Tags

, , ,

Dari banyak ramai sebuah sepi di jeda antara. Mencari sejati sebuah niscaya, sebuah pelukan bernama rumah. Berlari terkadang terjatuh, luka lutut yang kian menuntut salut. Mencari tetap mencari, meski lelah menari. Menerka terkadang mencerca, sebuah singgah yang tengah jengah.

Menaruh percaya pada lengan yang siap menjatuhkan, membuang bahagia di tiap-tiap kesempatan. Hanya jemari sang penutup muka, biarkan buta di kedua mata. Lagi kembali hilang, bahagia dan duka yang bersulang. Bersatu pada anggur yang tak ubahnya dosa yang menjamah di tiap sela, tinggal nyata tertelan bulat-bulat. Gunakan pedang tuk sekedar membela, kejatuhan yang mendulat. Hingga putih pun terasa hitam di kepala, sebuah hati yang tak dipertanyakan.

Pesta pora pertautan kata tentang kebohongan yang diagungkan. Mereka tuli akan kebenaran. Percayakan percaya pada bukti hilang makna. Pembelaan atas salah yang dibenarkan. Bagaikan sang pejuang, percaya menang. Kebenaran tak lagi ubah kubangan hitam untuk kaki hindarkan. Mereka tak kenal menyerah, pada bukti pembenaran. Lupa tuk sekedar berserah. Jatuhkan lutut perlahan, melipat tangan di dada, berserah sebuah kuasa.

Adakah yang salah, mempertaruhkan kuasa tuk berserah pada Sang Penguasa?