Tags

,

Malam ini aku menyiapkan makan malam untuk suamiku. Kami duduk berhadap, dengan diri di ujung masing-masing meja panjang, jeda terpanjang sebuah jarak meja. Dengan sup cinta yang dingin sejak entah; dengan ikan berlumur dosa yang kian amis di hidung cerita; dengan wine sepahit nyata; dengan keputusan di piring masing-masing lidah. Aku menyiapkan sehelai kebahagiaan sebagai taplak di meja, namun suamiku memilih tuk menyiramkan dosa sebagai coraknya. Kami terdiam, hanya mata yang saling buang arah. Sebuah ramai akan sepi, keheningan di atas meja makan.

“Mas, dimakan dulu supnya, keburu dingin.” Alihku pada nyata, menolak dingin telah menyelimuti sup. Mataku tak beranjak dari piringku, hanya senyum yang kembang kempis dengan embun di ujung mata yang menolak ingin. Suamiku diam. Matanya pun diam, tak beranjak dari angan. Aku diam, suamiku diam – seperti hati kami yang beranjak pergi dengan diam-diam.

Kemudian suamiku mengerakkan tangannya – tangan yang entah sejak kapan kurindukan tuk menggenggam kuat di antara jemariku, lagi. Aku pikir suamiku kan mengambil sup yang kuharap tetap dinikmati – meski dingin menyelimuti, namun ia lebih memilih ikan yang kian amis oleh busuknya dosa. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya, hanya kecap lidah yang menikmati. Setelahnya, ia menenggak wine sepahit nyata dan mengelap bibirnya cepat-cepat. Makan malam terlama pun tersingkat yang pernah ada di rumah kami.

Inilah makan malam terakhir yang kami punya, sebelum akhirnya ia melipat harap dan mengunci rapat pada koper berkunci empat. Ia pandai, entah sejak kapan harapan kami mati di dalam koper dan dibawanya jauh-jauh dari rasa. Harusnya setelah makan malam ini, ia memintaku berdansa, setidaknya. Membiarkan diriku menginjak kakinya, mengikuti langkah entah kan membawa kami kemana. Namun aku hanya duduk di jendela, menyaksikan harapan kami mati tanpa nafas dalam kotak segi empat yang ia bawa ke wanita yang entah. Inilah makan malam terakhir kami, sebuah pemakaman rasa dalam kubangan harapan kelam.

“Mas, jangan pergi. Kami membutuhkanmu, sungguh.” Suamiku berselingkuh dan pergi begitu, tanpa pernah tahu, aku menyiapkan kabar paling bahagia sebagai pencuci mulut. Aku tak lagi mandul, aku mengandung buah cinta yang ia tunggu.