aku ingin menulis
september.
di rahim hari paling lamat
tanpa perlu mengingat lambat
perihal usai yang tak pernah mulai;
perihal jatuh, kemudian rapuh;
perihal hilang, kemudian terbuang.

aku ingin terlelap saja, tanpa
perlu takut terkesiap.
aku ingin berteruh saja, tanpa
basah apa-apa.
aku ingin diam saja dan tak
menanti segala.

sebab, september terlalu penuh
oleh luka menjelma tawa
serupa bahagia berduka lama
dan aku, terlalu jenuh
untuk sekadar mencinta
selayak musim lalu
memburu
bercumbu
sekadar bertamu

September,
kerap memaksaku layu.

potongan denpasar, 1 oktober 2013