Tiada hari libur, Ibu selalu membangunkanku dari tidur.
“Waktunya bersujud.” Ibu berbisik di telinga dengan suara paling merdu. Serupa dawai yang lembut mengalun, Ibu menyentuh pelipisku dengan bibir paling ranum. Padahal embun belum jua turun, namun bersujud adalah kewajiban kala subuh di ubun-ubun. Tiada paksaan, Ibu berkata dulu. Pilihanku, segera bersujud atau kembali tidur. Pilihanku, segera melanjutkan berwudhu setelah Ibu. Kami membentuk shaft ke arah kiblat. Ibu mengimami dan mengamini segala doa. Kata Ibu, jika nanti aku memiliki suami, Ia lah yang kan menggantikan Ibu setiap hari.
Aku mencintai Ibu, seperti kecintaanku merapal doa setiap waktu. Dan bagiku, inilah caraku dengan ibu bercinta dengan doa-doa yang kami amini selalu. Mengikutinya bersujud dan tersenyum dalam pilu. Baginya, inilah cara terbaik saling memeluk tanpa perlu menyentuh. Berdoa untuk satu, keluarga kami yang utuh.

Inilah hari libur, kala ayahku membangunkanku dari tidur.
“Saatnya ke Rumah Tuhan.” Ayah berbisik dengan kumis putih paling mengelitik. Kali ini tak hanya embun yang telah turun dari dedaun, namun keringat Ayah yang kini ikut mengucur dari dahi ke dagu yang kini mulai keriput. Tiada paksaan, Ayah berkata dulu. Pilihanku, segera bersiap ke Rumah Tuhan setelah perut terisi atau tidur kembali. Pilihanku, segera bersiap dan mengikuti Ayah setelah perut terisi penuh di angka sembilan lebih tiga puluh. Ibu mengantar kami ke beranda depan pintu, melambai dengan senyum paling sendu. Anaknya yang tadi Ia ajak bersujud kala subuh, kini harus mengikuti Ayah ke Rumah Tuhan yang baru.
Di jalan, aku dan Ayah tertawa dan bercerita tentang pagi yang jalang. Hingga jarak tak begitu jumawa membentang meski mentari berkuasa atas kami yang berjalan di trotoar-trotoar usang.
Rumah Tuhan yang Ayah selalu sebut berada di Kota, sebuah gereja tua. Sesampainya kami, Ayah memberi alkitab dan salib untuk berdoa nanti. Ia menuntunku untuk duduk saling berdamping di sisi. Aku melihat Ayah tersenyum bahagia melihat anaknya berada di Rumah Tuhan yang Ia miliki.
“Aku mencintaimu, anakku.” Ucapnya penuh haru. Ayah jarang mengatakannya, mungkin bisa kuhitung. Aku memeluk Ayah sebelum Pendeta memulai doa di depan altar. Kali ini, aku sungguh bahagia karena Ayah.
Aku mencintai Ayahku, seperti kecintaanku merapal doa setiap waktu. Dan bagiku, inilah caraku untuk mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Ayah, dengan ini pula aku dan Ayah bercinta dengan bernyanyi dalam doa. Nyanyian dalam gereja tua, melipat tangan dengan salib di dada. Aku dan Ayah, sungguh bahagia. Dalam gereja tua aku berdoa,
“Tuhan, yang bernama entah. Dalam beda, Ibu dan Ayahku bersatu kepadaMu dalam tiap doa yang berbeda. Dalam beda, buang perkara yang sanggup memisah. Dalam beda, sungguhkah kau benar ada?”