tidak ada yang benar-benar mati. bahkan kematian pun tidak benar-benar mati. mana yang benar? benar-benar mati atau mati yang dibenar-benarkan.

mati yang mati(?)

apa benar, orang yang sudah mati benar-benar mati? atau sebenarnya tidak, tapi kita yang menganggap mereka benar-benar mati? mereka yang mati atau kita yang mati? menganggap orang lain mati, tapi sebenarnya kita lah yang mati.

kematian sebuah mati(?)

suatu kala, keriuhan terjadi di taman kehidupan. mereka bersorak, kelahiran sebuah kematian. dengan burung gagak di gereja-gereja tua dan perawan-perawan tua dengan cawan ketiga.

“hore, mati sudah mati!” sorak mereka buncah seperti malam mendamba cahaya. para kematian yang terlebih dahulu mati menghunuskan sari pati belati di dada kiri.

bagaimana mati bisa digantikan oleh kematian yang lain? atau mereka berdua sama, meneguk racun kemudian mati sebagai sepasang kekasih? nyanyian gagak menghiasi kematian si mati. ada warna serupa dusta yang mati inginkan sebelum benar-benar mati. epitaf hanya alamat-alamat bagi mati. Indentitas bagi kematian. dengan alamat yang kemudian ikut mati.

malam, burung gagak, serta kematian selalu pekat. serupa warna kebenaran yang mati muda. padahal kebenaran sungguh berbakat, ia lah berkat di sekat serat paling tersurat. apa kalian tahu kebenaran setelah mati berbentuk apa? apakah berbentuk dusta, bulat, persegi empat atau serupa dirimu yang sedang bercakap?

apakah kematian juga punya jam tidur malam? atau percakapan yang bisa kita dengar di sela-sela tanah bermakam? apakah kematian juga bisa lupa, bahwa mereka sudah mati? atau mungkin, kematian menertawakan kita, bahwa bukan mereka yang mati tapi kita. Hahaha.

ironis sekali, kita menertawakan kematian sedang kita lah yang mati.

jadi sebenarnya siapa yang mati? kita atau kematian? atau kitalah kematian itu sendiri?

kematian yang mati(?)

kematian selalu datang di kepala. tepat sebelum malam benar-benar mati. ingatan-ingatan membunuh mereka semua agar mati tepat waktu. kemudian untuk mengakui kebenaran kematian, tak ada yang lebih baik dengan mati terlebih dulu.

tertawalah, buat lelucon untuk kematian. agar mereka benar-benar mati tanpa harus kau bunuh dengan belati keabadian.

mati menertawakan kematian. Kematian menertawakan mati.

sungguh jenaka, mereka tertawa bersama. seperti lelucon tentang kematian. mereka sama-sama mati dan saling menyebut siapa yang benar mati. kematian tidak punya tangan, kalian tidak akan pernah tau kapan ia akan berkunjung dan mengetuk pintu. ia tak punya tangan!

jika mereka tak saling menunjuk dan mengakui kematian, air mata mereka tak kan pernah sanggup menangisi makam mereka sendiri, bukan?

kematian itu angkuh, mati itu egois.

apakah kematian boleh berdoa? atau di sanalah doa-doa menguburkan diri sendiri. mati bersama pita suara. kemudian kematian mati, dikuburkan bersama doa-doa oleh tuhan.

“tuhan, boleh aku minta 1 hal sebelum aku mati?” tanya kematian. “biarkan doa hidup di kematian kami yang mati, bolehkah?” tanyanya kemudian.

karena tuhan maha jenaka, ia tak hanya membiarkan doa-doa tetap hidup dalam kematian, tapi menjadikannya lampu tidur di makamnya. tuhan mengubur mereka bersama dalam 1 makam. kematian hanya meminta doa, tidak meminta dosa.

“kau bodoh sekali! harusnya kau minta dosa juga ikut mati bersamamu. Hahaha” tuhan tertawa.

kemudian tuhan menaburkan dosa-dosa sebagai bunga kamboja di atas makam mereka. membiarkan mata melihat sebaliknya. hidung mencium kebohongan nyata. kematian berbau busuk, sedang kamboja beraroma baik. ya baik, baik sekali serupa kematian. begitu mereka selama-lamanya. mati dalam keabadian.

kematian, lampu tidur dan kamboja tetap dikenang hingga sekarang. kematian yang mati.

dibalik makamnya, kematian tertawa. “tuhan yang bodoh! bukan kami yang mati, tapi kau yang mati! hahaha.”

tuhan mengira kematian sudah mati. kematian mengira tuhan sudah mati. mereka saling mengira-ngira hingga keduanya mati.

inikah kematian tuhan yang mati?