Satu, dua, tiga. Gadis lincah bermain di atas kepala. Bersungut lidah di bawah bantal. Banyak sekali ia bicara, tuan. Hingga derita disimpan dalam tawa. Seperak dua perak dikumpul dalam saku celana awan, bermandikan cahaya hujan. Biar saja, peduli setan dengan kawan. Perut harus terisi meski jemari yang ia nikmati. Kenyang, sungguh kenyang. Seperempat terisi jemarinya sendiri, sisanya jemari penduduk kota delusi mati.

Pipi merona gincu murah pinjaman, memutar celana agar terpugar pagar sang vulgar. Dagunya di tarik angin, banyak ingin mati dingin. Goresan belati di punggung langit, pertanda datangnya pergi. Tumbuk hujan perkara senja, orasikan nestapa para petapa. Kemudian bangkit dan tertawa sendiri.

Kawan mati, mari makamkan dalam selimut pencuri. Persetan, sekali lagi. Biar saja kenyang menghantui raga tak berpenghuni. Sungguhkah tiada yang lebih baik dari pinta yang mati?