram seperti malam.

Kusulam bagian perbagian keset halaman. Mempersiapkan kedatangan. Berharap jingga kan pulang dalam pelukan. Ilalang di pekarangan, bergoyang-goyang dengan angin di selatan. Tak jua memberitahukan, kapan kekasihku kan datang.

Kusiapkan omelet kesukaan dengan kopi beserta koran di meja makan. Berharap kau sekedar mampir sebelum aktivitas dimulai di tiap-tiap pagi buta menjelang. Namun hingga dingin di permukaan cangkir; hingga omelet berjamur pasir; hingga pagi-siang-sore menyingkir; hingga lelah bibir berfikir, lagi malam hanya sebuah mimpi yang terusir; kau tak jua sudi tuk sekedar mampir.

Datanglah sayang, datang.

Cangkirku penuh gula, namun getir masih saja menjajah lidah tak kala ku sesap air di kedap-kedap senja. Cangkirku mengerti cinta, ia tahu apa yang kurang. Tak peduli gula kan endap di dasar hingga permukaan. Kerinduan serupa jeruk nipis yang tak jua larut bersama manis sang gula yang gerimis. Aku rindu kau, wahai lelaki. Kembalilah, pulang.

 

Tertanda,

Wanita sore.