Tags

Sayang,

Apa kau mengerti hujan? Aku hampir mati dalam ketukan gigi di kepala. Ingin pecah rasanya. Kau dingin untuk asing dunia. Entah berapa kali hujan menelanjangi malam tak bertuan, lelah sepi jika hanya melulu dingin serupa pelukan yang tumpah ruah. Suara-suara mengurai tabir gelap puisi-puisi malam tanpa rima. Kau perlakukan sama, aksara kau rangkai indah dalam ingatan.

Ada senang dalam getir bait-bait tak berjeda; dalam jeda berirama senja. Buah bibir berbuah percakapan tiap-tiap malam; gairah pelukan-pelukan maya; ciuman mentari pembunuh mimpi-mimpi jahanam.

Aku ingin pipis dalam kantung-kantung hitam yang malam. Biar mudah kubuang jenuh ke selokan-selokan sang pemimpi yang bermimpi memiliki mimpi. Jenuh datar di tiap-tiap pusaran ke-kaisaran. Dingin tanpa lengan di tangan.

Serunai rinai di tiap-tiap malam. Gaduh hanya gaduh di kepala, kau menari-nari tanpa jeda. Dingin menusuk dalam-dalam rindu, rindukan pelukan berlengan; berikan nyaman; berikan aman. Kudapati sisi duduk dengan hujan di mata, menghujani berada-beranda penantian. Gigil bibir-bibir yang buta kan makna. Memaknai malam sebagai hujan, hanya pikiran jilah tujuan.

Hadir tak nampak di perempatan jalan. Mungkin tersesat di labirin tujuan; atau mungkin kerajaan bersiap-siap bangunkan serdadu-serdadu penyelamat nyawa. Seorang maharani tanpa mahkota, namun penghuni satu-satunya selain dirinya.

Jika itu yang semesta persiapkan, gaun segera kusiapkan. Menghadiri perayaan akbar pertautan masa meski hujan di altar gereja. Beri kabar meski lewat hujan. Tak peduli gelap satu-satunya cahaya; tak peduli dingin selimutkan malam, pemakaman sebuah malam sejatinya perlu dirayakan. Pun segera kusiapkan gelas tuk bersulang, dengan anggur-anggur pengkhianat senyap. Mimpi kan lenyap dari kelopak bunga yang merayap, hanya nyata yang menghadap.

 

Tertanda,

Wanita Sore.