Tags

,

burned

 

Malam belum juga senja, perempuan itu masih menyimpan genangan air matanya di selembar daun. Menunggu pagi membuktikan janji-janji, menumpahkannya serupa embun. Tapi malam baginya adalah tahun yang panjang, di mana kepalanya nyalang bermain dan tersesat di pasar malam. Terkadang ia menguncinya dalam kepalan doa, berdialog dengan Tuhan tentang apa saja. Sesekali ia akan datang ke sini, menceritakan kisah-kisah ngilu. Tapi entahlah malam ini Ia lebih memilih duduk di sudut beranda, mencoba berbincang dengan bulan yang ditelan malam setengah.

Perempuan itu bernama Arnelta. Aku mencintainya sejak pertemuan pertama, di sore itu. Aku mencintai bagaimana Ia mulai membentuk banyak bunga-bunga atau menciptakan rintihan-tintihan senja dengan jemarinya. Teman-temanku adalah bukti perih bisa dibahasakan dengan menawan. Aku sebagai anak bawang di sini, menunggu utuh dijamah lagi olehnya.

Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Ia kembali ke dalam kamar dan mengambilnya dengan sedikit terburu.

“Halo?”

“Ibu?”

Panggilan  itu sepertinya dari Ibunya. Aku mendengar Arnelta mulai terbata-bata lagi, matanya layu dan kepalanya hanya berselimut sendu. Entah ini hari keberapa, senyumnya perlahan sirna ditelan senyap dinding-dinding ruang. Arnelta lebih banyak diam dan mengiyakan, seakan bosan berdebat dengan lidah-lidah. Aku pernah melihat Ibunya datang, membawa segudang amarah di kepala dan menumpahkan kepadanya, seakan Arnelta hanyalah tong sampah tempat Ibunya membuang perkara. Itulah pertama kali kita bertemu, Ia mulai menjamahku melalui dongeng perihal rindu di ketiak ibu.

Aku mendengar suara Arnelta semakin sayup, dadanya kini basah kuyup. Ditutupnya panggilan telepon itu, digenggamnya tepat di depan dada. Serupa mengepal dadanya yang kesakitan.

Arnelta menangis! Ah, tidak. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Seandainya aku bisa memeluknya, sudah kulakukan sejak pertama. Aku berharap Arnelta mau datang lagi kepadaku malam ini, menceritakan kepadaku apa yang membuatnya nyeri – hingga bersedu sedan sendiri.

Arnelta sayang, jangan menangis.

Ah, iya. Arnelta mendengarku. Ia menarik nafas sangat dalam, kemudian menyeka genangan kesedihan di matanya. Jika saja Arnelta tahu, bagaimana aku mencintai matanya ketika Ia berbicara padaku.

Ia mendekatiku. Arnelta mulai menyentuhku lagi dengan lembut, meski aku masih tersesat di belukar kepala, ingatan dan kenangannya yang tak lebih dari sebuah hutan yang tandus digelayuti mimpi-mimpi. Ia mulai menghiasnya dengan taman-taman indah, lebih indah dari kepakan sayap-sayap malaikat yang dihujani cinta.

Kepalan Tangan Ibu dan Aku yang Mencintaimu

 

Aku mendengar retakan

Di kepala Ibu yang buncah menjadi serapah

Dibuangnya air susu yang dulu kumuliakan

Kini, hanya kumpulan sampah yang melupa arah

Di lantai-lantai usang, kulihat kening ibu menghitam

Tak ada jawaban

Mungkin, Tuhan lupa memberi telinga

 

Wahai sore yang ngilu

Jangan kau rebut gincu Ibu

Yang lebur bersama mimpiku

Kau tahu bukan apa yang paling kurindu?

Ketiak Ibu

*

jika ini adalah akhir

aku ingin mencumbumu sekali lagi

melilitkan ingatanku mengapa aku mencintai pagi

pada telinga basah yang kerap berjanji

 

aku adalah goresan yang ingkar pada takdir

di kepalan ibu, aku meluruhkan mimpi

aku mencintaimu

di dalam puisi

yang mati

kini

Hujan kini tak lagi hanya milik langit Arnelta, jemarinya kini menyuruhku dan temanku-temanku untuk pergi. Kami dihujani kegetirannya. Arnelta memaksa untuk ikut bersamanya, dibuangnya kami ke dalam tong sampah depan beranda. Arnelta kembali ke dalam kamar, kemudian Ia hadir lagi dengan minyak tanah dan sepercik api.

Arnelta, apa yang kau lakukan?

Perlahan api itu mulai menyulut tubuh teman-temanku, membakar habis lembar demi lembar ingatan-ingatan Arnelata yang kini hanya menjadi kenangan di genang dadanya. Arnelta hanya menangis dan membiarkan mereka terbakar.

Arnelta, jika aku harus mati sekarang mengapa kau tak membiarkan aku memiliki namamu di belakangku seperti mereka? Bahkan untuk yang terakhir kalinya.

Aku melihat teman-temanku ditelan oleh api, dibuatnya menjadi abu. Tak membutuhkan banyak waktu, untuk api itu membakar habis juga seluruhku.

 

Aku mati,

di tangan penyairku sendiri.