Tags

sad girl

 

Kakiku terlalu lincah melangkah, menjelajah dunia yang kerap membuatku melupa – bahwa pulang tak sejauh yang kukira.

 

Aku mempercepat langkah, menelusuri gang-gang sempit di pinggiran ibu kota. Dengan sesekali menyeka hujan yang mengaliri sungai-sungai di dadaku, mencoba menggembalikan sisa-sisa nafas yang kerap dicuri pilu. Di kepalaku masih jelas terekam kejadian dua jam yang lalu, ketika kekasihku meminta bukti bahwa aku mencintainya. Bagaimana ia merobek bajuku, menjamah dan meremas tubuh. Aku merasa hina. Tapi Tuhan masih berbaik hati, diberiNya aku kesempatan untuk pergi sebelum hal buruk itu benar terjadi.

Tinggal satu gang lagi, sebelum aku benar-benar sampai rumah. Ah, tak apalah. Aku hanya ingin tidur sekarang, berharap esok masih sempat mengecup matahari dan melupakan malam berduri ini. Gang-gang sempit ini tak lebih dari hatiku yang berkabung, mungkin bulan lebih banyak memberi cahaya daripada lampu-lampu dari dalam rumah. Rumah? Entahlah, rumah-rumah ini lebih layak disebut rangkaian kayu dan kardus yang kerap bisa kaujumpai di pembuangan sampah.

Langkahku terhenti, ketika melihat seorang perempuan tua di sudut gang ini. Ia seperti menahan perih sambil memegang kemaluannya. Kuperlambat langkah, menerka-nerka siapa, sebab gang ini begitu minim cahaya. Perempuan tua itu sesekali terjatuh, kemudian berdiri lagi. Aku mendengar tangisnya begitu ngilu, ya jelas sekali. Suara itu sangat kukenal di telinga dan aku akhirnya tahu siapa perempuan tua itu, ketika Ia melewati seberkas sisa cahaya dari rumah dekat sana.

Ibu?

Langkahku seketika terhenti, seperti jantungku. Dadaku semakin sesak, melihat Ibu di sana tertatih menahan perih sendirian. Hubunganku dengan Ibu sebulan belakangan ini semakin buruk. Aku yang muak dengan pekerjaan Ibu dan waktu yang tidak pernah diberikannya kepadaku. Ibu dan segala kasih sayangnya hanya dongeng di buku cerita, bagiku. Tak ada rumah atau pulang seperti yang diceritakan mereka. Kami bertengkar hebat setiap hari, sampai akhirnya Ia menamparku dan aku akhirnya memilih menghabiskan waktu dengan pacarku daripada di rumah bersama Ibu. Ya, tentu saja, sebelum akhirnya kutahu pacarku tak lebih dari pria hidung belang yang mengatas-namakan cinta sebagai senjata untuk berahi semata.

Tiba-tiba dari arah depan, dua orang lelaki dengan berjalan sempoyongan mendekati Ibu dan mencumbunya. Ibu melawan dengan menamparnya. Laki-laki itu terlihat geram.

“Lo pikir kita mau apa sama pelacur tua kaya lo? Hah? Dasar pelacur!” Ibuku ditampar oleh salah satu lelaki itu hingga terjatuh.

Kakiku seperti ditumbuhi banyak akar, menahanku dan membuat lumpuh. Kedua lelaki itu akhirnya berlalu meninggalkan Ibu. Mereka kemudian menuju ke arahku masih dengan mulut berbau ciu.

“Ini nih, anaknya juga. Emak sama anak, sama aja. Sama-sama pelacur! Minggir lo!” salah seorang lelaki itu mendorongku. Mereka akhirnya berlalu begitu saja. Syukurlah, mereka tidak berniat menyentuhku. Mataku kembali mencari Ibu, Ia sepertinya sudah sampai rumah. Kutarik akar-akar itu dan menuju rumah dengan setengah terburu.

Sesampainya di rumah, kulihat Ibu sudah berada di tempat tidur; masih menahan perih di kemaluan dan kini membentuk aliran sungai yang deras di bantal kapuk. Aku menahan nafasku dalam-dalam, mencoba lebih tabah dari pagi yang menantikan kematian malam.

“Bu?”

Ibu hanya melihatku sekilas dan masih terus saja merayakan kesedihannya. Aku ingin sekali memeluknya, mencuri ketiak yang dulu Ia berikan selain memerah air susunya. Aku merindukan Ibu entah sejak kapan. Menerima kenyataan bahwa Ibuku seorang pelacur tidaklah mudah, kau akan selalu dicaci dan dikucilkan. Dipandang rendah dan disepelekan. Seakan kami tak lebih berharga dari uang dua puluh ribuan. Aku ingin seperti anak-anak lainnya, yang bisa kapan saja menemui Ibu mereka. Menceritakan apa saja atau mungkin menertawakan dunia di hidangan makan malam. Dengan dalih ekonomi, Ibu menjadi pelacur sejak puluhan tahun. Entah sudah berapa kali aku menyuruhnya berhenti, sebab aku lebih butuh kasih sayangnya daripada uang lima puluh ribu.

“Ibu, Ibu kenapa? Ceritain sama Sekar. Jangan diem aja, Sekar sakit ngeliat Ibu kaya gini!” Aku mulai meronta-ronta serupa anak kecil yang kehilangan gulalinya, menarik-narik baju tipisnya yang hampir memperlihatkan kemaluan dan payudaranya.

“Hari ini sepi tamu, beberapa yang dateng malah lebih milih yang seumuran denganmu daripada Ibu. Sekalinya Ibu dapat tamu, Ibu malah disiksa, dipakai dan dibuang gitu aja. Ibu udah gak laku lagi, Nak. Udah gak laku!” Ibu lebih memeluk dan menumpahkan air matanya ke bantal itu, daripada aku.

Dadaku semakin sesak melihat Ibu. Ibu memang sudah tidak secantik dulu, gincu murahan yang tak lebih dari sepuluh ribu dan pakaian bekas tak kan pernah cukup menutupi kerutan wajah dan tubuh Ibu. Aku merasa bersalah, sebab terlalu riang mencari pulang di dada orang dan melupakan di mana sebaik-baiknya pulang.

Mataku yang menepi sayu, tak sanggup lagi menahan pilu. Runtuh sudah tembok-tembok yang kupasung di kedua mataku, kupeluknya tubuh Ibu. Menangisi diriku yang begitu dungu membiarkan dosa bertahun-tahun menggelayuti payudara Ibu.

Aku dan Ibu saling berbincang dalam tangisan. Mungkin kami adalah diam yang janggal, di sederetan manusia yang lebih akrab dipanggil binatang. Ibu yang lebih suka dipanggil wanita jalang dan ketiaknya kini tak lebih dari rumah yang usang. Kakiku yang terlalu lincah melangkah, menjelajah dunia yang kerap membuatku melupa – bahwa pulang tak sejauh yang kukira.

Jika tersesat adalah satu-satunya jalan,  apakah aku sekarang sudah benar-benar pulang? Aku menemukan jarak terjauh, meski aku dan Ibu tak lagi bersekat. Aku merindukan ketiak Ibu yang pelupa.

 

Ibu, Sekar ingin pulang. Kembalilah…