20130324-155435.jpg

“Jangan pergi!” Gadis itu memohon. Lelaki di belakangnya sudah siap dengan kemeja bermotif gula. Kembang api akan tumpah di angkasa malam ini. Merah, kuning, hijau, biru dan warna lainnya kan buncah di udara. Sama seperti kemarin, sang gadis berkepala tujuh. Berkali-kali ia susun agar cukup, lamun selalu jatuh. Kepingan perak tergores membentuk lima, tak satupun hilang dalam kepala.
“Tapi, kau butuh ruang.” Tegas lelaki itu, matanya tak berpaling dari langit paling kelabu. Lelaki berkemeja gula, muak oleh gerimis yang terlalu manis. Ada langit yang siap berwarna tanpa perlu menangis.
“Baik, pergilah.” Gadis itu terjatuh tepat di kedua lutut. Matanya tinggal beberapa inchi sebelum masuk dibalut. Lelaki berkemeja gula, dengan kembang api di tangan, siap membakar duka paling nestapa di angkasa buta. Ia jenggah oleh luka. Selangkah demi langkah, mendekatkan pada langit yang paling berkuasa. Gembira adalah tangis yang ia sembunyikan dalam kotak tawa. Hingga akhirnya gulita menelan sang lelaki dalam bayang yang malam.
“Aku butuh ruang, namun ku butuh kau tiada berkurang. Seperti bayang yang tak kan pernah hilang, tetaplah tinggal tanpa kubilang.” Hati sang gadis yang bisu menggelar ramai paling bising di kepala. Seketika hujan turun di pekarangan.
Gerimis tak lagi manis, sungguh hanya pelukan yang sang gadis ingin tuk mengikis. Jika lengan terabaikan, berilah telinga pengganti pelukan paling puitis.