Tags

Image

Adakah guna, sepatu tua tanpa pemilik dan tak lagi sepasang?

Kirana masih saja menggoreskan kapur itu di dinding, menghitung tiap hari dan menanti dengan sabar di beranda di tiap sore. Kirana masih percaya, Ginanita, anak kami satu-satunya kelak akan kembali dengan cucu-cucu kami yang entah bernama siapa. Setiap hari, Kirana akan berdandan dengan cantik dan menyiapkan teh hangat sambil menanti, sebelum akhirnya malam merebut senja, sebelum akhirnya malam merebut senyumnya. Seperti biasa, setiap malam Kirana hanya akan bersembunyi di pelukku, menangis hingga matanya lelah dan tertidur.

Entah ini purnama keberapa, atau musim keberapa yang terlewat tanpa satupun kabar dari Ginanita. Setelah kami mengetahui Ginanita hamil di luar nikah, Kirana geram dan mengusirnya dari rumah. Sejak saat itu, Kirana mulai seperti ini. Pernah suatu hari aku mencari Gina, tapi hanya jejak yang tak sanggup kupahami. Gina bunuh diri dan aku adalah pengecut yang membunuh kata-kata di balik lidahku sendiri. Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana hancurnya hati Kirana, jika mengetahui hal ini.

Inilah tahun-tahun yang panjang bagi kami.

Suatu sore, seperti biasa. Kirana sudah berdandan dengan sangat cantik, tidak, kali ini ia sungguh cantik. Aku selalu bersyukur, bagaimana Tuhan menciptakan pulang sebaik ini. Menghitung tiap kerut di wajahnya dan menyentuh rambut yang kini kian senja. Aku beruntung, memiliki perempuan secantik Kirana di hidupku.

Kirana sudah di beranda dengan sepasang cangkir yang terisi satu. Sesekali ia merapihkan rambutnya, pakaiannya atau sekedar membenarkan posisi duduknya dan melihat ke pagar depan rumah. Aku mendekatinya. Cangkirnya tak lagi hangat, entahlah. Kurasa tertelan dinginnya perasaan Kirana sore itu.

“Pak, Ginanita belum datang ya Pak?” tanyanya lirih.

“Belum. Kita tunggu ya?” Aku memeluknya, berusaha mengembalikan senyumnya yang terbawa angin pukul enam.

“Ibu percaya, Gina pasti akan pulang dan Ibu pasti ketemu sama Gina hari ini.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Iya, Bu.” Aku tak sanggup berkata banyak. Terlalu banyak kebohongan yang telah kusampul pita agar Kirana tetap tersenyum, menghitung potongan senja dan percaya esok, pagi akan menepati janji.

“Mungkin, kita hanya sepasang sepatu tua yang tak berguna ya Pak? Yang hanya tergeletak dalam rak sepatu berdebu, yang tak memiliki tujuan selain tong sampah. Jika Gina adalah pemilik sepasang sepatu itu, bukan tidak mungkin ia tidak memerlukan kita kembali dan membuangnya bukan?” Kirana tak sanggup lagi menyembunyikan luka dan aku dapat merasakan bagaimana mendung di matanya kini telah berguguran. Aku terdiam, semakin bungkam. Aku memeluknya makin erat, iya sangat erat sekali. Hingga nafasnya tak sanggup lagi kudengar.

“Bu, Ibu?” Aku tak merasakan ada denyut dalam pelukku dan nafasnya tak lagi jadi angin yang bising di telingaku. Tidak, ini tidak mungkin. Kali ini, malam tidak hanya merebut senja, tidak juga merebut senyumnya. Malam merebut Kiranaku.

“Kau benar bu, hari ini kau akan bertemu dengan Kirana. Maafkan aku.” Tidak ada salam perpisahan yang sanggup kuberikan selain mengecup kening dan memeluknya tubuh Kirana yang malam. Barangkali Kirana juga benar, perihal kita adalah sepasang sepatu tua. Dan kini, sepatu tua itu bukan hanya kehilangan pemiliknya, tapi juga pasangannya.