Ada segelintir waktu yang menjelma pasir, kian jauh saat peluk tak lagi hadir. Di dadanya, segala detak turut berakhir.

Di kepalanya, segala doa digelarnya seramai pasar malam. Sedang bibirnya, melantunkan senyum kelam jauh sebelum hari sungguh tenggelam.

Berjalanlah ia, jauh dari kepalanya yang tercecer di altar gereja tua. Serta segala doa, membunuh dirinya sendiri di belakang lidah.

Ada yang patut disampaikan, serentetan puisi yang mati muda. Sedu sedan hanya irama jauh detak tak bersuara. Sungguhkan tiada lagi ada?