Tags

IMG_5988

Jangan tanya perempuan itu tentang kembang gula; keriaan di pasar malam atau sekadar rasanya bersepeda dari pagi hingga senja. Dunia baginya hanya kamar tidur yang cukup kau tinggali satu keluarga catur, kamar mandi, perpustakaan dan ruang makan dengan furnitur berpolitur. Semua sudah diatur sesuai prosedur, dari awal ia bangun hingga tertidur.

Ia bukan seorang putri dari kerajaan manapun, hanya seorang anak tunggal dari orangtua yang tak pernah percaya pada siapapun. Ia tak banyak bicara, entah kepada guru pribadinya, ketiga pengasuhnya atau orangtuanya sekalipun. Mengeluh baginya, hanya potongan kalimat yang ia bunuh di balik lidah. Ia lebih banyak berbincang denganku tentang apa saja seakan-akan aku bisa berbicara, tentang cuaca; tentang rahasia di balik jendela; atau pengulangan banyak jika dan pertanyaan tentang dongeng di buku cerita – bahagia.

Saat pagi dan saat matahari ditelan bumi, aku akan menemaninya di balik jendela menikmati patahan hati dan semua mimpi yang dikuburkan dalam kotak persegi. Baginya, jendela ini, jauh lebih menarik daripada televisi. Ia akan dengan sabar menanti pertunjukan apa yang alam mainkan kali ini.

“Apa kau tahu rasanya bermain ayunan di bawah pohon Ara itu? Menikmati angin sambil menunggu senja lebur di dada dan menikmati dunia bukan hanya sebatas jendela. Tahukah kau?” tanya perempuan itu kepadaku. Aku hanya diam dan berjalan mendekatinya dengan lembut di kusen jendela itu, aku tahu, bukan hanya kepalanya, tapi juga dadanya kini sedang dirundung kabut. Aku menarik kaki dan tanganku jauh-jauh saat sinar matahari jatuh di buluku dan bersikap paling manja untuk sekadar menarik garis lengkung di bibir perempuan itu.

“Aku harap, aku seekor kucing sepertimu. Bisa bebas dan memiliki bahagia paling sederhana bahkan hanya dengan bermalas-malasan di bawah sinar matahari pukul lima.” Perempuan itu tersenyum sambil membelai dengan lembut kepalaku.

Ini bukan bulan Desember, tapi hujan sudah berguguran dari kedua matanya. Seandainya aku seorang manusia berlengan dua, tak kan kubiarkan keresahan mampir di dadanya.

“Apakah kau percaya, kebahagiaan itu benar-benar ada?” tanyanya kemudian.