Tags

IMG_6030

Aku terus mengayuh sepedaku. Matahari pukul tujuh dan segala peluh yang kukantongi dalam kantong plastik itu, tak akan membuatku jenuh untuk sekadar mengais sepuluh-duapuluh ribu. Aku bukan siapa-siapa, cuma si mbok yang mencoba mengadu nasib ke kota orang. Kota yang mereka bilang tempat seribu pura berada dan manusia dari berbagai belahan dunia menghamburkan banyak uang. Sebagai penjual jamu keliling, apa yang bisa kauharapkan? Pak’e meninggalkan kami beberapa musim silam demi seorang kembang desa dari kampung sebelah dan aku adalah perempuan dengan satu anak yang semakin lama dimakan usia.

Surti, anak semata wayangku yang kini beranjak dewasa, terpaksa harus berhenti sekolah sejak menengah pertama dan lebih suka mencumbuku dengan cacian daripada mencari cara agar dapur dapat berasap setiap harinya.

Mbok’e bisanya apa sih? Surti cape dihina terus sama temen-temen’e Surti, gara-gara si Mbok’e cuma jualan jamu. Kerja apa gitu yang lain, asal jangan jadi tukang jamu bisa ndak?” Surti tiba-tiba menghampiriku subuh tadi, saat aku meracik jamu-jamu yang akan kujual nanti.

“Jamu sudah tradisi turun temurun keluarga kita, Nduk. Mbok’e cuma bisanya ya begini aja.”

“Besok temen’e Surti ulang tahun. Poko’e Surti minta uang buat beli kado!”

Aku menarik nafasku dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan, “Nduk, si Nduk kan tahu. Ojo ngoyo, tho yo? Si Mbok mana punya uang lebih, buat makan sehari-hari aja kita sering ngutang sana-sini, apalagi beli kado.”

Mbuh, poko’e Surti ndak mau tahu. Siapa suruh Mbok’e cuma jualan jamu, kerja yang lain juga kek, apa kek. Sore nanti poko’e si Mbok mesti ngasih Surti duit. Mbuh cara’e piye.”Surti langsung beranjak pergi, meninggalkanku di dapur tanpa peduli apa besok kita masih sanggup menikmati nasi.

Entah apa yang di pikiran Surti, membiarkanku bekerja sendiri dan lupa kelak aku kan menua dan kembali ke bumi. Mungkin salahku sendiri, tidak mengajarkannya sedari kecil tentang budi pekerti atau ini mungkin dalihnya membenci situasi. Entahlah, yang aku tahu, segala hal pasti memiliki arti. Dini hari tadi sebelum matahari lahir, aku sudah mengayuh sepeda ontel tua ini. Sekiranya, ada rezeki lebih jika kumulai lebih pagi.

Hampir dua jam lebih aku mengayuh dan tidak seorangpun yang mau membeli jamuku ini, keringatku mulai jatuh di balik baju bersamaan dengan asaku yang gugur satu persatu. Entah, apa aku sanggup memenuhi apa yang Surti inginkan sore nanti atau tidak, aku tetap mengayuh dan menaruh segala percaya dalam saku.

Aku menghentikan lajuku, seorang perempuan muda melambaikan tangannya menginginkan jamuku. Mungkin tidak ada yang percaya, seorang perempuan muda dengan gaya kota menyukai jamu yang kupunya. Ia memintaku meracik segelas jamu kunyit dan sirih. Dari pembicaraan singkat kami, akhirnya aku tahu dia keturunan jawa asli dan hanya perantauan di pulau ini. Selesai meminum jamu, ia memintaku meracik jamu untuk 5 botol besar untuk dibawa pulang. Aku tersenyum sangat lebar saat perempuan itu menjanjikanku sejumlah uang, jika aku berhasil meracik 5 botol jamu dalam hitungan ke dua puluh sembilan. Aku mengeluarkan kemampuan sebaik-baiknya dalam meracik jamu dengan kecepatan penuh. Aku bisa, aku pasti bisa!

Surti, kamu yang sabar ya nduk. Mbok’e emang cuma tukang jamu keliling, tapi mbok’e ndak akan ngebiarin kamu dihina temen-temenmu hanya karena ndak bisa beli kado. Mbok’e pasti bisa, pasti. Mbok’e sayang sekali sama kamu nduk.