“Kau sangat cantik sekali.”

Kukatakan sekali lagi kepada perempuan yang memoles wajahnya dengan make up yang tidak lebih tebal dari harga dirinya; dengan gincu yang tidak lebih merah dari api cemburunya; dengan gaun putih pucat yang jauh lebih pucat dari pikirannya, ia berdiri tepat di depan cerminku. Aku terus berputar-putar dengan gaun yang sengaja kujahit sendiri, mempersiapkan hari ini selayak mungkin. Ruang ini begitu hening, hanya ada debar seorang perempuan yang menunggu kekasihnya tiba, detik yang berdetak lama dan angin pukul lima yang menggodaku lewat jendela. Sebentar lagi, kekasihku akan datang dengan seikat bunga dan banyak tawa yang Ia bawa di saku celana.

**

“Mariah, apa kau di dalam? Ini aku, Gusti.” Aku mendengar suaranya dari pintu depan yang ia selingi dengan ketukan beberapa kali. Ah, itu dia. Aku segera bergegas keluar kamar dan menuju pintu depan. Aku berhenti sebelum membuka pintu, sekadar menarik napasku dalam-dalam dan merapikan rambut dan bajuku. Kubuka perlahan dan kulihat sosoknya tersenyum sambil memegang seikat bunga yang ia janjikan.

Deg!

Aku bisa merasakan kupu-kupu yang telah mati beberapa tahun silam kembali hidup, berterbangan dengan riang di dalam perutku dan menarik otot-otot di dalamnya, membuat mata tertarik ke belakang dan membuat irama jantungku berdetak tak karuan. Gusti, dia kembali lagi. Ia adalah satu-satunya pria yang sanggup membunuh dan menghidupkan kembali perasaanku, satu-satunya pria yang membuatku tak percaya ada pria lain yang melebihinya sekaligus menjadi satu-satunya pria yang membuatku percaya, bahwa menunggu tidak seburuk itu. Gusti kembali lagi dengan tetap membuatku jatuh cinta berulang kali.

Hey, kok diam? Kamu gak mau meluk aku?”

Aku tersentak mendengar ucapannya, segera kupeluk Gusti dengan erat, sangat erat – seakan aku tak ingin kehilangan lagi untuk kesekian kalinya. “Aku kangen sama kamu, Gusti.” Kubisikkan tepat di telinganya.

“Kalau aku enggak kangen, mana mungkin aku mau mencarimu lagi, Mariah..”

Tidak Gusti, kaumencariku sebab kautahu aku akan tetap merindukanmu. Sampai kapanpun.

Kucium pipinya dengan sangat lembut dan melepaskan pelukan itu dengan sangat berat.

“Masuk, yuk. Aku sudah membuatkan lasagna untukmu, kesukaanmu. Tinggal dipanaskan buat makan malam kita nanti.” Kataku serta-merta menarik tangannya masuk dan menutup pintu.

Gusti sangat tampan hari ini. Dengan setelan jas hitam, dalaman kaos putih, jeans dan sneakersnya. Proporsinya sangat ideal untuk sekadar bergelar dokter. Tingginya sekitar 5 kaki lebih berapa belas inci, kulit sawo matang yang sangat bersih, potongan rambut slicked back undercut serta jenggot tipis yang dicukur rapi. Hobinya akan basket membuat badannya terbentuk sempurna dan selalu terlihat bugar. Penampilan Gusti sudah banyak berubah, tapi tidak dari cara ia menatapku, memeluk dan campuran wewangian dari bunga-bunga segar, citrus, bergamot, rempah dan aroma elemen kayu, –yang kutebak ini adalah Burberry Summer Man, meski Gusti tidak pernah memberitahuku parfum apa yang ia gunakan– yang menyeruak lembut dari badannya.

“Makan malam langsung atau sebaiknya kita ngeteh dulu di beranda belakang?”

Ngeteh dulu aja kali ya? Lagipula ini masih pukul lima, aku belum lapar kok.”

“Baiklah, I Gusti Adam Ayadnya. Silakan duduk di beranda belakang dan aku akan menyiapkan teh spesial racikanku sendiri untuk kita berdua.” Ucapku dengan gaya pelayan yang mempersilakan tamu kerajaan untuk menuju ke beranda belakang.

Gusti tersenyum dan mengecup keningku, “Terima kasih, ya?” Gusti berlalu dan menelanjangi ruang makan yang kujadikan satu dengan dapur dengan matanya. Aku segera menuju dapur yang hanya berjarak serentang tangan dari posisiku semula, memasak air panas kemudian mengeluarkan teh racikanku sendiri, satu buah poci dan dua buah cangkir.

“Rumah kamu lucu, sangat manis dan tidak berlebih.” Gusti berkata dengan suara yang agak ia kencangkan agar aku mendengarnya dari dapur.

“Ah, iya. Rumah ini sudah banyak kudesain ulang sesuai keinginanku. Percuma kan, kalau seorang desain interior tidak bisa mendesain rumahnya sendiri?” Kataku dengan bangga, Gusti tidak mengatakan apa-apa lagi selain tawa renyahnya yang khas.

**

Aku tahu aku akan jatuh cinta dari pertama kali datang. Beranda ini terutama, ah iya, taman kecil dan gemercik kolamnya sangat menenangkan. Mariah memang pandai membuatku jatuh cinta dengan segala yang ia lakukan.

Tawa, senyum dan matanya yang menyiratkan banyak makna kerap membuatku jatuh cinta berkali-kali. Entah berapa kali Ia mencoba pergi dan selama itu juga aku tak henti-hentinya mencarinya lagi, lagi dan lagi.

“Kamu apa kabar, Gusti?”

“Aku… A… Aku baik-baik saja. Kau sendiri, bagaimana kabarmu?”

“Buruk, sampai sore ini kau datang lagi.”

Aku tersenyum, entah untuk apa. Seharusnya aku sedih, membuat orang yang sangat aku cintai menderita seperti ini. “Ah, iya. Mawar putih, yang kujanjikan tadi.” Ucapku sambil memberikan mawar putih itu, mataku tak beranjak sedikitpun dari matanya, mencoba mengartikan banyak makna yang kutahu entah untuk apa. Sesekali aku akan memalingkan mataku ke cangkir teh yang dibuatnya atau ke taman kecil di sana, ketika matanya memergokiku memandangnya seperti itu. “Apa kau sudah punya pacar? Atau… hmm, atau sudah menikah?” Tanyaku ragu.

“Apa kaulihat ada cincin yang melingkar di jemariku?”

Aku menggeleng.

“Kau kan tahu, aku mana mau ketemu kalau aku sudah punya pacar. Apalagi kalau sudah menikah.” Mariah terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku terdiam. Mariah benar. Selama ini, jika Mariah terikat dengan seseorang, Mariah akan enggan membalas pesan singkatku apalagi menemuiku.

“Kau sendiri? Apa kau sudah punya pacar lagi atau menikah, mungkin?”

Aku terdiam mendengar pertanyaannya.

“Tidak, tidak. Jangan gunakan jawaban yang sama denganku. Dari pertama kita kenal dan akhirnya jatuh cinta, kau sudah punya pacar dan masih saja diam-diam nemuin aku. Hahaha, aku sampai berpikir, kita emang gak pernah jodoh. Karena selama ini, saat kau punya pacar, aku enggak, atau sebaliknya, begitu terus selama 10 tahun ini. Hahaha, lucu ya? Dan berengseknya adalah, kamu enggak pernah peduli punya atau tidak punya pacar, kamu selalu nyari aku tanpa alasan.” Mariah terkekeh, tawanya terkadang bermakna ganda dan aku kerap menyalah-artikan tak ada luka di sana. Meskipun merasa terintimidasi, aku tak marah. Mariah benar, aku yang selalu mencarinya tak peduli terikat dengan siapa.

“Hmm, kamu ingat gak, berapa lama kita seperti ini? Tanyaku kemudian.

“Seperti ini? Seperti apa? Hahaha.”

Aku hanya mendenguskan napas dan memandangnya dengan tajam seolah mengatakan, “Oh, Come on Mariah. Aku sedang serius.”

“Hahaha, oke-oke, baiklah. Hmm, sekitar hampir…“ Mariah mengernyitkan alisnya, seolah berpikir sangat keras, “hmm, wait. 10 tahun?” Matanya menyeringaiku dan seakan jawabannya mengagetkan dirinya sendiri.

“Iya, 10 tahun, Mariah, dan selama itu juga aku jatuh cinta sama kamu.” Kali ini kata-kataku membungkamnya. Ia bisu dan membeku untuk beberapa waktu, tatapannya berkata banyak meski entah apa itu. “Kalau kamupikir aku hanya main-main sama kamu, kamu salah. Kamu tahu kan, aku enggak pernah bisa benar-benar pergi dari kamu. Aku bahkan gak pernah peduli jika menemuimu akan menyakiti siapapun yang menjadi pacarku saat itu. Aku jatuh cinta sama kamu, Mar…”

“Tunggu sebentar,” katanya tiba-tiba memotong ucapanku, “kalau kamu memang secinta itu sama aku, kamu pernah mikir enggak sih rasanya jadi aku? Jadi perempuan kedua, orang ketiga di dalam hubunganmu. Kamu mikir enggak sih? Perasaan yang kamubilang cinta itu, malah ngebuat aku ada di posisi yang sangat aku benci. Seorang selingkuhan! Seorang selingkuhan, Gusti!” Mariah menekankan sekali lagi kata-kata ‘selingkuhan’ itu dengan tatap yang nanar.

“Ma… maafin aku, Mariah. Aku enggak pernah bermaksud begitu.”

“Dan apa kamutahu, Gusti? Aku tuh sampai benci sekali dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku mau dijadikan selingkuhan, hanya karena cinta sama seorang pria. Hahaha… dasar wanita dungu, enggak tahu malu.” Maria menertawakan dirinya sendiri, kesedihan telah memilih jalannya sendiri melalui aliran di matanya. Ia terluka dan memilih tertawa. “Aku sangat membencimu, Gusti. Sungguh. Seenaknya kamu datang dan kembali sesuka hati, ngebuat aku jatuh cinta berkali-kali, sekaligus patah hati untuk kesekian kali. Aku benci kamu, Gusti. Aku benci sekali.”

Kalau kaupikir, tangisan diri adalah yang paling sakit, kau tentu belum tahu rasanya melihat orang yang kaucintai menangis karena kebodohanmu sendiri. Entah belati apa yang Mariah gunakan, tangisannya menyayat, merobek dan menghancurkan dadaku sendiri. Aku segera beranjak dari kursiku, menenggelamkan kepalanya ke dadaku. Aku memang pria paling egois. Memeluknya seperti menyuruhnya mendengarkan gemuruh apa yang dimainkan di dadaku, bahwa di sini, bukan ia seorang yang merasa sesakit itu. “Maafkan aku, Mariah. Maafkan, jika cintaku terlalu menyakitimu seperti ini. Maafkan aku.”

Sore di September tidak pernah sedingin ini. Dua cangkir teh yang terisi dingin dan dua orang yang saling mencintai akhirnya bertemu lagi, meski terus dihinggapi patah hati.

Aku harus jujur kepadamu, Mariah. Kau berhak tahu yang sesungguhnya.

**

Gusti sangat lahap memakan lasagna yang kubuat, dengan tambahan mash potato, buncis, wortel dan jagung yang kurebus. Setelah perbincangan kami sore tadi, kurasa itu membuatnya sangat lapar. Entahlah, aku tak ingin memikirkan itu sekarang. Aku tahu, Gusti akan pergi lagi entah kapan, jika sekarang waktu yang kupunya, aku tak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

“Apa kau mau tambah lagi?” tanyaku dengan semangat.

“Ah, tidak, tidak. Aku sudah nambah dua kali, kalau tambah lagi, aku yakin besok aku tidak bisa main basket lagi. Hahaha.” Gusti tertawa, aku bisa melihat taring dan deretan giginya yang rapi dan putih bersih. Aku bahagia.

“Tapi untuk buah, perutmu masih cukupkan? Sebentar ya?” Aku segera bergegas ke area dapur kecilku, mengambil beberapa buah apel di dalam kulkas, mencucinya dan mulai menguliti kulit apel itu dan memotongnya.

“Mar…”

“Iya?”

“Besok aku harus menikah.”

Aku terdiam dengan mata nyalang. Ucapan Gusti membuat pisauku membelah kulitku sendiri, selang beberapa detik nyeri di jemariku baru terasa. “Duh. Shhh.” Rintihku sambil kuhisap jemariku sendiri. Aku langsung meninggalkan dapur dan menuju kamarku, mencari kotak P3K.

“Kau kenapa, Mar?”

Aku tak menghiraukan panggilan Gusti dan segera mengunci kamarku.

Tidak, jangan sekarang Gusti. Kumohon, aku sedang ingin sendiri sekarang ini. Shh, sial. Kenapa aku ceroboh sekali sampai hampir memotong jemariku sendiri? Shh, duh. Ini kenapa segala pisau aku bawa sih? Ah, Mariah sekali saja lakukan hal yang benar, kenapa sih? Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Aku segera menuju meja kecil di sebalah kanan tempat tidurku. Kubuka satu persatu dari bawah mencari kotak P3K. Kotak P3K itu ternyata ada di laci paling atas meja kecil itu. segera kutaruh pisau sialan itu di samping kotak P3K, kemudian kuambil alkohol 70% dan kapas untuk membasuh lukaku. Aku meringgis nyeri. Tidak, bukan karena jemariku yang teriris tapi perihal yang kudengar tadi.

Apa kau benar akan menikah besok, Gusti? Lalu bagaimana denganku? Lalu untuk apa selama ini aku menunggumu? Bukankah kautahu, aku sangat mencintaimu? Gusti, aku mencintaimu.

Gusti masih mengetuk pintu kamarku berkali-kali sambil memanggil namaku dengan sangat panik. Segera saja kuperban tipis jemariku yang terluka, kurekatkan erat dengan plester dan segera beranjak membuka pintu itu.

“Kamu kenapa Mar? Hah?” Air mukanya sangat khawatir sekali.

“Tidak, aku tidak apa-apa kok. Ehehe, hanya teriris sedikit. See? Udah baik-baik aja kan?” kataku sambil memperlihatkan jemariku yang sudah terbalut perban itu.

“Duh, kamu. Jangan ngelamun dong kalau lagi ngiris sesuatu. Kamu yakin udah baik-baik aja? Tadi lukanya udah dibersihin pake alkohol? Sudah diberi obat antiseptik?”

Siapa yang tidak melamun, kalau diberitahu kekasih yang selama ini ditunggunya akan menikah besok? Dasar idiot!

“Sudah, Gusti. Aku baik-baik saja kok.”

“Ya sudah. Kamu lebih baik pilih DVD yang kita mau tonton nanti, biar aku saja yang melanjutkan memotong apel itu. Yah?” Gusti memegang wajahku dengan kedua tangannya, memperlakukanku seperti anak kecil yang butuh perlindungan.

Aku tidak butuh perlindungan. Untuk apa kaumelindungiku, jika besok, toh kau juga sudah milik orang lain?

Aku menurutinya, aku menuju ke ruang tengah dan mencari DVD yang ingin kami tonton sedang Gusti menuju ke dapur untuk melanjutkan memotong apel itu.

“Mar, pisaunya di mana ya?” Gusti sedikit meninggikan volume suaranya dari arah dapur agar aku mendengarnya dari ruang tengah.

Duh, ada di laci kamar lagi. Dasar bodoh kau, Mariah. Tadi kenapa enggak sekalian dikeluarin sih? Ish.

“Di bawah tepat di mana aku memotong apel tadi, ada laci. Di sana ada banyak pisau kok. Coba kaulihat dan kaupilih sendiri, Gus.”

“Ah, iya. Sudah ketemu. Sebentar ya.”

Entah film apa yang kupilih, hanya kupilih acak sesuai tanganku meraih saja. Tak lama kemudian, Gusti datang membawa sepiring apel potong.

“Film apa malam ini?”

Aku menyerahkan dua keping DVD yang bahkan tak kutahu judulnya apa. Gusti menerimanya sambil sesekali menatapku seakan meyakinkan kembali atas pilihan filmku itu.

No String Attached dan Friends With BenefitsAre you sure?”

Aku sedikit terbelalak mendengar Gusti menyebutkan film yang asal kupilih itu, aku merebut dua keping DVD tadi dari tangan Gusti.

Astaga, kenapa film ini yang terpilih? Duh, Mariah bodoh!

“Engg… Kamu udah nonton ya?” Tanyaku ragu.

“Udah, tapi enggak apa-apa kok.” Gusti mencium keningku dan segera memasukan salah satu keping DVD itu ke pemutar video di bawah TV flat 32 inci milikku. Gusti memilih memutarkan film arahan sutradara Ivan Reitmen terlebih dahulu, No String Attached. Gusti kembali ke sofa sambil meregangkan kedua lengannya di pundak sofa yang kemudian membuat wewangian Burberry Summer Man menyeruak dari ketiaknya, ia tidak membiarkanku bersandar selain di lengannya. Tapi aku tidak ingin bersandar di lengannya, dadanya adalah telaga yang dalam, dan aku hanya ingin tenggelam.

“Namanya Adam, kaya aku ya? Hihihi, coba kalau yang dokternya bukan si Emma, tapi si Adamnya, beh, mirip sudah… “

“Mirip apa? Kisahnya? Yang Cuma having sex tapi gak punya hubungan apa-apa? Iya gitu?”

Gusti terdiam, aku pun kembali bungkam. Ucapan setelah makan malam tadi masih menggangguku. Ah, entahlah.

Selama film itu diputar, kata-kata berdiam diri di lidah, pelukan dan sentuhan jauh lebih banyak berbicara di sana. Hingga pada saat adegan di mana Emma datang lagi ke rumah sakit untuk menemui Adam, aku mengikuti dialog yang Adam ucapkan.

I’m warning you, if you take one step closer, I’m never letting you go.

Gusti memelukku sambil mencium kepalaku.

“Jangan peluk-peluk, jangan cium-cium. Entar gak aku lepasin loh!” kataku dengan manjanya. Gusti malah memelukku lebih erat, kemudian mengeluarkanku dari dalam dadanya, membiarkanku duduk sejajar dengannya. Aku sedikit kesal dengan perlakuannya.

Okay, baiklah tuan yang akan menikah besok. Aku tahu kau bahkan tak ingin aku untuk tidak melepaskanmu. Oleh karena itu kau tidak ingin menyentuhku lagi, bukan? Iya kan?

Tiba-tiba wajah Gusti mendekati wajahku, disentuhnya kemudian dilumatnya bibirku dengan lembut.

Kau tidak pernah berubah Gusti. Tatapanmu, pelukanmu bahkan ciumanmu bicara lebih banyak dari kata cinta. Katakan padaku, bagaimana bisa aku melepaskanmu?

“Mariah, kamutahu kan, aku benar-benar cinta sama kamu?”

Aku hanya mengangguk.

“Kalau saja bisa, aku ingin sekali pacaran sama kamu, bahkan nikah sama kamu. Tapi kamu tahu juga kan, kalau kita berbeda dan kita enggak mungkin bersama.”

Apa? Setelah hampir sepuluh tahun dan sekarang kau mempermasalahkan perihal Tuhan kita yang beda? Aku tak pernah peduli dengan apa yang dibuat manusia, bagaimana jika semua itu salah? Bagaimana jika agama hanya persepsi manusia saja? Bukankah itu artinya kita memiliki Tuhan yang sama, hanya dengan nama yang berbeda?

“Besok kamu akan nikah, kan? Terus buat apa kamu nyium aku, meluk aku dan bilang kalau kamu cinta sama aku? Buat apa? Hmm?

“Maafin aku, Mariah. Aku gak bisa nolak apa yang orangtuaku mau. Orangtuaku memang masih kolot dan aku memang bodoh, dengan nerima perjodohan itu. Lagipula, kamu kan tahu, kita engga mungkin bersama, Mariah. Tapi demi Tuhan, aku mencintaimu.”

Isi kepalaku terlalu penuh untuk kukeluarkan satu persatu, bibirku kelu.

“Kalau aku akhirnya menikah, aku boleh minta satu hal?”

“Kalau, katamu? Jelas-jelas kamu bilang besok akan nikah, kan?”

“Ya, setelah aku menikah, aku boleh minta satu hal?

“Apa?
“Jangan hilang, kumohon, jangan hilang. Jangan menghilang lagi, Mariah. Kabari aku, setidaknya. Aku enggak akan ganggu hidup kamu kok, serius. Aku cuma pengen tahu, kalau kamu baik-baik aja.”

“Cih. Kamu pikir aku mau jadi orang ketiga lagi? Kamu egois ya? Kamu bisa terikat dengan siapa-siapa sedang aku enggak. Aku harus terikat denganmu tanpa ikatan apa-apa, gitu? Dan yang perlu kamu tahu, aku akan baik-baik saja dengan atau tanpa kamu. Ngerti? Mau kamu apa sih?”

“Aku mau kita tetap bersama.”

“Hahaha. Naif sekali kamu. Kamu ingin bersama dengan keadaan seperti ini? Sampai kapan? Kamu pikir aku gak capek? Hah?

“Maafin aku, Mariah. Aku tahu, kamu pasti lelah banget dengan semua ini Aku juga. Tapi satu hal yang pasti, kapanpun kamu ingin kembali, aku akan tetap ada di sini.”

“Hahaha, Gusti, Gusti. Kamu lucu sekali ya? Kamu enggak ada bedanya dengan mereka yang kerap meninggalkan atau mempermainkan aku. Kamu memang tetap tinggal, tapi enggak pernah memperjuangkan, lalu untuk apa? Sampai kapan?”

“Mariah, kumohon, jangan seperti ini. Kamu harus tahu, selain sama kamu, aku gak pernah lagi bersetubuh dengan siapapun. Pertama kali kita ngelakuin, itu adalah kali pertama buat aku dan entah kenapa aku enggak bisa ngelakuin itu dengan siapapun, selain sama kamu, bahkan tidak dengan pacar-pacarku yang dulu. Itu karena aku benar-benar cinta sama kamu.”

Sejauh yang kukenal, Gusti tidak pernah berdusta. Dari matanya, aku yakin ia bicara apa adanya. Aku merasa sangat kotor, entah berapa pria yang kuajak bersetubuh denganku dengan tujuan melupakan pria dungu ini. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri dan aku adalah orang paling dungu yang mencintai orang dungu seperti ini bertahun-tahun.

Aku tak membiarkan Gusti bicara lebih banyak lagi, kudorong badannya dan kulumat bibirnya. Aku tak peduli jika besok ia harus menikah, ia milikku sekarang.

Tangan kami saling liar menyentuh, entah berapa kali dada dan kelamin kami beradu. Napas kami semakin tersengal-sengal menahan berahi kami sendiri. Aku tahu Gusti pasti menginginkannya, hanya saja ia ragu. Aku menarik tangannya ke payudaraku, sambil terus menciuminya. Gusti tak butuh waktu lama untuk belajar hal itu, diremasnya payudaraku hingga aku merintih.

Gusti, gusti, gusti. Aku menginginkanmu melebihi apapun, Gusti. Aku tak bisa membayangkan besok kau harus menikah dan akan menggagahi istrimu dengan cara yang kuajarkan sendiri. Tidak Gusti, tidak. Jika ini semua harus berakhir, kita harus berakhir bersama.

Kupelankan irama tubuh kami, aku tahu, berahi sudah di ujung tanduk meski kami masih berbalut baju. Namun, Gusti terlalu lugu, Ia mengikuti hawa nafsu. Dibukanya gaun dan baju dalamanku. Dilumatnya putingku dengan menggebu-gebu.

Aku menghentikannya, “Kau mau melakukannya di sini?” Gusti terdiam, “Kalau kau belum tahu fungsi tempat tidur, bawa aku ke sana biar kuajari kau nanti.” Dengan sigap Gusti beranjak dan mengangkat tubuhku ke ruang tidur. Gusti menaruh tubuhku dengan sangat hati-hati, kemudian menciumi bibir dan leherku bertubi-tubi.

Pria nakal. Besok kaumenikah, malam ini masih saja tidur dengan perempuan lain? Hahaha. dasar bodoh.

Kutanggalkan semua yang masih melekat di tubuhnya dan tubuhku. Tidak ada yang lebih jujur dari kedua kulit yang saling menyentuh dan dua tubuh yang saling butuh. Aku mendorongnya tubuhnya ke samping, kunaiki ia layaknya kuda. Kini tubuhnya ada di bawahku dan aku jadi satu-satunya perempuan yang berkuasa saat itu.

“Aku punya hadiah untuk pernikahanmu besok, selain yang kita lakukan sekarang ini. Kamu mau kan?”

Gusti hanya mengangguk, dia pasti sudah mabuk kepayang dengan ini semua. Kulumat bibirnya, kuciumi lehernya dan kugigit kecil-kecil kupingnya. Kebiarkan payudaraku menyentuh dada bidangnya, sedang tangan kananku mengambil hadiah kecil di dalam laci samping tempat tidurku dan menaruhnya di tangan kiriku. Kutarik lagi badanku ke atas, melihatnya dengan nakal.

“Gusti, apa kamu beneran cinta sama aku?”

“Aku cinta banget sama kamu, Mariah. Sini, cumbu aku lagi.”

Aku menolak dengan menggenggam tangan kirinya dengan tangan kananku.

“Gusti, aku cinta banget sama kamu, tapi kenapa kamu enggak pernah bisa memperjuangkan aku sih? Maafin, aku ya?”

“Maaf? Untuk?”

20131022-223350.jpg

Aku lelah menjadi apa-apa yang kausebut tiada, perempuan kedua yang tak pernah kauakui ada. Your death, my sunshine, will be a sweet one. Je t’aime.1

 

 

________

1               “Your Death, my sunshine, will be a sweet one. Je t’aime.” Dikutip langsung dari sumber foto di instagram @mozta_