Tags

clown-payasa-girl-drawing[www.chicanoart.com]

“Dasar pria! Enggak bisa ya lihat perempuan lengah sebentar, langsung dihajar aja. ish.” Kataku sambil menggunakan kembali pakaian dalam hitamku yang berhias renda.

Hahaha. Siapa suruh kamu tidurnya terlentang gitu, ngebuat aku tegang tahu!” Mario hanya tertawa dari balik selimut sambil menghisap kuat-kuat rokok putihnya.

Entah apa yang Mario sudah lakukan tadi, bagian pangkal pahaku terasa sedikit perih. Sudah pasti Mario bermain asal saat aku tak sadar. Barang sialan.

“Yang, barangnya kok gitu banget ya? Enak sih, awalnya. Tapi sekalinya drop, langsung ngedrop gitu aja. Nyebelin ya?”

“Iya, nyebelin. Sama kaya kamu!”

Hahaha. Masih aja dibahas, lagian juga kamu tadi ngerang-ngerang keenakan juga kok.”

Aku mendengus manja, memakai gaun hitamku kembali dan mengaitkan temali di belakang punggungku sendiri.

“Yang, kita party yuk? Ada party di Dejavu, yuk?”

Mataku nyalang dan tersenyum melihatnya dari cermin di depanku. “Ayo!” Segera kuambil sheer lipstick warna merah neon dari tas riasku yang tak jauh kuletakkan di dekat cermin dan kemudian memakainya.

Hubunganku dan Mario masih terbilang seumur jagung, kurang dari 4 bulan. Entah pantas atau tidak kusebut hubungan ini pacaran, sebab yang kami lakukan hanya berpesta dari satu klub ke klub lainnya, menggunakan segalam macam amfetamine dan bersetubuh tanpa kenal tempat dan waktu. Meski baru di bulan ketiga, Mario sudah memperlakukanku layaknya seorang puteri raja. Dibayarkannya aku sewa kamar berisi furniture modern yang sudah lengkap, dibelikannya aku kulkas, televisi layar datar, telepon selular keluaran terbaru, tas, baju, sepatu serta setumpuk uang saku. Tentu saja, untuk seorang bandar kelas kakap seperti dia, itu bukan hal yang sulit.

Pertemuan dengannya saat keluargaku lebih pantas kusebut sampah, adalah berkah. Aku merdeka, aku bahagia. Semua yang Mario pinta, adalah titah yang tak mampu kubantah. Dari pemilihan nama May untuk namaku –nama yang kubenci sebenarnya tapi baginya adalah nama kesayangan yang tak jauh dari namaku, warna Fanta untuk rambutku, lensa hijau untuk mataku, gaun yang kukenakan, pakaian dalam –dari warna dan bentuk, semua adalah keinginannya, sampai untuk keperawananku yang kuserahkan pertama kalinya. Aku tak mengenal kata “tidak.” Apapun yang Mario inginkan, itu yang dia dapatkan. Aku tak peduli jika disebut jalang, selama Mario senang.

**

Mario mematahkan setengah pil tu, memasukan setengahnya ke dalam mulutku dan setengahnya lagi ke dalam mulutnya. Mario menyerahkan segelas green tea untuk kuminum setelahnya, baru kemudian dilanjutkan olehnya.

“Aku ke belakang dulu ya, yang. Ada yang mau beli Vertigo, nih. Ehehe. Modal kita party ini malem.” Mario lekas meninggalkankanku di bangku bar dan menuju ke arah toilet belakang, tampat Mario dan ‘pelanggannya’ bertransaksi pil itu. Vertigo adalah sejenis ekstasi yang diproduksi sendiri oleh Mario sebulan yang lalu. Mario menamakan Vertigo sebab sensasi dari ekstasi ini serupa sensasi vertigo itu sendiri.

Musik progressive trance berdentum di klub malam ini. Semburan asap dari mulut-mulut manusia pencari kenikmatan dunia memenuhi seluruh ruang, tubuh yang tak henti bergoyang dan laser hijau yang buncah dari lampu disko yang berada di tengah-tengah dance floor. Semua menikmati malam, tak peduli dunia di balik pintu depan, yang kerap membuat mereka menggila tak karuan.

Satu persatu manusia –yang mengaku teman demi mendapat pecahan pil setan, biasanya mentraktirku segelas green tea sampai perutku kembung karena aku dengan mudahnya mengiyakan ajakan minum, dan tentu saja ujung-ujungnya mereka akan membujukku, untuk membagi pecahan pil yang mungkin kusimpan di balik pakaian dalamku. Di dunia semacam ini, kau perlu menggunakan banyak wajah agar diterima. Menerima ajakan minum, misalnya.

Kulihat dari seberang bar dari tempatku duduk, Rizal, salah seorang teman Mario. Ia melihatku, tersenyum dan melambaikan tangannya ke arahku.

Ah, Rizal mau apa dia berjalan ke arahku? Pasti ujung-ujungnya nanyain Vertigo atau Mario.

“Hey, Mar!”

Baiklah, satu poin yang membuatku tidak harus berpikiran buruk tentang Rizal; dia memanggil namaku dengan benar.

“Hey, Zal.”

“Kamu sendirian? Mario mana?”

“Biasa, di belakang. Kalau mau nyari dia ke belakang aja langsung, paling dia ada di sana.” Ucapku sedikit malas.

“Ah, entar sajalah. Aku duduk di sini ya?” aku mengangguk sekenanya. “Kamu mau minum lagi? Aku pesenin ya?” tanyanya lagi.

Gak usah, Zal. Aku udah mulai kembung nih, minum terus gak naik-naik. Ada tangga gak ya?”

“Hah? Tangga? Buat?”

“Biar cepet naik barangnya.”

Rizal yang baru sadar leluconku yang sangat garing itu, akhirnya terbahak. Aku tertawa bukan karena leluconku itu, tapi karena melihat orang bodoh yang tertawa karena leluconku yang sama sekali tidak perlu ditertawakan.

“Hey, Rizal.” Tiba-tiba seorang perempuan cantik  berambut ikal panjang berwarna merah, menyapa Rizal dari belakang.

“Hey, May! Kemana saja? Lama enggak kelihatan?” Rizal setengah terkejut melihat sosok cantik di belakangnya, yang ternyata dikenalnya juga.

“Iya nih, Summer Fahion di Singapura kan baru selesai, jadi baru balik ke Bali.”

Perempuan yang cantik, dengan gaun hitam yang memperlihatkan punggungnya yang putih mulus. Serta riasan smokey eyes dan bulu mata palsu yang pas sekali dengan lensa hijau lumut di matanya. Perempuan ini mirip sekali dengan…

“Oh gitu. Oh, iya. Ini kenalin, Mariah ini May, May ini Mariah.”

“Oh, hay. Kamu Mariah, pacar barunya Mario ya?” Sapanya. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan tatapannya melihatku dari atas hingga ke bawah.

“Hahaha. Iya. Halo, May.” Aku tersenyum mencoba menghargai apa yang entah perempuan ini pikirkan, dia hanya tersenyum sinis dan membuang pandangannya.

“Zal, aku ke toilet dulu ya. See ya.” May mengecup pipi Rizal sambil melirik sekilas ke arahku.

Okay, baiklah. Aku sudah benar-benar tidak nyaman dengan perempuan ini.

Rizal memperhatikan May sampai benar-benar jauh, kemudian ia menatapku sambil tersenyum.

“Kamu kenapa? Pasti sebel ya? Hehehe.” Rizal sepertinya sudah membaca pikiranku, aku hanya terdiam dan mendenguskan napas. “Dia itu mantannya Mario, bebarapa bulan yang lalu mereka putus karena May menolak ajakan Mario untuk menikah, padahal Mario udah sayang banget sama May. May menolak karena dia mau jadi model profesional. Menikah dan memiliki anak? Sudah pasti jadi kiamat bagi karirnya, kan? Hahaha.

Too much information, Zal. Aku engga perlu dan enggak mau tahu.”

Hmm, sorry.”

Aku mulai muak dengan pembicaraan ini, kuambil clutch bag di atas meja dan beranjak berdiri hendak meninggalkan meja bar.

“Mau kemana?” Tanya Rizal.

“Ke toilet, aku mau buang air kecil.”

“Oh, okay.”

Segera kutinggalkan meja bar itu, sebenarnya selain muak, aku juga mulai kesal dengan barang ini yang bereaksi lama sekali, meski sudah kupancing dengan banyak green tea dan mengikuti irama musik progressive dengan goyangan kepala dan kaki.

Kutelusuri gang manusia yang berdesakan di kiri dan kanan, mencari Mario yang mungkin terselip di sana. Sejauh mataku menjelajah, hampir semuanya berisikan adegan perempuan dengan potongan gaun yang sangat rendah –hampir memperlihatkan keseluruhan isi dadanya, bergoyang dengan tangan pria yang menelusuri tiap lekuk badannya. Belum lagi di bagian tergelap di pojok klub ini, tempat banyak sofa dan adegan tujuh belas ke atas bisa kautonton secara bebas. Perempuan-perempuan gratis dan pria-pria klimis.

Kadang-kadang aku muak dengan semua hal ini, mereka seperti badut ibukota yang entah siapa mereka hibur. Orang lain yang sanggup memberikan mereka surga duniawi atau mereka sendiri, manusia yang selalu merasa perlu dikasihani? Dengan gincu yang berlebih, pakaian serba mini dan wangi, pil setan yang perlu dibeli, dicari atau dibagi, tawa yang buncah dengan spektrum warna-warni dan segala kepura-puraan yang lain. Toh ketika sadar, dunia masih tetap bermasalah dan ini semua hanya akan jadi sia-sia.

Kepalaku mulai berputar, aku mulai senang karena akhirnya Vertigo ini bereaksi juga. Keinginanku mencari Mario kutahan, karena lebih baik menikmati barang ini sebelum akhirnya sensasinya pergi. Kucari sofa terdekat yang masih kosong, kusenderkan kepala dan menikmati dentuman musik yang kini sudah pindah ke kepala, badanku mulai berkeringat dingin dan gigiku mulai saling bergesekan. Sensasi dingin menelusuri kaki dan tanganku dengan cepat, spektrum laser kini pecah di balik kelopak mataku.

Damn, dia datang. Argh, dia datang!

Kumiringkan kepalaku, mencari posisi ternyaman untuk menikmati sensasi ini. Mataku terkatup-katup, mencuri warna laser yang buncah di seluruh ruang dan memasukkannya ke kepalaku. Berkali-kali hingga aku tersenyum-senyum seperti orang waras lainnya yang ada di klub ini. Diantara musik progressive trance, aku mendengar suara erangan seorang perempuan. Tak jauh rasaya. Kubuka mataku perlahan dan memaksanya melihat ke arah suara itu.

May?

Mataku semakin nyalang, ketika melihat pria yang sedang mencumbunya dengan sangat bernafsu di sofa sebelah. Ruang ini memang gelap dan setiap sofa hanya dibatasi terali besi yang tak lebih dari pangkal paha, tapi bukan berarti aku tak sanggup melihat siapa yang berada di seberang sana.

Mario?

Seketika aku merasa mual, segera kuberanjak dari sofa dan menuju toilet terdekat. Isi perutku seakan berdesakkan ingin keluar dari mulutku. Di dalam toilet, aku mencoba mengeluarkannya di wastafel, tapi gagal. Kunyalakan kran air dan kubasuh mukaku sekenanya, menghapus semua yang ada di wajah –meleburkan air mata sekaligus berharap semua yang kulihat adalah salah, kemudian kulihat cermin yang ada di depanku.

Aku menertawakan perempuan malang yang berdiri tepat di hadapanku, dengan lipstick merah yang sudah lumer ke segala arah, riasan mata yang sudah tak berbentuk lagi sebagai hiasan dan hidung yang memerah sebab menangis yang berlebih. Persis sekali seperti badut malang yang terkoyak oleh rasa sepinya. Menakutkan.

Aku masih saja tertawa. Tertawa untuk kebodohanku menyerahkan keperawananku, kepada orang yang bahkan masih mencintai mantan kekasihnya; tertawa untuk kebodohanku untuk menjadi seseorang yang orang lain inginkan; tertawa karena aku nyatanya adalah badut yang kerap kutertawakan di luar sana.

Kalau kaupikir badut adalah manusia paling palsu, bercerminlah.

1500 kata.

Ditulis untuk PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1