Tags

, , , , ,

Di atas taplak ia tata rapih lipatan harap yang murai rapuh, angin pun kuasa besar tuk hancurkan sekali tiupan keruh. Meja bundar dengan garis penuh guratan kayu, berlambangkan ragu yang menua bisu. Bantal-bantal pemimpi dengan awan di kepala, menembus belahan sisi dari tiga ke empat masa suatu ketika. Seraya malam, mengetuk pintu perlahan. Izinkan, biarkan ia datang lagi. Biar ia berkuasa hingga pagi menjelang di tengah malam yang jalang. Tak kan ia bersiul nyanyikan sendu di tengah sepi ruang, kembali jiwa tak berpulang. Tersesat, lagi ia tersesat di tengah-tengah masa silau dengan kedap ruang kasat.

Purnama malam kemarin tak bertombak bintang, tak pula memberi harap simpang lapang. Hanya tangan yang memeluk erat depan dada, hingga dingin menusuk mata. Ia berharap pada malam, datangkan pagi sedekap harap kelam. Membantu berhitung pada pualam, mengetuk lagi telinga yang geram. Sudikah angin kembali datang, membelai hitam di kepala sang malam. Hingga lagi kembali jalan pulang tak lagi berlari-lari ke dalam.

Biarkan saja, jika gulita mengelitik sang jelita yang buruk rupa. Hingga terlelap mata di telan pikiran-pikiran buta. Sudikah ia mainkan jemari di tengah meja, menunjuk lautan dengan cermin langit ruang hampa? Berputar bagai badai di tengah ombak pikiran, menjilat-jilat tangga menuju kuasa Tuhan. Hanya pasir dengan bulir-bulir doa yang menjadi taplak, pun ujung lautan yang hilang tampak. Ia muak.