Tags

Jangan tanya seberapa kerasnya Ayahku. Terkadang saat berhadapan dengan beliau, aku serupa berdiri di cermin yang jauh dari kata baru. Aku adalah Ayahku, yang tak pernah mau tahu siapa yang sesungguhnya paling batu. Berdebat dengan beliau meskipun hanya melalui pesan singkat, mampu membuatku merangkai kalimat-kalimat keparat yang kususun dalam layar segi empat.

IMG_5989

Jengah rasanya jika bertengkar terus menerus perihal uang saku. Ayah yang tak berhenti mengeluh dan aku yang selalu meminta ini itu. Seharusnya Ayah mengiyakan saja segala inginku, toh sedari kecil ia membiasakan diriku dengan banyak baju daripada kehadiran saat ulang tahun. Kali ini, kepalaku terlalu angkuh untuk membalas tudingan Ayah satu persatu. Langit tak berhenti menangis dari sore tadi, mungkin ia bersedih melihat Ayah dan anak yang memilih saling mencaci daripada mengasihi. Malam masih remaja dan aku masih saja berputar-putar mengemudikan mobil ini tanpa arah. Entahlah, mungkin aku hanya bocah yang menolak tua karena menyukai senja dari lampu-lampu kota. Tidak, aku tidak bercanda. Lampu-lampu kota tak kalah indah dari sebuah senja dan aku kerap merayakan kesedihan bersama mereka. Abstraksi warna-warninya sanggup membuatku jatuh cinta dan melupakan sejenak apa itu duka. Malam ini, kesedihanku dirayakan langit dengan meriah bersama senja lampu kota.

Hujan pukul sembilan dan seorang bocah perempuan yang tak pernah mengerti arti kehadiran. Jangan kautanya apa isi kepalaku sekarang? Pertanyaan-pertanyaan yang gagal menemukan jawaban berceceran di jalan, kemudian mataku terhenti pada sebuah gerobak martabak terang bulan. Entahlah, padahal di luar masih hujan, tapi di sana tak kulihat sepi antrian. Mobil kuperlambat pelan, mencari antrian di pinggir jalan. Seorang lelaki separuh baya –yang sepertinya adalah tukang parkir harian– membantuku untuk mencari parkir yang teraman dari senggolan mobil-mobil yang lewat. Lelaki itu seperti berkawan dengan hujan, tak peduli seberapa deras bulir menghunjami badan, ia tetap melaksanakan tugas demi uang seribu dua ribu perak dari setiap kendaran. Jas hujan yang dipadu-padankan dengan helm membuatnya lebih mudah bergerak, lengkap dengan light bar di tangan kirinya. Setelah mobilku terparkir dengan baik, ia mendekati dan kemudian mengetuk kaca mobilku sebelah kiri.

Tunggu sebentar, kalau ia mengetuk kacaku hanya untuk meminta dua ribu, sudah kupastikan bagaimana tindakannya akan ia sesali seumur hidup. Kutarik nafasku sebelum akhirnya kubuka kaca itu.

“Maaf, mbak. Mbaknya mau pesen martabak apa ya? Biar mbaknya gak kehujanan, nanti saya yang pesenin, saya juga yang bawain pesenan ke mobil mbaknya. Gimana?”

Aku terdiam, membunuh pikiranku yang sangat dangkal.

“Emm, martabak telur yang ukuran paling kecil deh Pak, boleh.”

“Martabak telur ukuran paling kecil 1, ditunggu sebentar ya Mbak?” Lelaki itu kemudian langsung berlalu terburu-buru.

“Pak… Pak! Tunggu!” kataku sedikit berteriak.

Lelaki itu kemudian berbalik dan mendekati kaca mobil lagi. “Ada apa yah mbak?”

“Tolong tanyain sekalian berapa ya, Pak. Enggmakasih ya, Pak?”

“Sama-sama, Mbak. Sudah tugas saya juga kok.” Lelaki itu tersenyum dan kemudian berlalu menuju sang penjual martabak itu.

Tugas?

Tunggu sebentar. Dia kan hanya tukang parkir? Tidak ada kewajiban untuk melayani pembeli juga kan? Bukannya dia hanya bertanggung jawab mengurus parkiran saja?

Tak lama kemudian, lelaki itu kembali mendekati kaca mobilku, “ Mbak, harganya 12 ribu rupiah.”

“Ah, iya Pak makasih. Saya perlu bayar sekarang atau nanti saja?”

“Nanti saja, Mbak. Ada martabak, ada uang.” Ia kembali tersenyum dan matanya sudah liar melihat kendaraan yang mencari ruang untuk mobil-mobil mereka. “Sudah dulu ya, Mbak. Nanti saya bawain kalau sudah jadi martabaknya.” Bapak itu dengan lincahnya berlalu dan kembali membantu untuk siapa saja yang perlu.

Mataku tak berhenti merekam semua perilaku Bapak itu. Bagaimana ia mengatur mobil satu persatu, membantu memesankan martabak ini itu dan tersenyum tanpa peduli hujan yang masih saja mengguyur. Tiba-tiba, seorang anak perempuan dengan payung berwarna biru, mendekati bapak itu dan memayunginya. Sepertinya mereka saling mengenal karena terlihat begitu akrab dengan sapuan lembut di kepala anak perempuan itu. Apakah itu adalah anaknya? Anak perempuan itu tersenyum dan menarik-narik dengan manjanya jas hujan biru yang digunakan lelaki di depannya. Lelaki  itu sedikit menunduk dan memberi telinga ke arah bibir anak perempuan itu. Tak lama kemudian, tawa mereka buncah di tengah hujan. Lelaki itu mengambil uang di saku celananya, lembaran ribu dari hasil parkiran dihitung satu persatu yang kemudian diberikannya kepada anak perempuan itu. Entahlah, aku rasa hujan cemburu –mungkin aku pun– melihat hangatnya mereka meski dingin terus saja mencumbu. Rambut anak perempuan itu kembali diusap-usap oleh lelaki itu dan diciumnya. Tak lama kemudian, anak perempuan itu pun berlalu, menyusuri gang-gang sempit yang tak jauh dari situ. Aku melihat dengan jelas, bagaimana mata bapak itu mengiring langkah-langkah kecil anak perempuan itu, meski tak berada di samping menemani. Setelah anak perempuan itu hilang di balik gang-gang sempit, matanya langsung mencari kendaraan siapa lagi yang perlu bantuannya.

IMG_6028

Hujan pukul sembilan, lelaki separuh baya yang berkawan dengan hujan serta Tuhan yang mencoba memberi jawaban untuk seorang bocah perempuan.

Episode ini serupa peluru yang tepat mengujam dadaku. Aku seharusnya lebih tahu malu, kuliah yang tak kunjung rampung; kamar sewa seharga telepon genggam keluaran terbaru; uang saku yang lebih dari gaji karyawan S1; serta stnk mobil atas namaku. Seharusnya, semua itu lebih dari cukup, tapi aku masih saja mengeluh dan meminta ini itu.

Kepalaku serupa pasar malam, begitu banyak wahana dan hanya ada satu lentera yang hampir saja padam di sana.

Ayah.