Tags

53a8ec9bc2b1c5f224bc7e646a202627

TOMBOL PENGINGAT. Sayang, apa kau masih lupa? *click*

“Kau sudah tampan sekarang.” Aku menghapus sedikit gemercik air yang nakal bersembunyi di sudut mataku.

Namanya Ferdian. Dia adalah cinta pertamaku. Sewaktu kecil sejak kematian Ibu, Ferdian adalah satu-satunya pria yang benar-benar menjagaku. Aku selalu ingat bagaimana Ferdian membuatku jatuh cinta dengan segala hal-hal kecil. Perhatian, kejutan bahkan senyumnya di setiap pagi. Ferdian tidak pernah luput memberiku hadiah di setiap ulang tahunku. Aku benar-benar dibuatnya jatuh cinta.

Ini adalah bulan ketiga setelah kami berkomitmen untuk menjalin hubungan. Ini juga purnama kedua setelah ia merenggut paksa kesucianku. Ia bisa jadi seperti anjing gila, ketika menikmati tubuhku. Menjilati seluruh tubuh dan bertingkah sangat liar. Aku tidak peduli, aku mencintainya. Iya, aku benar-benar mencintai Ferdian.

Malam ini kami merayakan hari jadi kami sekaligus merayakan ulang tahunku yang kedua puluh lima. Aku dan Ferdian sudah memesan sebuah villa di daerah Ubud. Tempat yang nyaman, dengan taman yang luas dan sebuah kolam renang. Kami juga bisa melihat langsung pemandangan bukit-bukit dan hamparan sawah dari jendela kamar kami. tempat yang menarik dengan harga yang sangat terjangkau.

Ada yang berbeda malam ini. Jika biasanya, Ferdian selalu memberikanku hadiah setiap ulang tahun. Tahun ini, malam ini, aku yang akan memberikannya hadiah kecil untuknya. Ya, anggaplah sebagai hadiah hari jadi kami. Sebuah permainan dan Ferdian benar-benar bersemangat ketika kusampaikan ideku ini. Kami sudah memainkannya dari tadi sore. Dia berperan sebagai pengantin pria yang hidung belang dan aku menjadi pengantin wanita gila yang akan menghukumnya. Aku mengikat tangan dan kakinya dengan sebuah borgol di sebuah kursi, kemudian mencumbu sambil mengiterogasinya dengan seksi. Tak lupa juga sedikit cambukan untuk memaksanya menjawab yang selalu kulanjutkan dengan ciuman. Aku juga membungkam mulutnya, agar permainan ini benar-benar menarik.

Sekarang, Ferdian sudah terlihat tampan. Ia sudah menggunakan tuxedo dan dasi kupu-kupu sedari sore permainan kita dimulai. Aku juga tak pernah lupa untuk menata rambutnya yang kini mulai beruban dengan gel. Ferdian selalu tampan, di mataku.

Aku mengganti pakaianku dengan sebuah gaun putih yang cantik. Dihadapan Ferdian? Tentu saja. Dia selalu suka melihatku berganti pakaian, bahkan sering diam-diam mengintipku sedang mandi dari lubang kecil di kamar mandi. Gaun putih ini sangat cantik, dengan banyak renda di lengan dan bagian bawahnya. Aku berjalan menuju cermin besar di kamar itu, berputar, berputar dan berputar layaknya seorang puteri. Ah, ada yang kurang. Gincu merahku. Aku segera menuju meja rias, merapihkan riasanku dan menggunakan gincu merah itu. Aku melihat ke arah Ferdian, dia hanya diam. Aku tahu, Ferdian paling suka ketika aku menggunakan gincu merah ini.

“Kamu, akan jadi wanita paling bahagia malam ini.” Kataku kepada wanita di balik cermin itu dengan senyum paling cantik. Setelah merasa sempurna, aku menghampiri Ferdian. Merapihkan sedikit jahitan yang terlepas. Aku melihatnya lagi dengan wajah berseri-seri.

“Sayang, selamat bulan ketiga.” Aku tersenyum dan mencium bibirnya.

“Oh iya, aku lupa. Aku ada kabar gembira! Kau mau tahu?” Aku menggodanya. Ferdian tetap bungkam dan hanya memandangku dengan tatapan aneh.

“Aku… Aku hamil! Hore!” Aku bersorak riang dan menari sendiri menggelilingi Ferdian. Aku tahu, Ferdian akan senang dengan berita ini.

“Akhirnya kita bisa hidup selamanya! Iya, selamanya! Ah, aku senang sekali sayang.” Aku memeluknya erat.

“Tapi, tunggu! Sekali lagi aku tanya. Siapa wanita yang kau tiduri kemarin! Katakan padaku!”

Aku mulai geram, ketika mengingat lagi kejadian itu. Kemarin, aku pulang lebih awal karena merasa kurang enak badan. Tapi ketika sampai rumah, aku dikejutkan oleh Ferdian yang sedang asik menyetubuhi wanita lain di kamar kami. Aku geram dan mengusir wanita itu. Ketika kutanyakan siapa wanita itu, Ferdian tidak mengaku dan malah menamparku.

“Oh, baiklah. Kalau kau tidak mau mengatakannya juga. Haduh, mungkin kau lupa ya sayang?” aku mulai mengernyitkan dahiku. Aku memeluk dan menciumnya kembali,  kemudian aku menekan tombol di topi besi yang kupasang di kepalanya.

“Sayang, apa kau masih lupa?” Aku mengernyitkan kembali alisku dan hanya tertawa melihat darah segar mengalir dari jahitan di bibirnya. Ferdian meringgis. Berusaha berteriak tapi tak bisa. Borgolnya terlalu kencang dan semakin ia berontak, aliran listrik ke kepalanya akan makin besar mengalir.

“Bukankah lebih baik seperti ini, Pa? Daripada bibirmu selalu bungkam ketika kutanya dan malah mencium wanita lain?  Dengan begini, aku bisa memilikimu selama-lamanya. Iya selama-lamanya. Ahahaha…”

Ferdian sayang, Papaku malang. Kau tahu bukan, hanya aku yang boleh memilikimu?