“Kotaku tak seindah kotamu. Tak ada senja, hanya gedung-gedung tinggi dengan kabut hitam yang memerah sebelum malam. Seperti biasa, hanya polusi dari kendaraan yang menyusun warna langit.”
Aku hanya tersenyum. Bukan karena dada yang masih Ia lingkarkan di punggungku, tapi karena kata-katanya. Mataku masih tertuju pada orasi jingga di pesisir pantai yang bermain-main dari balik awan lepas samudra.
“Aku mencintai senja, seperti kumencintaimu. Kamu tahu gak kenapa?”
“Enggak. Maksudnya?” Ia melepaskan pelukan dari punggungku, berpindah tempat ke depanku dengan raut tanda tanya. Hanya sejengkal jarak di dada, menutup sebagian senja dari mata. Langkah kumundurkan selangkah, dengan tangannya yang kugenggam erat diantaranya.
“Nah. Seperti sekarang.” Mataku tersenyum menatapnya, sesekali mencuri-curi ke arah senja. Ia mengernyitkan alis, dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkurung di bibirnya yang magis.
“Maksudnya? Kok aku makin gak ngerti yah?”
Aku menarik nafas, menyimpulkan senyum dengan mata.
“Kamu itu, seperti senja. emang sih selalu ada di tiap harinya, tapi selalu memberikan warna yang berbeda. Tidak pernah sama, tapi itulah yang membuatku jatuh cinta. Kalian serupa, selalu membuatku jatuh cinta, berulang-ulang selalu sama dengan beda di tiap harinya.”
Ia hanya tersenyum, kemudian menarik kepalaku tenggelam dalam dadanya.
“Sebab itulah, aku mencintai senja seperti kumencintaimu.” Kataku kemudian, masih dalam pelukan.
“Kamu tau gak?” Kataku sambil melepaskan pelukan.
“Apa lagi, sayang?”
“Jangan kira, senja gak akan hadir di kotamu hanya karena tak ada pasir dan samudra atau hanya karena mentari yang tenggelam antara pencakar langit dan polusi ibukota.”
“Loh, memang iya. Buktinya aku jarang sekali mendapatkan senja yang indah di sana. Sekalinya ada, ya tidak seindah di kotamu ini atau hanya tenggelam dalam polusi-polusi ibu kota di antara pencakar langit kota.”
“Kamu ingat, saat kita berada di rooftop salah satu mall?”
“Ingat. Kamu juga ingat gak, gimana senjanya hanya campuran biru, merah dan abu-abu? Itu tuh, ya gara-gara polusi di mana-mana.”
“Aku ingat kok. Tapi aku yakin, kamu pasti lupa. Bagaimana semesta mengantikan senja, sesaat senja telah dimakamkan.”
“Maksud kamu? Setelah senja?”
“Iya. Kamu pasti gak sadar, bagaimana senja diciptakan semesta di kota-kota.”
Ia hanya terdiam, masih dengan pertanyaan yang terkurung dalam bibirnya.
“Sayang, semesta berbaik hati bagi warga kota seperti kamu yang mencintai senja. Senja gak melulu warna jingga dari mentari yang berorasi dengan biru menjadi sebuah lembayung. Senja itu bisa hidup di hati kamu. Coba lihat lebih dalam, saat senja dimakamkan. Ada senja yang hadir di mata, dengan bentuk lampu-lampu kota.”
Matanya penuh tanda tanya namun berangsur-angsur hilang oleh senyumnya.
“Ah, kamu ngarang aja. Mana ada senja di lampu-lampu kota.” Ia hanya tertawa, tapi aku yakin betapa Ia membenarkan kata-kataku sebelumnya. Senyumnya kembang-kempis dengan tawa kecil, dekapnya kembali pulang.
Serupa puisi yang enggan mati muda, bibir kami berlinang doa-doa. Langit meredup malu-malu, seperti semesta yang iri melihat kami bercumbu. Sepasang hati dengan langit berbeda, kembali pulang di senja yang sama.