Tags

,

businesswoman_looking_out_of_window_in_rain_42-175788141

Ruang ini, tak lebih riuh dari isi kepalaku. Tembok-tembok lebih suka berdesis sinis tentang apa-apa yang tak ingin kuingat; jendela yang selalu berdongeng tentang harapan yang ingin kulihat atau kenangan yang selalu kuumpat; dan pintu itu, selalu menanyakan tentang kedatangan yang kunanti dari September hingga Maret – yang kusimpan sangat rapat dalam kotak segi empat.

Aku mendekati jendela itu, kusennya semakin keriput dan kacanya tak lebih dari mata yang berkabut. Mungkin inilah jendela yang selalu mengingatkanku akan kepergianmu siang itu. Kala kau bergegas dengan segala atribut kekalahan, di pundakmu menahan egomu yang tak kalah lebih besar dari kerasnya kepalamu. Memandangku dari luar dengan mata itu – mata yang pernah membuatku jatuh cinta berkali-kali, tapi tidak saat itu. Matamu lebih merah dari amarah senja, membuat lupa apa yang membuatmu jatuh cinta.

Entahlah apa yang kita ributkan saat itu. Apakah karena aku tak bisa lagi memberi arti untuk senyummu; ataukah kita bosan bersenandung tentang harapan yang kerap dibunuh kenyataan? Kau selalu mengeluh tentang kemandulanku dan Ayah yang selalu meminta cucu. Kau memilih untuk menikah lagi dan menceraikanku.

Ini takdir Tuhan, begitu kataku setiap ingin menghibur diri.

Jendela ini semakin berkabut dengan bulir-bulir hujan di luar. Langit nampaknya sedang sedih, hingga menangis dari pagi dan tak berhenti-henti. Mungkin ia merindukan kekasihnya, bumi. Seperti aku, merindukanmu. Apakah aku bodoh, jika percaya kelak kau akan kembali hingga sudi menanti seperti ini?

Kriing… kriing… kriing!

Telepon rumahku berbunyi, tiga kali. Aku segera bergegas ke ruang tengah dan menerima panggilan itu.

“Hallo?”

“Andini?”

“Ibu?”

“Bagaimana kabarmu, nak? Sudah lama kau tidak menghubungi ibu.”

“Maaf bu, aku sibuk belakangan ini. Aku baik-baik saja. Ibu apa kabar?” Pandai sekali mulutku berdusta.

“Ibu baik. Hmm, nak. Ibu mau menanyakan sesuatu.”

“Iya, bu?”

“Apa kau tidak berencana menikah lagi?”

Agak lama aku terdiam mendengar pertanyaan ibu, kemudian tertawa.

“Ibu kan tahu, aku tidak mungkin punya anak. Mana ada yang mau, sama perempuan mandul sepertiku.” Aku kembali tertawa. Iya, menertawai diriku sendiri.

“Entahlah, nak. Ibu hanya tak ingin kau berakhir seperti ibu setelah perceraian dengan Ayahmu. Sendiri di masa tua, seperti sekarang.” Aku dapat mendengar isak tangis ibu dari balik telepon.

“Bu, maafin Andini ya? Seharusnya setelah perceraian dengan Dimas ini, Andini tinggal saja bersama Ibu. Tapi, Andini malah tetap di sini dan malah tidak menghiraukan ibu. Maaf ya, bu?”

“Nak, sudahlah. Ibu mengerti jika kamu masih butuh sendiri sekarang. Satu yang ibu minta, berbahagialah.”

Aku tertegun dan semakin bungkam. Aku kehabisan kata-kata untuk menolak kesedihan dari kata-kata ibu dan langit mendung itu tak lagi tabah seperti hujan di bulan juni. Takdir ini seakan mengikatku dengan akar-akarnya agar aku diam di tempat dan tidak melakukan apa-apa selain diam dan berserah pada penantian panjang.

“Nak? Hmm, ya sudah ya. Ibu hanya khawatir sama kamu. Jangan lupa ibadahnya ya, Nak. Kamu harus ingat, kamu masih memiliki Ibu dan Tuhan. Percayalah. Baik-baik ya, sayang?”

Tut tut tut tut tut.

Ibu menutup telepon dan aku masih saja kaku dengan kata-kata beliau. Bahagia? Apa masih pantas bahagia mampir dan tinggal lebih lama untuk perempuan sepertiku? Perempuan mandul. Aku menaruh gagang telepon itu, berjalan menuju sudut jendela itu lagi. Kali ini bukan untuk meminta jendela kisahkan kenangan itu, mungkin aku bisa bertanya tentang apa yang selalu kudustakan; Tuhan?

Entah sudah berapa lama aku mendustakanNya, menutup percaya bahwa ada bahagia yang sanggup kusyukuri selain bernafas. Entah mengapa Tuhan senang sekali memberi kegagalan di keluarga ini; Ayah dan Ibu, sekarang giliran aku dan Dimas. Ya, mungkin aku lebih banyak berdialog dengan Tuhan dalam keluhan selama hitungan tahun. Tapi apa peduliNya? Toh, Tuhan tidak pernah mendengarku. Buktinya, nyeri yang Ia beri tanpa sedikitpun tawa yang hadir di kepalan takdir.

Hujan di luar semakin deras, aku mencoba melihat ke arah luar meski samar ditutupi bulir hujan. Aku melihat anak kecil sedang asik mandi hujan dengan jubah hujan berwarna merah. Ia menari seakan merayakan kesedihan di atas bumi. Tunggu sebentar, mungkinkah aku seperti ini? Menanti di balik jendela, menunggu hujan reda dan lupa bagaimana menikmati hujan sesungguhnya?

Aku bergegas ke luar, menuju hujan. Aku bosan jika harus menanti dan berkerudung kesedihan lebih lama lagi. Ketika aku hendak merayakan hujan bersama anak kecil itu, seorang lelaki seumuranku mendekatinya dan ikut menari. Aku langsung terdiam, berpikir ulang apa aku harus terus melangkah atau kembali saja. Apa ia Ayahnya?

Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Aku tidak mendengar jawaban apa-apa selain bising hujan di telinga serta tawa mereka di depan. Tubuhku kini basah dinikmati oleh hujan dan aku masih saja mempertanyakan Tuhan.

Ah, Tuhan mungkin masih sibuk mendengar keluhan mereka yang berdoa, hingga lupa menuliskan takdirku. Aku berhenti menanti dan memulai menulis takdirku sendiri.

“Hai. Boleh aku ikut bergabung?”