Tags

Tumpah Ruah seperti Kopi

Dear Sahabat Maya,

 

Kalian sudah dengar bukan akan ada gathering #30HariMenulisSuratCinta ? Ah, aku sudah tidak sabar. Setiap harinya sebagai pejuang cinta, kita mengirimkan surat ke entah. Imajinasi pun realita menjadi hiasan dalam pencarian makna sebuah aksara. Kita mengerti cinta, tapi terkadang lupa sebuah makna. Buntu di ujung atau suntuk yang carut-marut membunuh makna dan kita pun dengan bangga menyanyikan lagu kematian tuk makna yang hilang di telan masa. Sebelum pukul 6 tepat, kita berlomba-lomba menarikan tinta di atas kertas – entah rasa di dalam atau hanya konsistensi semata. Yang pasti harus ada, meski terkadang kalah dengan situasi atau keterbatasan media atau mungkin keterbatasan rasa yang semakin pudar hingga bolong di tengah-tengah donat yang kita makan.

Untukmu @sedimensenja a.k.a Jay

Terimakasih sahabat, berkatmu, aku menemukan sisiku yang pernah hilang karena realita. Menulis menjadi terapi untuk jiwa yang terkadang lupa akan rasa. Aku yang pelupa tak kan pernah lupa peristiwa dengan menulis bagian per bagian dengan imajinasi tak terbatas bahkan sebuah realita yang memuakkan. Oyah, aku ingin bertanya padamu. Selain nasi, apa yang kau santap setiap hari? Aku terkadang tak mengerti bagaimana kau tuliskan hal-hal di luar nalar dari sisi yang berbeda. Ah, menyebalkan. Kau selalu saja mendapati sisi yang tak terlihat. Sebagai sesama aquarian, aku merasa di belakangmu. Kenapa kita sesama aquarian tapi tak memiliki pandangan yang sama. Menyebalkan bukan?

Untukmu @iddaillyas – Sesama Pejuang LDR

HEI SIAPA KAU? Berani-beraninya kau hadir dan merusuh isi timeline-ku? HEI AKU LIHAT‼! ┻━┻Ԅ(╰ д╯)-σ Iya, aku lihat semua no mention-mu kepadaku. HIH! Buat kamu, coba sekali-kali perlihatkan juga rambut beserta isi kepalamu yang ditutupi kerudung cantik itu! Sungguh, bagaimana caranya Tuhan mempertemukan kita (red; sesama pejuang LDR) dalam satu program dan tukang pos yang sama. Menye-menye sekali bukan? Mengenai lelaki yang menjadi benang merah setiap suratmu; mengenai kegelisahanmu terhadap pengkhianatan; mengenai buntu yang hadir di kepala; mengenai aksara yang hilang makna, mari bicarakan. Sebagai perempuan satu cerita, aku harap kita tak hanya dapat berbagi luka namun cinta untuk masing-masing kepala.

Untukmu @siitiikaa – Wanita dengan ragu yang selalu mendesah

Entah cerita apa yang kau coba rangkai atau cerita yang kau coba bunuh. Aku melihat perpisahan kemarin meninggalkan altar tanpa sebuah ikatan pun pelukan. Jarak pun beda menjadi sakral yang lebihi rasa yang kalian miliki. Tika – Baron. Kalian, duh. Entah sinetron apa yang bisa menandingi kisah kalian. Tidak mengerti apa yang kalian ragukan, hingga cinta kalian sapu pelan-pelan dari halaman. Bukankah seharusnya itu jadi kekuatan untuk bertahan? Bukan lantas mati di tempat. Ah, sudahlah. Aku harap kau membawa kalian – kau dan baron – beserta cerita dan harapan saat pertemuan nanti. Horas!

Untuk kalian yang kusebutkan diatas, temui aku dengan cerita di saku celana saat Gathering #30HariMenulisSuratCinta. Aku kan berbagi meja dengan senyuman di atas dan segenggam doa sebagai pelukan. Seiring uap kopi yang hilang ataupun dingin di dasar kopi yang pahit, aku rasa kita memerlukan cangkir lebih untuk memasang kembang api dalam kepala kalian. Mungkin kalian bisa tumpahkan getir ataupun sesak yang mampir dalam sebuah cangkir. Oyah, jangan lupa membawa pasangan kalian. Aku akan membawa lelaki soreku yang selalu menghiasi sudut cerita di tiap surat merah jambu. Aku harap kalian tidak akan keberatan, jika hanya cinta yang sanggup menjadi buah tangan ketika lambaian tangan melepas kebahagiaan di sana.

Ah, aku senang perjumpaan hanya sebatas jengkal dari pikiran.

Selamat bertemu dalam nyata!

 

Tertanda,

Wanita Sore.