Tags

pocket wedding invitations

Kenangan adalah sebaik-baiknya pengantar pesan sebuah ingatan. Terkadang, kau akan menyimpannya baik-baik dalam kotak usang di ruang kepala, yang mudah kau buka kapan saja. Terkadang, kau akan membunuhnya dalam tarikan nafas dan berdoa kelak ia tak kan hidup kembali selepas hujan.

 

*

Aku masih duduk di kedai kopi ini, sudah hampir 15 menit. Aku kembali mengaduk-aduk sendok di dalam cangkir kopiku, sesekali melihat ke arah telepon genggam atau jam tanganku. Seharusnya, sudah lima menit yang lalu mereka sampai di sini. Aku kembali menyandarkan punggung di kursi kayu ini, memandang ke arah sekitar kedai kopi. Kedai kopi yang cantik, aku hampir tak menemukan bahan logam di kedai ini selain tutup toples tempat mengisi biji kopi dan peralatan masak di dapur belakang. Semuanya terbuat dari kayu yang kental dengan warna asli dan guratannya.

Kedai ini menyimpan banyak cerita tentang aku dan Jenar, dua tahun yang lalu. Dari awal dia mengajakku berkenalan, pacaran hingga berakhirnya hubungan kami. Inilah komedi putar yang selalu kumainkan di kepala, jika berada di sini atau di malam hari. Dengan gulali di tangan dan kaki yang lincah memainkan perannya dengan liar. Sudah hampir musim ketiga aku tak pernah mau datang ke Kedai ini. Bagaimana mungkin, kedai ini lebih mahir bercerita daripada hujan di dadaku kini. Entahlah, mengapa hari ini aku ingin sekali mampir dan sekarang menemukan diriku sedang asik bermain di ingatan yang kini asing.

Kusesap lagi cangkir ini, kopi ini rasanya tidak jauh berbeda dengan apa yang kurasa sekarang. Pahit, tapi menikmatinya karena aku menyukai bagaimana ampas kopi hitam ini menggoda lidahku untuk bercinta di antara gigi.

Hari ini adalah hari di mana aku ditugaskan Mbak Lulu, kakakku, untuk mengantarkan undangan pernikahannya. Undangan yang kini hanya bersisa lima, untuk sahabat-sahabatku. Ratu, Hera, Cindy, Renata dan Saskia. Setelah sebelum-sebelumnya aku berkeliling mengantarkan puluhan nama ke alamat yang berbeda. Cukup melelahkan, tapi ini adalah keinginanku. Setidaknya, ada yang bisa aku bantu untuk pernikahannya.

Aku ingat bagaimana Mbak Lulu memeluk dan berterima kasih dengan wajah itu, wajah yang sama persis denganku saat menerima Jenar menjadi pacarku. Haru. Ya, tentu saja. Bagiku, tidak ada kebahagiaan yang lebih baik dari kebahagiaan kakakku. Maka, kulipat pilu dalam saku. Terkadang menghiasnya dengan pita biru dan merangkulnya serupa ibu.

“Keyla!” seseorang memelukku dari arah belakang. Sedikit terkejut tapi suaranya sangat familiar di telingaku. Aku menoleh mencari sumber suara itu.

“Renata!”

“Ngelamun aja sih, Key.” Ratu tiba-tiba muncul dari arah belakang Renata dan satu persatu aku bisa melihat Cindy, Saskia dan Hera datang bersamaan. Aku hanya tertawa dan memeluk mereka satu persatu. Setelah mereka duduk, mereka mulai memanggil pelayan kedai untuk memesan minuman.

“Kok tumben Key, kamu ngajakin kita ketemu di sini? Perasaan, setelah… umm.” Saskia menggigit bibirnya dan terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

“Setelah apa? Setelah putus sama Jenar? Ah, elah. Kaya gak kenal Keyla aja. Dia kan kuat, paling juga udah lupa dan kangen sama tempat ini. Iya kan, Key?” Cindy menimpali dengan cuek. Aku hanya tertawa dan cangkir adalah satu-satunya pemandangan yang sanggup aku lihat sekarang.

“Keyla, enggak apa-apa?” Ratu tiba-tiba melontarkan pertanyaan dengan sangat berhati-hati sambil menggenggam tanganku. Sepertinya Ia mencium gelagatku yang aneh dari cara mataku berbincang dengan cangkir.

“Sebenernya ada apa sih, Key? Pasti ada yang gak beres ya? Soalnya kamu tumben banget loh minta ketemuan di luar, apalagi di kedai ini.” Ratu kembali bertanya dan seketika mereka berlima memandangku. Aku yang melihat mereka seperti itu akhirnya malah tertawa.

“Kalian apa sih? Orang aku enggak apa-apa kok. Aku bahkan mau kasih kabar gembira.” Kataku sambil tersenyum lebar.

“Kabar gembira? Apa? Apa?” Hera langsung antusias.

“Mbak Lulu, kakakku minggu depan bakal nikah! Hore!” kataku sambil mengangkat tangan ke udara dan bergoyang-goyang seperti orang gila.

“Ahhh, sama siapa Key? Ah, syukurlah.”

“Sama Lucky! Yay!” Jawabku singkat.

“Wah, Lucky. Lucky memang beruntung ya, bisa dapetin dokter cantik dan baik seperti Mbak Lulu. Aku ikut bahagia, Key. Aku kapan ya nikah?” Hera memegang wajahnya dengan kedua tangan dan menampilkan ekspresi yang sangat lucu. Kami akhirnya tertawa. Aku menggambil kelima undangan yang tersisa di dalam tasku, kemudian memberikannya kepada mereka satu persatu dengan senyum yang lebar.

“Jadi, ceritanya kamu jadi pengantar undangan nih Key? Wah, semoga berkah nikahnya nular ya. Hahaha.” Cindy menggodaku sambil menerima undangan itu.

“Loh, Key? Kok?” Renata tiba-tiba kaget ketika melihat nama di undangan tersebut. “Lulu Anastacia dan Luckyanaldo Jenar? Key… ?” Renata kehabisan kata-katanya sambil menatapku tak percaya, begitupun yang lainnya.

Aku hanya tersenyum.

Iya, aku tahu. Seharusnya namaku yang ada di situ.