writing-is-hard

 

Kau akan menulis sebanyak apapun di buku harianmu; di buku sakumu; di laman-laman blog pribadi ataupun di media sosial, perihal isi kepalamu. Merangkai peng-aku-an yang kau selip di diksi dan permainan kata yang entah kaudapat dari mana. Mungkin dari buku-buku yang kaupinjam dari perpusatakaan kota atau saduran dari penulis-penulis kesukaan. Kau akan menulis dan terus menulis, berharap mereka mendengar tanpa perlu lidahmu mengunakan fungsinya, hanya lewat kata-kata yang kerap membuatmu gila.

Sebab, kota kian meremukkan tulangmu dan hati tak lebih dari daging merah separuh. Kau hanya punya jemari yang lebih lincah memainkan peran daripada lidah; lebih tahu arah sebab kepalamu adalah pasar ikan –tempat segala hal amis diperhitungkan dan diperjual-belikan dengan asas logika,– sebab hatimu adalah belantara –tempat segala makna gundul kata-kata.

Kemudian, ketika mereka mendengarmu lewat tulisan, kau akan senang namun entah untuk apa. Belas kasihan bukan hal yang kaupinta, tidak, tidak sama sekali. Kau hanya ingin mereka menggunakan telinga dari mata, sebab lidah kerap membuat mata mereka buta dan telinga benar tak berfungsi apa-apa.

Kau tahu, kau pernah kehilangan seseorang sebab ia tak pernah memberikan telinga dan lebih banyak memfungsikan lidah. Kau tahu, sebab itu kau kehilangan banyak hal yang sebenarnya tak pernah benar-benar kaumiliki. Kau ingin menceritakan banyak hal, tapi kau tahu itu tak kan merubah apapun jua.

Pada saat itu, kau akan mulai menulis untuk sejarah. Kau adalah pelupa yang kerap gila oleh banyak makna. Kau mencoba mengartikan banyak hal, tanpa perlu bicara; mencoba merunutkan peristiwa yang tak kan habis disapu sekali ombak; mencoba ikhlas tanpa perlu banyak prasangka. Sebab, menulis adalah kau dan sejarah.

Kau akan berharap, ketika rambutmu mulai beruban dan matamu mulai rabun, kau tak hanya menjadi manusia yang penuh kerutan dan pikun. Sebab kau menulis, kau menggunakan mata sebagai telingamu; telinga sebagai matamu dan kata-kata sebagai lidahmu yang tak pernah lelah menceritakan sejarah,

meski usiamu telah layu.