Tags

IMG_4953

Aku tak pandai berhitung. Perihal seberapa banyak waktu yang hilang sekadar menghindar; seberapa lama kami mampu tertawa sambil menyimpan potongan-potongan air mata; atau sebarapa panjang doa yang tak henti kami rapalkan, selepas caci maki perkara Tuhan siapa yang sebenarnya ada. Aku pun tak pandai berandai-andai. Perihal kehadiran yang seharusnya ada saat aku berumur lima; agama apa yang seharusnya tertera di kartu keluarga; atau siratan Tuhan perkara sebuah beda untuk bersama.

Jika kebersamaan adalah harga mati untuk kebahagiaan, maka kami termasuk orang-orang yang merugi. Bagaimana tidak, sepanjang tahun hanya deretan hari untuk mencari ilmu atau rezeki – Oh, tidak. Lebih tepatnya disebut deretan hari untuk menghindari perkara yang sering kali terjadi. Barangkali, ini lebih baik. Setidaknya, untuk kami.

Siang itu, kami berencana merayakan tahun baru di salah satu cottage di pinggiran Jawa. Tidak, kami tidak butuh hotel mewah atau perayaan besar untuk kematian tahun yang sudah senja. Mungkin, kebersamaan seperti ini jauh lebih mewah.

Ayah dan Ibu menggunakan pakaian yang sama hanya berbeda di garis warna, serupa dada dan kepala mereka. Banyak tawa yang kami rajut untuk mengganti hari-hari yang hilang setahun belakangan ini. Tidak selengkap seperti biasanya, kakak pertamaku masih betah berlama-lama di negeri orang dan melupa pulang seharusnya di mana. Tak apa, setidaknya kami masih bersama meski berbeda. Bahagia? Apa kau bercanda? Tentu saja.

Di kepalaku, perayaan tahun baru dimulai lebih awal. Keluarga ini serupa kembang api yang buncah kala malam. Terlihat cantik dengan warna mayapada saat buncah bersama, namun tak begitu lama hilang di telan pekat malam. Entahlah, tanpa malam, kembang api tak kan terlihat secantik itu bukan?

O Tuhan yang entah, jika Kau benar ada, Kau sungguh jenaka; menghadirkan cinta dengan sebutan Tuhan yang berbeda. Jika boleh kupinta, bisakah Kaukekalkan waktu seperti ini saja?