Terdengar dari sini. Suara-suara pantulan sunyi yang menyelinap lirih dari pangkuan malam. Bergelimang luruh langit yang berkecamuk, menarikan lagu sendu peminta harap. Serta doa-doa yang tertinggal di lantai gudang.

Angin enggan bernyanyi, kini. Suaranya senyap dibunuh jelantik. Penari tanpa peluang meminta pulang. Berhiaskan gincu yang mumpuni, sungguh biar diri merasa cantik. Digelarnya mimpi berbantal usang, mati sudah cerita tak berulang.

Satu persatu dilepasnya kain berbalut kulit, serta topeng-topeng pencipta senyuman pahit. Ia jengah tuk bisu dalam beku, lelah berselimut dingin biru. Sungguhkan pagi janjikan harap baru?

Anginpun enggan bernanyi, sekedar memberitahu, rahasia-rahasia magis tak kala hujan membasahi. Pantulan rintik dan nyanyian jangkrik berdansa dari timur ke barat. Memusatkan gulita pada pendar yang memudar. Dimana pertanyaan dibunuh oleh jawaban, angin enggan bernyanyi hanya gerimis yang menari di atas kepala sang penari.

Dan angin enggan bernyanyi, di keterasingan bayang beranda rumah sebelah kiri. Detaknya berjanji, berhenti seusai menanti.