Tags

SuratdiKantungMataku

SuratdiKantungMataku

Banyak bulan yang kulumat dalam jejak kaki, banyak lumpur yang kucoreng di muka sendiri. Bagaimana kabarmu, wahai perempuan yang digerus usia?

Menghiasi wajahmu dengan jemariku, membuatku lumpuh oleh ingatanku sendiri. Bagaimana waktu menjelma menjadi kerutan-kerutan di wajah itu –kerutan yang tak lebih banyak dari doa-doa yang kaugelar di atas sejadah tuamu; bagaimana sungai-sungai pernah tercipta dari kedua mata itu –sebab, kepalaku lebih keras dari suaramu; bagaimana musim keduapuluh menjadi tragedi yang patut kaurayakan – sebab, gadis kecilmu tak perlu lagi pulang ke pelukan siapapun, selain milikmu.

Sesekali, biarkan aku memelukmu. Mungkin pada tawa yang lahir di tengah ruang atau ketika amarah menjadi kurcaci-kurcaci nakal yang mencacah isi kepala. Pada sinar matamu yang redup, atau bibirmu yang  terkatup; aku tak perlu menjadi siapa-siapa selain aku. Kau, mencintaiku utuh.

Surat ini tak kan mampu kautemukan di laci atau saku celanaku, kusimpan rapat ketika lidah melupakan fungsinya mengapa seharusnya ada; ketika kertas dan pena hanya jadi budak nilai tukar rupiah; ketika kata-kata hanya letupan bara yang menyesal namun tak sanggup berbuat apa-apa.

Biarkan pada surat yang kusimpan dalam kantung mataku ini, menjadi celah bagi sayap yang kuhempas terlalu tingi untuk memelukmu; untuk mengucap syukur, mengapa menjadi milikmu adalah anugrah yang berlebih dari penciptaku.

Mungkin kelak, surat ini bisa kaubaca. Ketika lenganku berbicara; ketika detakku berdansa dengan doa-doa atau ketika air bah di dadaku menemukan senyum banggamu di kedua mata.

Di detik yang tak pernah kita tahu kapan akan berhenti, biarkan kakiku memilih. Percayalah, tak akan ada lagi musim yang kubiarkan beku dalam tangisan ngilu. Mungkin ini yang keseribu, ketika inginku lebih getir dari senggama sang petir yang menggebu.

Tapi percayalah, ibu.

Aku mencintaimu.

 

 

Tertanda,

Gadis kecilmu yang kerap (melupa) pulang.