Tags

,

1360697746_student-ubil-svoih-sosedey-i-zastrelilsya-sam

“Ibu… “

Aku memandang ibu sekali lagi. Ibu tersenyum, menelan pahit yang kerap ia simpan belasan september di lipatan matanya.

“Habiskan segera makan malam kalian, Ibu ingin menunjukkan sesuatu.”

Entah apa yang ada di kepala ibu. Setiap hari ibu membunuh kata-katanya dalam secangkir kopi pahit, yang ia larutkan dalam senyuman. Tak ada lagi kecupan gulali di kening ibu, yang biasa Ayah tanam setiap pagi. Tak ada lagi tawa renyah yang kami lahap di meja makan, Ibu hanya memberikan menu yang sama setiap malam; senyum yang ia hangatkan dalam tungku yang padam.

Kami tahu ada yang hilang, tapi entahlah. Kami lebih suka berpura bahagia dengan senyum yang mentah. Semua berawal dari Ayah yang membenci kami mempunyai Tuhan yang berbeda. Kata Ayah, kami harus rajin ke gereja. Kata ibu, pilihlah Tuhanmu yang kau yakini ada. Saat itu, kami hanya bocah kecil yang hanya mampu menuruti kata hati kami. Hingga akhirnya, Ayah marah ketika mengetahui kami bersujud ke arah ka’bah dan bukan ke gereja. Mereka bertengkar hebat saat itu. Saling menunjuk isi kepala mana yang benar; mana yang salah. Dan kami hanya bisa bungkam, di antara dua manusia yang meributkan apa yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Tuhan, apakah benar ada?

Sejak saat itu, Ayah lebih memilih menumpulkan senyuman dan mengurainya dalam waktu yang memberikannya gaji tak lebih dari tiga juta. Ayah lebih sering ke luar kota, daripada di rumah. Begitupun dengan Ibu. Sejak saat itu, ibu lebih memilih menikmati nyeri bersama Tuhan dalam doa; jarang bicara dan hanya tersenyum kepada kami yang tak mengerti apa-apa.

“Apa kalian sudah selesai?” Ibu memandang kami satu persatu. Kami hanya mengangguk.

“Kinan, ajak adik-adikmu ke mobil. Ibu ke kamar sebentar mau mengambil sesuatu.” Ibu menyuruhku. Tanpa banyak tanya, aku segera menyuruh Laras dan Andre agar lekas ke mobil.

Di dalam mobil, kurebahkan badanku di kursi supir. Menarik nafasku dalam-dalam, seakan inilah nafas terakhir yang mampu kuambil.

“Mbak, Ibu sebenernya mau ngajak kita kemana sih?” Laras tiba-tiba membuka mulutnya, memecahkan sepi yang kami gantung dari makan malam tadi.

“Iya, mbak. Kita mau kemana sih? Andre belom ngerjain tugas, buat materi presentasi kuliah besok lagi.” Andre menimpali.

“Entahlah. Mbak juga gak tahu.” Aku memandang ke langit-langit mobil dan melihat mereka kemudian, kedua adikku yang sudah pasrah di dera detik-detik waktu yang masih saja tak kami pahami. Tak lama kemudian Ibu masuk ke mobil, dengan menarik nafas yang jauh lebih panjang dari milikku sebelumnya. Ibu menyuruhku menyetir ke tengah kota dan meminta mengikuti kemana saja yang ia perintahkan. Sesekali aku mencuri pandang ke arah ibu, ke mata ibu yang berlayar entah ke kemana.

“Bu… “ Kataku kemudian.

“Iya, sayang?” Ibu sepertinya sontak kembali dari angan-angannya di balik jendela mobil kami ini.

“Sebenarnya, kita mau kemana?”

Ibu terdiam cukup lama, seperti mencari-cari jalan pulang untuk sekedar menjawab pertanyaanku. Jika saja ibu berkenan, ingin sekali kuselami labirin dalam riak kepalanya.

“Kinanti, Laras, Andre.” Ibu memandang kami bertiga satu per satu, kemudian tersenyum dengan racau kabut di matanya. “Maafkan ibu ya, nak. Ibu memerlukan kalian sebagai ketiga senjata ibu untuk bisa berjalan ke depan. Ibu harap, malam ini menjadi jawaban dari doa-doa ibu selama ini.” Kami bungkam, mencoba mengerti apa yang ibu katakan. Kami kembali sibuk melihat sisi kaca mobil kami sendiri, menyusuri jawaban di kepala masing-masing.

Tak lama kemudian, ibu menyuruhku berhenti di sebuah rumah mungil dengan pagar berwarna biru.

Ini rumah siapa?

Ibu mengajak kami ke beranda rumah itu, mengetuk pintunya tiga kali. Menarik nafasnya dalam-dalam berkali-kali, sebelum akhirnya pintu dibuka untuk pertama kali.

“Ayah?” Aku terkejut ketika mendapati Ayah yang membuka pintu itu, kemudian disusul seorang wanita muda yang sedang hamil besar memeluk Ayah dari belakang.

Dorr! Dorr! Dorr!

Ibu berhasil menggunakan ketiga senjatanya. Musuh kami mati telak. Ayah dan selingkuhannya, serta ibu yang membunuh dirinya sendiri dengan kenyataan.

Ibu lupa, ketiga senjata ini terbunuh pelurunya sendiri juga dan Ibu bohong, ini bukan jawaban. Ini menjadi pertanyaan baru bagi kepala kami bertiga.

Tuhan, benarkan sungguh ada?