Tags

Sayang,

 

Belantara hutan dijatuhi kabut dari gunung atas. Terkadang rintik atau hujan di dalam. Banyak kabut, hingga sulit kau melihat. Bayang terkadang menghindar dan hilang ditelan. Maafkan, jika sulit kau tapaki karena kabut di mata. Jika awal terlalu dekat; jika kabut terlalu pekat; jika dingin terlalu menghambat, bertahanlah sayang. Sebagian hanya terang kabut, teduh hujan. Ingatlah hangat meski dingin di kulit telah terbiasa.

Tiada awal yang tak miliki akhir. Namun kau pemilik andil bagaimana seharusnya sebuah akhir kau ciptakan, sepersekian detik setelah lahirnya sebuah awal. Tepat ketika akhir hadir, sebuah awal kan lahir kembali. Di antara awal yang kau miliki dan akhir yang kau ciptakan, berproseslah sayang. Percayalah, bahwa tumbuh tak selamanya menyenangkan namun ada harga yang pantas tuk apa yang tumbuh hebat. Kau tak kan mengerti apa yang akhir hadirkan, jika kau menyerah tanpa melawan.

Hadir terkadang hilang, hilang terkadang hadir. Risau baiknya kau telan, kau tak kan kehilangan. Rasa tak kan mati hanya karena hadir hilang di gelap mata. Maafkan, jika angan terkadang hilang arah mencari rongga yang tak berbatas, tempat segala ada. Kau adalah tujuan, tempat segala pulang. Jangan lari; jangan pergi, tinggallah dalam pelukan.

Tak kan kujanjikan seindah apa yang mereka sabda-kan tentang cinta. Namun, percayalah. Nihil tiada kau dapat meski terkadang badai di tempat. Di garis-garis samudra, dalam biru yang bercahaya senja kau temukan bahagia; sebuah pantas di perbatas. Berjalanlah terus, wahai sayang. Meski sulit. Di ujung pelangi, taman surga kan jadi milikmu sendiri. Absolut tanpa perlu kau rebut.

 

Tertanda,

Wanita Sore.