(Kolaborasi dengan @arhamrsalan)

Wanita sore, sedang hujankah langitmu? Kau tampak membisu di riangku. Sosokmu pucat pasi. Ah, biar kutemui kau dalam adagio mimpiku.

Ah baiknya jika malam menyapa tanpa hujan di selasar rumah. Baik-baik saja tumbuhan tanpa terusik riuh rinai yang berebut jatuh.

Entahlah, selasar rumahku serupa gerbang labirin. Aku selalu tersesat di dalamnya. Hingga kutemui kau sore itu, semesta menyembahku.

Nampaknya rumah memberi sesat pada tuan sang pemilik semesta. Aku bersembunyi di antara labirin dengan altar yang berbeda-beda.

Hadirmu adalah alasan yang tak pernah bisa kujamah maknanya. Biar saja langitku berseru; tentang setiap tanya; tentang Tuhan; atau pohon ara.

Mari beramai-ramai dalam sunyi, tuan. Tanya menjadi alasan bagi kedatangan sebuah jawab. Jiwa penyeru langit yang kelam, bintang tampak buram.

Nikmati saja regukan-regukan itu. Bintang tak mungkin buram, jika biasmu tak serupa pekat. Kau adalah warna, yang serpihannya telah kuhirup.

Aku adalah warna yang dangkal namun dalam, tuan. Jangan melihat terlalu dekat, nanti kau buta. Biasku tak serupa indah. Jangan biarkan diri tenggelam dalam. Selamatkan dirimu, tuan! Selamatkan!

Wahai wanita sore… Aku adalah pesakitan yang melaknat dalam celah. Aku adalah busuk yang memuja kebekuan. Biarkan aku buta.

Jika buta nanti, biarkan hatimu sebagai mata yang menuntunmu kedalam, tuan. Di beranda rumah aku menunggu, meski gelap tak kan mengapa. Bukankah percuma kunyalakan lampu di taman, jika gelap di pelupuk mata?

Kau tahu, aku adalah metamorfosa atas setiap denyut nokturno. Dan pagi melahirkanmu. Sesaat setelah aku hendak membakar maknanya yang prematur. Persetan dengan gelap itu. Aku lahir dan bernafas dalam pekat. Jika semesta memberi asa, akan kumaknai dia cahaya.

Nampaknya kau mulai buta, tuan. Warna tak lagi bisa kau bedakan hanya rasa yang kau lumat habis tiap malam. Bisakah kau berjalan tanpa tersesat?

Aku sudah lama buta. Jika cahayamu tak ada di langitku, aku bisa menggenggam Bumi. Biar matahari mengikutinya.

Pulanglah, tuan. Jangan membuatku menunggu dalam gelap. Lelah bermain-main di pelupuk mata. Bagaimana aku menemukan rumah, jika hadirmu selalu hilang dalam temaram. Tak kembali jua. Pulanglah tuan, aku membutuhkan pelukmu melebihi malam menginginkan cahaya. Dingin membunuhku perlahan tuan, aku membutuhkanmu.

Aku sayang kamu.🙂

Dingin masuk kerongga dadaku yang penuh asap. Hilang kuasa tuk bernafas. Pulanglah tuan, peluk adalah hangat yang kuimpikan. Dadaku riuh sesak, buncah ramai dalam kepala. Aku membutuhkan rumah tuk pulang. Aku rindu disana.

Kupajang seribu pelukan tepat di depan pintu rumahmu. Tunggu aku disana, sayang.

Pulanglah tuan, bingkiskan dekapan hangat yang kumau. Aku membutuhkanmu. Aku takut pada malam yang begitu jalang.
Aku membutuhkanmu….

Tak jua kau tampak, belum lagi pulang sebelum pagi berjejak. Aku mulai lelah, tuan. Pulanglah, pulang. Meski hanya sejenak.

27 Januari 2013