Tags

hug-day-status-updates

Langitmu masih saja dirundung mendung, menghujani dadaku dengan kesedihanmu. Ini menit ketigapuluh dan kau belum juga ingin luluh. Peluh hatimu seakan merayu untuk terus menderu di dadaku. Aku hanya terdiam dan membatu.

“Kamu tahu kan, Mon, rasanya jadi aku? Aku gak habis pikir sama Roy. Kenapa dia tega selingkuh di belakangku sih, Mon? Kenapa Mon?” Kau masih saja mempertanyakan yang kutahu kautahu jawabannya dan kau tetap membuatnya utuh di kepalamu sebagai pertanyaan yang gagal menemukan jawaban.

“Alya, sudahlah. Mungkin memang dia tidak pantas untuk kamu. Jadi buat apa kamu masih mikirin dia sih? Kalau memang dia secinta itu sama kamu, aku yakin kok, dia gak mungkin selingkuhin kamu.”

“Tapi Mon… Kenapa gak ada orang yang benar-benar mencintaiku seutuhnya? Kenapa?“ Alya masih terisak, menahan letupan-letupan di dadanya dan membiarkan kesedihan berguguran di matanya.

“Mon, dengerin aku ya. “ Aku memegang kepalanya dengan kedua tanganku, menaruh wajahnya tepat di depan wajahku.

Deg.

“Kamu, wanita tercantik dan terbaik yang pernah aku temui. Kalo, Roy tidak secinta itu sama kamu, berarti emang dia gak pantes buat dapetin hati kamu. Kamu pantas bahagia, Alya. Ngerti? “ Tangis Alya semakin menjadi-jadi. Ia memelukku lagi, tidak, kali ini semakin erat. Inilah derit-derit dadaku yang semakin asing; yang tak tertuntaskan dalam tiga ketukan musim.

Jangan memelukku seperti ini, Alya. Jika kau seperti ini, aku takut aku yang tak sanggup melepaskanmu ketika keharusan datang di depan pintu. Aku menarik napasku dalam-dalam, memeluknya dan menguatkan hatiku yang ikut hanyut dalam kesedihannya.

Alya, jika saja kau tahu.

Handphone Alya tiba-tiba saja berbunyi. Alya melepaskan pelukannya, meroggoh benda kecil itu di kantung baju.

“Dari Roy… “ Mata Alya terbelalak melihat layar kecil di handphonenya. Ia menatapku, seakan bertanya apa yang seharusnya dia lakukan sekarang.

“Angkat aja, Alya. Selesaikan. Jika kalian masih saling cinta, berjuang dan perbaikilah keadaan sebaik-baiknya. Jika gak, ikhlaskan saja ya? Ikuti kata hatimu, Alya.” Kataku menenangkannya. Alya tersenyum haru dan segera beranjak menjauhiku.

Alya, jika saja kau tahu kalau selama ini yang benar-benar mencintaimu adalah aku. Tidak, apa sebaiknya aku katakan saja sekarang? Iya. Aku harus mengatakannya sekarang.  Alya harus tahu, kalau ada yang benar-benar mencintainya selama ini. Baiklah, aku akan menunggu Alya selesai menerima teleponnya.

Aku bisa mendengar suara dan tangisan Alya semakin menjadi-jadi di sana. Sepertinya Alya bertengkar hebat dengan Roy. Ah, persetan. Salahkah aku,  jika mendoakan mereka pisah? Tidak. Aku lebih mencintai Alya daripada Roy.

5 menit kemudian, Alya kembali sambil berteriak memanggil namaku.

“Mon‼!” Alya langsung saja memelukku dan menangis lagi.

“Kenapa, Al?” Alya tidak menjawab pertanyaanku, malah meraung-raung sambil menyebut namaku di pelukku.

Tunggu, apa mereka akhirnya putus? Apa aku harus mengatakannya sekarang, ya? Iya, aku harus mengatakannya sekarang. Aku tidak mungkin melewatkan banyak musim lagi untuk mendapatkan kesempatan ini. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Al, aku pengen ngomong sesuatu. Aku… emm, aku… ”

“Mon! Ternyata wanita yang kulihat bersamanya adalah adik bungsunya! Dia tidak berselingkuh Mon! Roy bahkan menyuruhku ke rumahnya, aku mau dikenalin keluarga besarnya! Akkkh, aku seneng banget Mon!” Alya memotong kata-kataku dan aku menelan lagi kata-kataku sendiri. Alya menangis haru, kini. Aku melihat pelangi berhasil membujuk hujan yang sedih, merajutnya menjadi senyuman di wajahnya. Iya, pelangi itu adalah Roy, bukan aku.

“Monalisa Rahayu. Sebagai sahabat terbaikku, kalau aku kelak menikah, kau harus menjadi pengiring pengantin perempuannya. Harus! Janji?”

“Janji!”

Aku tersenyum.

Bodohnya aku. Aku seharusnya sadar, aku tak mungkin memiliki apalagi menikahi untuk membahagiakan Alya.

Alya, jika saja aku seorang lelaki.