Lumpur dibawanya ke mata, membuat buta sang nyata. Sutra dari bibir dengan hujan buatan memperdaya, merengkuhlelahkan belas percaya. Kau sebut diri sahabat, sakitku adalah sakitmu, katamu. Priamu berselingkuh! Putuskan saja – begitu saran yang kau lempar di otak. Suaramu lebih parau dari priaku yang sedang sakau, jauh lebih candu dari bau tembakau. Perinci dengan segala rinci kau beri tiap bukti, priaku mengkhianati. Kau masih bersikeras, berharapku berbelas.

Diam saja. Aku tahu apa yang kau tak tahu. Mencintai priaku lebih dari apa yang mereka pertanyakan; lebih dari indahnya kupu-kupu sang ilalang; lebih dari manifestasi jingga sang senja. Mempercayaimu dan meninggalkan priaku, begitu yang kau mau. Beri kemari morphin sebanyak udara yang kau hirup, biar bertahan kuhirup hidup tanpa nafas priaku.

Mari sepakat untuk tidak sepakat. Tak kan kulepas jemari yang mengikat, memeluk priaku lebih erat dan langkah jauhkan kaki yang kau derap. Kau datang hanya sekilat, membawa muslihat untuk apa yang ingin kau dapat. Lelakiku tidaklah sempurna, tapi ia tahu bagaimana mencintaiku dengan sempurnanya. Usah kau bersusah tuk duduk di wajan sang duka, merebut paksa ia yang kucinta. Lompat saja dari satu pikiran muslihatkan jejeran masa di muka, menjanjikan jalan baik dengan salam berdusta. Selamat datang, pencuri cinta!

Aku tak kan melepas untuk apa yang ingin kau rampas!