Tags

,

old women staring at the mirror

 

Kepada akhir, kepalaku dihinggapi banyak jika yang kini kusemai bersama luka. Hanya sesal menaungi kaki-kaki letih di retakan senja. Jika kau bertanya, apa kehilangan terbesarku? Hanya waktu yang berdenyut tanpa makna. Aku kalah, ditikam usia yang kusia-sia.

 

“Aku harus bergegas!”

“Tapi, Naya. Kau belum makan, nak.”

“Bu, sudahlah. Dulu Ibu yang selalu tidak punya waktu buat Naya kan? Sekarang, giliran Naya sudah sibuk dengan kerjaan dan pacar Naya, Ibu seperti ini? Ayolah, bu. Jangan main-main. Aku pergi.”

Perempuan itu lunglai oleh ketidakmampuanya, menahan nyeri di sudut matanya. Ini sudah kesekian kali Kanaya, anaknya, menolak untuk sekedar makan malam bersamanya.

 

*

 

Perempuan tua itu mengambil sebatang rokok lagi, rokoknya tersisa setengah bungkus dari 3 jam ini. Membakar dan menelan asapnya dalam-dalam. Dengan jemari tangan kanan yang memegang rokok dan jemari tangan kiri yang mengetuk meja berkali-kali. Sesekali ia melihat ke arah jam di dinding sebelah kiri, menaruh abunya ke asbak dan menghisap lagi dalam-dalam beberapa kali. Ruang itu tak ingin sunyi, terdengar datak detik yang tak juga mati, ketukan meja yang sesekali berhenti serta nafas getir yang masih saja menanti. Sudah hampir jam 11, seharusnya anaknya sudah pulang dari dua jam yang lalu. Perutnya sudah lelah menahan lapar, tapi Ia hanya ingin makan jika bersama anaknya malam ini.

Tiba-tiba pintu depan terbuka, perempuan tua itu segera bangkit dari kursinya, meninggalkan rokoknya yang baru saja terhisap setengah. Akhirnya Syifa pulang, batinnya. Ia segera membukakan pintu untuk anak semata wayangnya itu.

“Syifa, nak. Selamat ulang tahun.” Perempuan tua itu segera memeluk anaknya. Syifa hanya terdiam dan segera melepaskan pelukan perempuan tua itu. Syifa segera berlalu dan menuju kamarnya begitu saja, tanpa salam atau senyuman. Perempuan itu tertunduk dan hanya mampu mengikuti langkah anaknya. Dadanya sedikit sesak, menahan isak. Ia berdiri di depan pintu, melihat anaknya.

“Nak, Ibu sudah masak makan malam kesukaanmu nih. Makan bareng Ibu yuk?” Perempuan tua masih saja membujuk anaknya yang entah marah karena apa.

“Syifa udah makan tadi sama Satriya. Syifa sekarang mau istirahat, cape. Ibu bisa tinggalin Syifa sekarang gak?”

“Tapi, nak. Ibu sudah bersusah loh masakin ini buat ulang tahun kamu. Lagipula, kita kan udah lama banget gak makan bareng. Yuk, makan bareng Ibu yuk? Ibu mohon.”

“Apa Syifa pernah minta Ibu masak buat ulang tahun Syifa? Enggak kan? Bu, udahlah. Syifa udah bilang Syifa udah makan. Gak usah maksa kenapa sih?”

“Emm, jadi kamu lebih milih ngerayain ulang tahun kamu sama Satriya ketimbang sama Ibu, gitu?”

Syifa langsung menatap perempuan tua itu dengan geram, mendekatinya dan menggenggam handle pintu dengan kuat.

“Bu, denger ya? Syifa gak suka ya, Ibu maksa-maksa gini. Gak usah pura-pura jadi sosok Ibu yang sayang anak deh. Ibu kemana tahun-tahun lalu? Hah? Setiap ulang tahun Syifa, Ibu selalu pergi keluar kota. Sibuk meeting di sana-sini. Dan asal Ibu tahu, Satriya jauh lebih baik dari Ibu. Setidaknya, dia selalu punya waktu buat Syifa, enggak seperti Ibu! Sekarang, giliran Ibu udah pensiun dan Syifa udah sibuk kerja, Ibu jadi ngerasa kesepian gitu? Iya? Sampe harus maksa-maksa kaya gini? Syifa mau ngerayain ulang tahun sama siapa, bukan urusan Ibu. Ngerti? Inget ya bu, jangan pernah minta waktu yang udah pernah ibu sia-siain dulu!”

Brukk!

Syifa menutup pintu kamarnya, perempuan tua itu tak lagi sanggup menahan kesedihannya. Gerimis di dada kini pecah di pipinya. Ia kembali ke meja makan itu dengan gontai dan sesak yang terus saja mendesak. Rokoknya sudah terbakar penuh, meninggalkan abu – seperti ia yang dilahap oleh waktu. Waktu yang tak mungkin Ia dapatkan kembali, seperti yang Syifa bilang.

Rumah ini lelap dimakan senyap, sepi-sepi bergelantungan di dinding-dinding ruang. Meja makan hanya kumpulan kayu yang menahan isak, dengan dua gelas cangkir yang tersisi satu; piring-piring yang tak pernah terisi penuh; serta lauk pauk yang menanti layu.

Perempuan tua itu akhirnya membereskan peralatan makan, Ia tak lagi lapar, perutnya sudah kenyang oleh cacian anaknya. Ia segera menuju kamar mandi untuk berwudhu, siapa tahu Tuhan punya waktu untuk sekedar mendengarnya mengeluh.

Di dalam kamar, Ia segera menggelar sejadah dan menggunakan mukenanya. Ia mencari cermin, seraya membetulkan rambut-tambutnya yang masih saja belum masuk sempurna ke dalam mukena. Di balik cermin itu Ia melihat perempuan tua yang sangat Ia kenali tapi selalu asing. Dibukanya lagi perlahan mukena itu, diperhatikan benar-benar seluruh tubuh perempuan tua di balik cerminnya. Kerutan di tubuh dan wajah tak hanya menunjuk usia, tapi juga sesal atas waktu yang ada. Kantung mata hitam yang membesar seperti perhiasan di wajah dan semakin lama Ia semakin tahu, perempuan di balik cermin itu terlihat seperti siapa.

Kepada akhir, kepala perempuan itu dihinggapi banyak jika yang kini Ia semai bersama luka. Hanya sesal menaungi kaki-kaki letih di retakan senja. Jika kau bertanya, apa kehilangan terbesarnya? Hanya waktu yang berdenyut tanpa makna. Ia kalah, ditikam usia yang Ia sia-siakan.

Ibu, maafkan Naya. Inikah yang Ibu rasakan dulu?